Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini

Wiratmo Soekito

Dengan pemikiran sastra bukan puisi, novel ataupun sudah tentu yang kita maksud cerpen, tetapi lebih berkenaan dengan kritik dalam berbagai bentuknya, atau dengan sendirinya tidak masuk dalam kategori seni. Sebab seni itu tidak menguraikan, melainkan menyatakan, sehingga seni itu tidak memerlukan argumen atau alasan. Seorang seniman menurut hemat kita boleh tidak logis, malahan seorang seniman dalam menyatakan seninya boleh “sinting” atau “gila”. Continue reading “Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini”

Universalitas daripada “Humanisme Universal”

Bur Rasuanto

Sebuah pembahasan tentang konsep “humanisme universal” telah dibuat oleh seorang penulis Soviet Leonid Novichenko dan dimuat dalam bulanan Soviet Literature No. 8, Agustus 1963 yang lalu. Di bawah judul “Seorang Manusia, Seorang Komunis”, penulis Soviet ini menandaskan pada awal tulisannya, bahwa konsep “kemanusiaan universal” sesung­guhnya tidaklah pernah terpisah dari paham Marxisme. Continue reading “Universalitas daripada “Humanisme Universal””

Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia

Sumber: Asrul Sani: Surat-Surat Kepercayaan
Pramoedya Ananta Toer

Pokok-pokok pikiran ceramah pada Seminar Sastra yang diadakan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tanggal 26 Januari 1963. Pelopor yang dianggap bapak realisme-sosialis adalah Maxim Gorki. Tanggal timbulnya tak dapat ditentukan dengan pasti, tetapi kira-kira tahun 1905. Istilah realisme-sosialis itu sendiri baru timbul kira-kira tiga puluh tahun kemudian, yakni melalui ucapan Andrei Zhdanov di hadapan Kongres I Sastrawan Soviet di Moskwa pada tahun 1934. Continue reading “Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia”

Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia *

Nur St. Iskandar

“Bahasa menunjukkan bangsa,” kata pepatah kita. Meskipun arti kiasannya yang sebenarnya: “Budi-bahasa yang halus alamat orang baik dan tutur-kata yang tak senonoh menunjukkan asal bukan orang bangsawan, bukan orang yang berbangsa baik,” akan tetapi dalam uraian pembuka kata ini, saya ambil maknanya yang umum, yaitu makna sepatah-patah kata itu. Jadi kita sekalian berbahasa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa kita bangsa Indonesia, orang Indonesia sejati, walaupun asal-usul kita menurut daerah kelahiran kita masing-masing boleh dikatakan berlain-lain, berbeda-beda jua. Dan bahasa daerah itu pun berlain-lain dan berbeda-beda pula. Continue reading “Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia *”