Category Archives: Prosa

Gadis di Kereta

Hasnan Bachtiar *

AKU harus terdiam di sini, di tengah kegalauan yang semakin memburu jiwa, terombang-ambing gelombang mimpi buruk yang menghantuiku. Entah mengapa aku selalu berpikir, “mengapa kehidupan itu kacau sekali”. Aku tak bisa menebaknya. Menebak masa depan terlalu sulit.

Resahku, sayup-sayup meneror telinga bayi-bayi yang kesepian. Seperti tega untuk menhunjamkan belati bertubi di jantung yang merah merekah. Pastinya, semburat darah hangat, begitu berat tak terelak.

Padamulanya Banyuwangi

Prosa ini untuk almarhum guruku, Hariwidjaja.
Hasnan Bachtiar *

Oh umat manusia? hiruplah harum ranum risalah Muhammad yang mulia, saksikan wujud pancaran Allah Yang Ilahi. Oh umat manusia? ciumlah manisnya bibir lelaku budi pekerti yang membebaskan sesama, tersenyumlah tuk raih ajaran shalat yang terpuji, relakan hatimu pahami kisah cinta dalam prosa yang sunyi senyap tiada melenyap bahkan merasuki ruhul qudus, insan kamil cermin Sang Hyang Ilahi.

Engkau & Sang Lain

Tia Setiadi
http://pawonsastra.blogspot.com/

Why should the aged eagle stretch its wings?
(T S. Elliot)

Sahabat, pernahkah engkau memperhatikan bunga teratai merah yang telah tumbuh dibawah air dan tiba-tiba mencuat kepermukaan kolam? Begitulah sebuah fragmen kepribadianmu tampil mengukuhkan presensinya diantara fragmen-fragmen lain, seperti sepotong langit yang melukis kebiruannya sendiri. Kebiruan yang dilukis itu adalah Wajah Sang Lain yang menyingkap sekaligus melenyap.

Kupu-kupu

Abdul Aziz Rasjid

Tetanggaku yang cantik,
Dalam deras hujan begini tak mungkin aku dapat menangkap kupu-kupu untukmu (yang pernah kau ceritakan padaku, hinggap sebentar dalam kamarmu). Karena itulah, dengan keinginan sama, yang bisa kulakukan untukmu adalah menangkap kupu-kupu lewat sebuah sajak. Tapi sebelum kulakukan itu, ijinkan aku mengurai secara ringkas tentang kehidupan kupu-kupu.

Prosa-Prosa Fatah Yasin Noor

Tak Ada Gerhana

Itulah teks yang sarat kandungan sepi yang mencekam. Padahal kami tak punya kecurigaan apa pun pada nasib. Tentu saja masing-masing dari kami sudah punya anak. Mereka senang berlarian di halaman rumah. Apakah kelak mereka akan jadi penyair, misalnya, kami tak tahu. Kami tidak menyerahkannya kepada takdir. Daya dan upaya kami sudah maksimal. Hanya tema-tema kesepian yang sanggup meluluhkan perasaan kami.