PERIBAHASA DAN BUDI-PEKERTI BANGSA

Iman Budhi Santosa
Jurnal Kebudayaan The Sandour

Dalam sebuah sinetron yang ditayangkan stasiun teve swasta (8/12/05), terdapat adegan di mana tokoh utamanya (seorang direktur perusahaan) sedang bertengkar dengan isterinya, karena ia ingin membantu usaha adiknya yang hampir bangkrut. Hal itu dimaksudkan sebagai balas jasa, karena dulu dirinya juga pernah dibantu ketika perusahaannya sedang mengalami masalah. Untuk memperkuat argumentasinya, ia mengutip peribahasa “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Sang isteri yang tetap tak menyetujui rencana itu tiba-tiba menyergah dengan sengit. Baca selengkapnya “PERIBAHASA DAN BUDI-PEKERTI BANGSA”

SENI DAN REVOLUSI

Nurel Javissyarqi*

Seni ditentukan oleh masanya (Albert Camus).
Kita ketahui ada seni musik, tari, karawitan, pedalangan, perdagangan pun berperang. Seni belah diri, melukis, pahat, drama, penulisan, percintaan, politik, mengajar dan masih banyak lagi.

Seni menelusup ke segenap bidang, dicipta dari orang-orang berbakat yang istikomah dalam menjalani pilihannya. Lalu kita mengambil, mengangkatnya sebagAi ilmu. Baca selengkapnya “SENI DAN REVOLUSI”

KRITIK “SAKIT” SASTRA INDONESIA

Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008
Liza Wahyuninto

Pada tahun 1950, beberapa ahli sastra beranggapan bahwa kesusastraan mengalami kemunduran. Salah satu tokoh yang berpandangan bahwa kesusastraan Indonesia mengalami kemunduran adalah Sujadmoko. Dalam esainya yang berjudul Mengapa Konfrontasi, Sujadmoko melihat adanya krisis sastra akibat adanya krisis kepemimpinan politik. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sastra Indonesia mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpen-cerpen kecil yang menceritakan psikologisme semata-mata. Baca selengkapnya “KRITIK “SAKIT” SASTRA INDONESIA”