Menulis untuk Keabadian

Kadir Ruslan *

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer).

Tak terasa 30 September lagi, dan kali ini merupakan ulangan yang ke 47. Ingatan kita tentu bakal kembali tertuju pada apa yang terjadi 47 tahun silam. Tentang potret suram nan kelam perjalanan panjang sejarah negeri ini, tentang bagaimana darah anak negeri tumpah hanya untuk kemenangan sebuah idiologi: komunis. Continue reading “Menulis untuk Keabadian”

Sastrawan Asal Blora

Galang Ari P.

“Pramoedya Besar karena Kegelisahan. Pramoedya Menulis karena Kegelisahan. Pramoedya Mati karena (tidak lagi) merasakan Kegelisahan, dalam Hidup.”

Sastrawan yang bernama lengkap Pramoedya Ananta Toer ini yang kerap disapa Pram. Pria kelahiran 6 Februari1925 dari Blora ini memang sangat sering diperbincangkan di ranah sastra Indonesia. Karya-karyanya yang sangat mutakhir banyak dikritik dan dinilai sangat berani dalam menulis karya sastra. Hasil tulisannya yang lahir berupa novel, cerpen, dan naskah drama mempunyai andil dalam perkembangan sastra Indonesia dari zaman kolonial hingga masa kini. Continue reading “Sastrawan Asal Blora”

INTI EKSPRESI PUISI ADALAH SINTAKSIS, BUKAN KATA

Ahmad Yulden Erwin

Dalam konteks ekspresi puitik, inti puisi itu bukan di kata melainkan sintkasis puitik–baik klausa maupun kalimat. Ada banyak jenis sintaksis puitik dalam teknik perpuisian dunia tergantung ars poetica yang mendasarinya, di antaranya: sintaksis puitik klasik, sintaksis puitik romantik, sintaksis puitik ekspresionistik, sintaksis puitik imajistik, sintaksis puitik impresionistik, sintkasis puitik surealistik, hingga sintaksis puitik abstrak. Setiap sintaksis puitik memiliki “ciri” tekniknya sendiri. Continue reading “INTI EKSPRESI PUISI ADALAH SINTAKSIS, BUKAN KATA”