Pentigraf 13-14 Siwi Dwi Saputro

13. Aku Yang Selalu Mendoakanmu, Walau Aku Tak mengenalmu

“437. Kalau tiada yang mengenal, lalu siapa yang sudi mendoakan aku.”

Mendung. Hampir hujan, tapi belum. Sesuatu yang menggantung, segala yang menggantung, memang selalu menyisakan beban. Ingin aku mengusapkan jemariku, membelai pipinya yang ranum mengandung zat cair. Ingin sekali aku meyakinkan dia, menyemangatinya, bahwa dukanya pasti akan berakhir. Tak perlu resah. Rintik hujan pasti akan membasahi bumi, dan bumi memerlukannya. Continue reading “Pentigraf 13-14 Siwi Dwi Saputro”

11-12 Pentigraf Siwi Dwi Saputro

11. Hikayat Camar Dan Ombak

“257. Lihatlah bagaimana burung camar bermain mengantisipasi ombak sambil memikat.”

Di sini. Di pantai ini. Di Mercusuar yang dahulu menjadi kebanggaan. Kini menjadi legenda. Engkau memilihku untuk kau damparkan di sini. Sendiri. Engkau memilihku untuk menjadi segala yang kau inginkan. Aku terima. Aku cinta. Aku sayang. Namun kini yang ada tinggal kenangan. Dan tentu saja rindu. Continue reading “11-12 Pentigraf Siwi Dwi Saputro”

6-7 Pentigraf Siwi Dwi Saputro

6. Perempuan Pemecah Batu Di Kaki Gunung Merapi

“116. Seorang pemecah batu harus tahu serat-serat batu.”

Dari Perempuan itu, yang selalu memecah batu-batu, di sepanjang jalan menuju Kinahrejo, di kaki lereng Merapi, aku belajar banyak. “Kau harus tahu serat-seratnya” katanya pada suatu senja, ketika bunga-bunga mulai menebarkan wangi yang tak biasa. Kabut pun turun. Bunga kopi mengajakku menari bersama harumnya. Meliar aku. Continue reading “6-7 Pentigraf Siwi Dwi Saputro”