<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sastra-Indonesia.com</title>
	<atom:link href="http://sastra-indonesia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sastra-indonesia.com</link>
	<description>Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 11:05:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Maulid Nabi dan Pencerahan</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/maulid-nabi-dan-pencerahan/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/maulid-nabi-dan-pencerahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 11:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Aguk Irawan Mn]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22043</guid>
		<description><![CDATA[Aguk Irawan MN Republika, 16 Mei 2004 Dalam literatur sejarah Arab ada satu zaman yang paling busuk. Saat itu hukum rimba telah menjadi merk kehidupan masyarakat. Orang kaya menindas orang miskin; penguasa bertindak semena-mena; yang kuat mempermainkan yang lemah; dan kaum wanita diperlakukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu seksual kaum laki-laki belaka. Bahkan pemberian Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aguk Irawan MN<br />
Republika, 16 Mei 2004</p>
<p>Dalam literatur sejarah Arab ada satu zaman yang paling busuk. Saat itu hukum rimba telah menjadi merk kehidupan masyarakat. Orang kaya menindas orang miskin; penguasa bertindak semena-mena; yang kuat mempermainkan yang lemah; dan kaum wanita diperlakukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu seksual kaum laki-laki belaka. Bahkan pemberian Tuhan akal yang paling berharga, hampir tak diberi hak untuk berpikir. Jazirah Arab pada saat itu memang dalam puncak kegelapan dan kerendahan moral.<span id="more-22043"></span></p>
<p>Sayyid Qutub di dalam bukunya Ma&#8217;alim fit Thariq melukiskan zaman yang paling getir itu, bahwa kedzaliman menjadi suatu keharusan. Kebodohan dan kesombongan sebagai simbol kebesaran. Minuman yang memabukkan, bukan hanya kebiasaan, melainkan alat menuju kebahagiaan. Perjudian merupakan salah satu kebanggaan dan pekerjaan yang bergengsi dalam kehidupan. Tidak turut dalam perjudian akan dipandang hina, yang menjatuhkan martabat dan harga diri seseorang. Sedemikian gemarnya mereka berjudi sehingga istri sendiri pun dijadikan taruhan. Kehidupan mental-spiritual masyarakat Arab pada saat itu memang menunjukkan kebodohan yang paling tolol. Berhala atau patung ciptaan sendiri dipujanya tak henti sebagai Tuhan, sore, siang, malam dan pagi. Inilah masyarakat jahiliyah, yaitu masyarakat yang diliputi kebodohan dan kejahilan. Masa jahiliyah juga masa di mana egoisme suku, monopoli gender, eksploitasi sosial, otoritas kelompok, terus terpupuk dalam interaksi sosialnya.</p>
<p>Namun di balik kebodohan yang paling tolol. Dalam tradisi masyarakat jahily ada yang paling pintar, bahkan kepintarannya belum dimiliki oleh kebudayaan umat dan bangsa manapun saat itu. Kepintaran ini telah masuk ke segala lini struktur kehidupan. Kepintaran itu adalah dalam hal mencipta karya sastra. Para pengamat sejarah sastra klasik tak ada sedikitpun yang ragu, bahwa tokoh-tokoh penyair jahily seperti Imru al-Qays, Ka&#8217;ab ibnu Zuahair, Amru bin Kultsum, al-Harits, Hatim al-Tha&#8217;i, Qays bin Mulawwih, Labid bin Rabi&#8217;ah, Tharfa bin &#8216;Abd, Zuhair bin Salma, adalah para penyair ulung sebelum lahirnya peradaban dunia. Karya-karya mereka digantung di dinding Ka&#8217;bah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku dan ras yang mengalir pada darahnya.</p>
<p>Namun, keberadaan sastra itu ada yang ganjil, ia tidak muncul dan berperan sebagai kebudayaan, dan bisa menunjukkan kepribadian Arab, bahwa ia mempunyai peradaban yang tinggi, tidak! Namun sebaliknya sastra diperankan sebagai alat pemuas hawa nafsu. Penyedap minuman keras dan penambah gairah seks malam. Lantunan syair yang indah itu selalu mengiringi di meja-meja syahwat dan tarian perempuan telanjang yang menggelikan. Bahkan sastra telah dikomersialkan di pasar-pasar rombengan. Melalui syair pujian-pujian yang dipersembahkan penyair untuk konglemerat dan penguasa suku yang melintas di jalan.</p>
<p>Pada denyut zaman yang buram seperti itulah seorang bayi pada tanggal 12 Rabi&#8217;ul awwal atau 21 April 571 Masehi keluar dari rahim Siti Aminah. Ia bernama Muhammad. Tahun kelahiran ini, oleh bangsa Arab, disebut &#8220;tahun gajah&#8221;, sebab kala itu serdadu-serdadu Abrahah yang berkendaraan gajah dari Yaman dengan gegap gempita menyerbu kota Makkah untuk menghanguskan Ka&#8217;bah. Namun ada suatu keajaiban yang luar biasa nampak dengan tiba-tiba dari pemandangan langit, segerombolan burung Ababil terbang dengan gemetar membawa beribu-ribu batu dan kerikil panas, lantas dengan kepak sayapnya ia melempar tajam dari berbagai penjuru ke arah serdadu-serdau itu, dan akhirnya serdadu-serdadu berpasukan gajah itu lari tunggang langgang. Keajaiban ini di luar strategi Abrahah untuk menghancurkan Ka&#8217;bah.</p>
<p>Muhammad lahir dan menjadi Rasul, ia tidak sendiri, tapi ia bersama Alquran sebagai mukjizatnya, yang ketika ada tidak saja sebagai pesaing sastra jahily yang ulung, tapi juga menunjukkan arah kepada kebangkitan kebudayaan Arab dan meletakkan dasar kebudayaan yang melahirkan peradaban Islam di kemudian hari. Syauqi Dloif, di dalam bukunya Tarikh Al-Adab Al-Araby fi Al-&#8217;Ashri Al-Jahily berpendapat bahwa Nabi Muhammad telah membawa pengetahuan sastra dan peran sastra yang sesungguhnya, dan dari sanalah kebudayaan Arab akan terlahirkan. Karena kehadiran Muhammad, syi&#8217;ir al-ashru al-jahily (sastra masa jahiliyah), bisa menuju asru sodri al-Islam (masa pembentukan Islam), kemudian mengilhami kejayaan sastra asru bani umayyah (masa bani umayyah), asru al-abbasy (masa abasiyah), asru al-mamalik (masa mamalik), serta asru al-haditsy wa an-nahdhoh (masa modern dan kebangkitan Islam).</p>
<p>Muhammad dengan Alquran telah meruntuhkan tema serta struktur yang ada dalam sastra Arab jahiliyah. Kemudian dengan kekuatan keindahan bahasa yang tak tertandingi itu, telah menunjukkan gambaran dan memberikan kekuatan bahwa Alquran memiliki sosiologi bahasa yang sebagian besar belum tersentuh oleh tema-tema penggunaan bahasa pada masa jahiliyah. Keadaan ini menjadi gejala positif terhadap revolusi bahasa arab yang sebelumnya kurang tersentuh dalam beberapa tema yang memberikan identitas moral budaya dan bahasa serta penggunaan struktur kebahasaan arab. Sastra memang seperti lahir kembali bersama lahirnya Muhammad, sebab setelah sekian lama sastra telah diperlakukan sebagai alat penyedap hawa nafsu belaka, telah berubah menjadi sesuatu yang terkait dengan etika dan semangat perjuangan. Hal demikian terbukti pada karya Hasan bin Tsabit yang selalu mengiringi spirit juang melawan kaum kafir, serta karya Zuhair bin Salma yang bisa memberi obat penentram dan berbuat sabar dalam menegakkan risalah Tuhan bersama Nabi. Sehingga aliran sastra yang berkembang telah berani mendobrak kemacetan budaya yang gelap.</p>
<p>Muhammad membangun kehidupan baru di atas puing kemanusiaan yang sudah hancur, porak poranda dan berkeping. Manusia tak bertuhan menjadi beriman; yang tak berakal menjadi berpikir; yang sombong dan angkuh menjadi tahu diri serta sadar. Yang kuat menjadi penyantun. Kemanusiaan yang telah mati menjadi hidup kembali, bahkan dapat memberikan sinar terang kepada dunia. Pola hidup, yang meraba-raba dalam gelap memperoleh cahaya yang memandu umat kepada jalan yang lurus. Ia pembawa obor yang memberikan sinar terang. Singkatnya ia berhasil mencerahkan kebudayaan Arab yang buta, sekaligus menyegarkan kembali sisa-sisa kemanusiaan yang sudah layu dan memberinya roh baru, sehingga menyalalah kembali api yang telah padam. Maka tak mengherankan bila Michael H. Hart kemudian memilih Muhammad (570 SM &#8211; 632 SM) sebagai tokoh pertama yang paling berpengaruh sepanjang sejarah peradaban.</p>
<p>Terbangnya burung Ababil dan lahirnya Muhammad, mungkin suatu pertanda suara Tuhan. Bahwa kegelapan di muka bumi yang sungguh terlalu, akan tercerahkan. Muhammad, dialah yang kemudian Tuhan pilih sebagai seorang Rasul, pembawa risalahNya, kepadanya Tuhan turunkan Alquran sebagai petunjuk jalan kehidupan. Sejak itu muncul sebuah zaman baru yang sangat mengagumkan bagi bangkitnya kebudayaan. Manusia yang benar-benar manusia, tunduk kepada Tuhan penciptanya dan pencipta segala makhluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kedzaliman dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras tak lagi diperbolehkan, kerena merusak akal dan kejahiliahan diperangi dan dimusnahkan.</p>
<p>Kemudian setelah kelahiran itu, jutaan bibir setiap hari mulai merayap mengucapkannya, jutaan jantung setiap saat berdebar dan berdenyut memantulkan namanya. Bibir dan jantung yang bergerak dan berdenyut sejak seribu empat ratus limapuluh tahun. Dengan nama yang begitu mulia, berjuta bibir akan terus mengucapkan, berjuta jantung akan terus berdenyut, sampai akhir zaman.</p>
<p>Kairo, 12 rabiul Awal 1425<br />
Dijumput dari: http://duaduka.blogspot.com/2005/06/maulid-nabi-dan-pencerahan.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/maulid-nabi-dan-pencerahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merayakan Lebaran di Jerman</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/merayakan-lebaran-di-jerman/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/merayakan-lebaran-di-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 10:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>
		<category><![CDATA[Yusri Fajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22040</guid>
		<description><![CDATA[Yusri Fajar * http://www.surya.co.id/ Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, berlebaran di kampung halaman selalu dinantikan. Selain menjadi tradisi sakral, mudik juga bagian dari upaya menjaga ikatan dengan daerah asal. Apalagi jika sanak saudara dan keluarga berada di kampung. Para pendatang yang tinggal di kota-kota besar, ketika mudik ke kampung yang jauh dari keramaian, secara tidak langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yusri Fajar *</p>
<p>http://www.surya.co.id/</p>
<p>Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, berlebaran di kampung halaman selalu dinantikan. Selain menjadi tradisi sakral, mudik juga bagian dari upaya menjaga ikatan dengan daerah asal. Apalagi jika sanak saudara dan keluarga berada di kampung. Para pendatang yang tinggal di kota-kota besar, ketika mudik ke kampung yang jauh dari keramaian, secara tidak langsung menegaskan identitas sebagai pendatang yang menggantungkan harapan di kota. <span id="more-22040"></span>Mereka berbondong-bondong mudik, meninggalkan wilayah metropolitan, menuju wilayah-wilayah pinggiran. Dengan ritual mudik, kota dan desa terhubung dalam jalinan silaturahmi. Meski pasca mudik, desa seringkali termarjinalkan dan tetap mendapat julukan ‘udik’.</p>
<p>Ketika sebagian besar orang-orang berlebaran di tanah air, nun jauh di sana, ada sebagian masyarakat Indonesia yang tenggelam dalam rasa rindu, menghayati gema takbir di masjid-masjid negeri Jerman. Mereka berusaha mengingat kampung halaman. Para diplomat, mahasiswa, peneliti, wartawan dan beberapa kelompok pendatang dari Indonesia di mancanegara tidak bisa merasakan mudik secara fisik. Namun pada hakikatnya hati mereka mudik ke tanah air.</p>
<p>Ketika saya tugas belajar di Jerman, mulai tahun 2008 sampai 2010, saya tak bisa merasakan suasana Lebaran dan budaya mudik di Indonesia. Biaya mudik fisik ke Indonesia mahal. Berlebaran di Jerman menjadi pilihan penuh pengalaman.</p>
<p>Suasananya jelas berbeda. Di Indonesia acara mengunjungi tetangga untuk bersalam-salaman, menikmati hidangan dan bercengkrama menjadi pemandangan di berbagai kota dan desa. Di Frankfurt dan Bayreuth, dua kota Jerman tempat saya pernah tinggal, perayaan Lebaran dilakukan di Masjid dan Kedutaan Besar RI setelah Salat Id.</p>
<p>Yang perlu disyukuri adalah ada teman-teman dari Indonesia yang menghadirkan tradisi Lebaran dengan membuat makanan dan jajanan khas Lebaran, sehingga nuansa berlebaran di tanah air bisa sedikit dirasakan.</p>
<p>Jika menggunakan baju baru saat Lebaran di Indonesia menjadi bagian dari budaya berlebaran, di Jerman banyak orang Indonesia yang tak lagi memedulikannya. Tak ada teman sesama pendatang yang akan mengomentari pakaian. Di Indonesia, pakaian baru saat Lebaran menjadi representasi ‘gengsi’, pencapaian finansial, dan tradisi Lebaran. Makanan dan baju mencerminkan kebudayaan yang berhubungan dengan gaya hidup dan kebiasaan.</p>
<p>Di masjid-masjid Jerman, suasana Lebaran lebih bernuansa multikultural. Hal ini tidak terlepas dari heteregonitas pendatang dari berbagai belahan bumi. Latar belakang mereka juga beragam. Ada yang mahasiswa, pencari suaka politik, korban peperangan, pekerja, sampai mereka yang bermigrasi karena menikah dengan orang-orang asli Jerman.</p>
<p>Mereka, termasuk saya dan teman-teman dari Indonesia, disatukan dalam solidaritas sesama pendatang yang mempraktikkan budaya dan ritual keagamaan yang telah mengakar sejak tinggal di negeri sendiri. Perasaan sama sebagai pendatang itulah yang membuat suasana menjadi akrab.</p>
<p>Dalam pertemuan dan ramah tamah yang biasanya dilaksanakan setelah Salat Id, berbagai cerita dari para pendatang mengalir saat menikmati hidangan. Dalam Lebaran di sebuah masjid yang dikelola para pendatang dari Turki yang pernah saya ikuti, acara ramah tamah diiringi irama musik timur tengah yang dimainkan oleh beberapa mahasiswa dan pendatang asal Turki. Dalam percakapan-percakapan dengan para pendatang saya pernah mendengar kisah seorang warga Turki yang terusir dari negaranya, berbeda pandangan dengan rezim yang berkuasa. Meskipun demikian, orang-orang Turki mayoritas masih setia menjalankan kebudayaan negeri mereka. Musik, makanan dan berbagai isi percakapan dalam suasana Lebaran di negeri Jerman mencerminkan kerinduan akan budaya sendiri dan membuktikan bahwa meski tinggal di negeri orang, budaya sendiri tak akan mudah tergantikan.</p>
<p>Suasana Lebaran di negeri seberang, tidak hanya dirasakan oleh pendatang. Komunitas pendatang biasanya mengundang warga asli Jerman untuk bergabung. Maka perayaan Lebaran menjadi media integrasi budaya. Penerimaan warga asli itulah yang menyadarkan saya bahwa ada orang-orang asli Jerman yang dengan senang hati menerima pendatang.</p>
<p>Meskipun fenomena kerusuhan dan diskriminasi terhadap pendatang di beberapa negara Eropa, menunjukkan bahwa ada juga yang belum bisa menerima eksistensi imigran. Padahal jika orang-orang asli Eropa paham, salah satu pesan yang ditanamkan dalam hati pendatang adalah pesan menjaga persaudaraan di negeri orang. Dan pesan ini adalah bagian dari tradisi Lebaran yang damai, saling menerima dan memaafkan. Walaupun bumi Asia-Afrika, asal para pendatang, dan Eropa pernah terlibat perang, perseteruan dalam jaman penjajahan hingga era sekarang, tak ada salahnya untuk bermaaf-maafan lalu menghentikan segala bentuk prasangka negatif, diskriminasi dan dominasi. Mungkinkah?</p>
<p>2 September 2011<br />
*) Alumnus Uni Bayreuth Bayern Jerman/Pengajar Sastra FIB Unibraw Malang. yusfasastra@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/merayakan-lebaran-di-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antologi Puisi Negeri di Atas Langit: Kupu-kupu untuk SBY</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/antologi-puisi-negeri-di-atas-langit-kupu-kupu-untuk-sby/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/antologi-puisi-negeri-di-atas-langit-kupu-kupu-untuk-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 10:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Mustafa Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22038</guid>
		<description><![CDATA[Mustafa Ismail * http://www.suarakarya-online.com/ Kupu-kupu yang lucu kemana engkau terbang hilir mudik mencari bunga yang kembang untuk mengisap madu dan sarinya Itu adalah puisi yang ditulis oleh Soeryadarma Isman, penyair cilik dari Padang Panjang, Sumatera Barat, dalam buku &#8220;Negeri di Atas Langit&#8221;. Buku yang menghimpun karya tiga penyair cilik, selain Soeryadarma, ada Shania Azzira dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mustafa Ismail *</p>
<p>http://www.suarakarya-online.com/</p>
<p>Kupu-kupu yang lucu<br />
kemana engkau terbang<br />
hilir mudik mencari<br />
bunga yang kembang<br />
untuk mengisap madu<br />
dan sarinya<span id="more-22038"></span></p>
<p>Itu adalah puisi yang ditulis oleh Soeryadarma Isman, penyair cilik dari Padang Panjang, Sumatera Barat, dalam buku &#8220;Negeri di Atas Langit&#8221;. Buku yang menghimpun karya tiga penyair cilik, selain Soeryadarma, ada Shania Azzira dan Shalsabilla Oneal Dhiya Ulhaq itu diluncurkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sabtu 31 Desember lalu.</p>
<p>Kegiatan itu dibarengi dengan seminar &#8220;Cara Dahsyat Menembus Media dan Menerbit Buku&#8221; dengan pembicara Mustafa Ismail (saya) dan Muhammad Subhan, penulis novel &#8220;Kabut Rinai Singgalang&#8221;. Kegiatan itu diikuti sekitar seratus lima puluh peserta yang sebagian besar anak-anak muda dan mahasiswa dari berbagai kota di Sumatera Barat, seperti Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, dan lain-lain. Sebagian lainnya para guru.</p>
<p>Nah, peluncuran &#8220;Negeri di Atas Langit&#8221; menyedot perhatian sendiri. Maklum, mereka adalah anak-anak yang masih duduk di kelas dasar. Soeryadarma, misalnya, adalah pelajar kelas IV SD Negeri 01 Guguk Malintang, Padang Panjang Timur. Bocah kelahiran Beureunuen, Pidie, Aceh, 17 Maret 2002 ini menyertakan 50 puisi dalam buku itu. Ia adalah putra penyair asal Aceh, Sulaiman Juned, yang jadi dosen teater di ISI Padangpanjang. Ia kerap memenangkan lomba baca puisi, termasuk sering ikut membaca puisi dalam berbagai kegiatan.</p>
<p>Lalu Shania Azzira adalah pelajar kelas V SD Negeri 08 Ganting Gunung, Padang Panjang. Ia lahir di Padang Panjang pada 7 September 1999. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya Beni Federico dan ibunya Ariftawinis. Gadis kecil ini sejak kecil sudah senang menulis dan kerap memenangkan lomba baca puisi, termasuk menyanyi dalam bahasa Inggris dan peragaan busana muslim. Shania menyertakan 49 puisinya dalam kumpulan ini.</p>
<p>Penyair cilik terakhir adalah Shalsabilla Oneal Dhiya Ulhaq, lahir di Bogor 13 November 2000. Ia adalah pelajar SDN 03 Teladan Padangpanjang. Dalam buku ini, ia menyertakan 49 puisi. Shalsabilla bersama Soeryadarma dan Shania belajar menulis dan membaca puisi di Komunitas Kuflet, Padang Panjang, yang dibina Sulaiman Juned. &#8220;Saya mengajak mereka menulis sambil bermain-main,&#8221; kata Sulaiman ketika acara peluncuran buku itu.</p>
<p>Puisi-puisi mereka cukup menarik. Dengan gaya bertutut yang khas anak-anak, mereka menyorot berbagai hal, yang terkadang hal itu sudah menjadi sangat &#8220;biasa&#8221; buat orang dewasa. Saking biasanya, membuat orang dewasa menjadi kurang peka dengan itu. Sebut saja puisi berjudul &#8220;Rumah Sakit&#8221; misalnya, yang mengkritik betapa masih terjadi praktek diskriminatif dalam pelayanan kesehatan antara kaya dan miskin.</p>
<p>Ia pun menulis begini: &#8220;&#8230; aku saksikan orang-orang miskin/ terlantar dan tidak diperdulikan&#8221;. Lalu dalam bait terakhir Soeryadarma menulis: &#8220;Tuhan, apakah sakit tidak boleh dimiliki/oleh orang-orang miskin?&#8221;</p>
<p>Bagaimana bisa muncul puisi semacam ini? Sulaiman, sang ayah, bercerita &#8211; sambil kami mengobrol ringan di Komunitas Kuflet &#8211; suatu hari Soeryadarma bersama ibunya mengantar ayahnya ke rumah sakit. Lalu, ia melihat seorang lelaki parlente menyerobot. Sementara ada seorang ibu tua, yang tampak dari kalangan kurang mampu, sudah lama mengantri tapi belum dilayani.</p>
<p>Soeryadarma bertanya: kenapa Bapak itu bisa mudah masuk tanpa mengantri? Lalu, ia pun menulis kesaksian itu dengan cara yang polos dan apa adanya. Hal itu pula yang dilakukan oleh kedua penyair cilik lainnya, Shania dan Shalsabilla. Shania, misalnya, menulis tentang rokok. Dalam puisi berjudul &#8220;Rokok&#8221; mengajukan protes, antara lain, dalam larik-larik ini: &#8220;Kau teroris tak terduga/Penipu, membahayakan segalanya.&#8221;</p>
<p>Lagi-lagi, tentu saja, ia berangkat dari kesaksiannya terhadap sekelilingnya, betapa orang-orang terus merokok tanpa memperhatikan efek kesehatan yang ditimbulkannya. &#8220;Pada siapa kuharus berkata/semua orang tampak senang menghisapmu.&#8221; Di ujung kegelisahaannya ia berteriak lebih kencang: &#8220;Jangan tertipu oleh sang penggoda.&#8221; Larik ini, harusnya, begitu menohok orang dewasa. Berbagai perngatan kesehatan ternyata tak juga menghentikan orang merokok.</p>
<p>Kepekaan. Tampaknya itulah yang mengantarkan ketika bocah ini sampai pada sikap kritis, yang terkadang seperti hendak menyerang orang dewasa. Apalagi ketika hal itu disampaikan dengan bahasa mereka yang polos dan sederhana, tanpa berusaha untuk tampil bersulit-sulit atau terperosok dalam teori-teori sastra sebagaimana halnya para penyair dewasa. Mereka sama sekali menulis secara rileks dan lepas, tidak merasa dibebani oleh konvensi-konvensi dalam berpuisi. Mereka hanya berusaha untuk jujur mengungkapkan apa yang mereka saksikan, pikirkan, dan rasakan. Inilah yang membuat puisi mereka menjadi begitu jernih. Pembaca seperti diajak bermain-main ke tepi kolam dengan air yang bening lalu menyaksikan sesuatu di dasar kolam itu dengan mata telanjang.</p>
<p>Terkadang, mereka seperti hendak mengingatkan orang tua, terhadap sesuatu yang remeh-temeh, yang mungkin buat kita tidak terlalu penting dibahas. Padahal itu sangat urgen. Misalnya soal gigi, yang ditulis Shalsabilla dalam puisi berjudul &#8220;Gigi&#8221;. &#8220;Tanpamu tak bisa menikmati makanan/Apa pun tak terasa enak..&#8221;</p>
<p>Puisi itu tidak hanya tampil sebagai diskripsi atau teoritifikasi klise atas sebuah objek, tapi sebuah ajakan merenungi kembali fungsi-fungsi organ dalam tubuh kita. Gigi, salah satunya. Ini adalah sebuah tonjokan agar, sesekali, kita kembali mensyukuri sebuah realitas &#8211; entah itu kesehatan, kesempurnaan hidup, keberadaan &#8211; agar kita makin berterima kasih kepada Sang Pencipta, dan makin peduli pada realitas itu.</p>
<p>Namun, tidak semua puisi dalam buku ini menghadirkan &#8220;dunia&#8221; yang terang-berderang. Ada pula puisi yang mengecohkan kita untuk mendekatinya dengan beragam tafsir. Lihat saja puisi yang dikutip di bagian awal tulisan ini berjudul &#8220;Kupu-kupu&#8221;. Di bawah judul puisi yang mengutip lagu anak-anak berjudul &#8220;Kupu-kupu&#8221; itu dituliskan kata-katan &#8220;kepada Presiden SBY&#8221;.</p>
<p>Saya sempat bertanya kepada Soeryadarma, di sela-sela peluncuran buku puisi itu, apa maksud puisi tersebut, tapi ia diam saja. Ia seperti hendak mengatakan: setelah karya dihadirkan ke publik maka publiklah yang menjadi penafsir tunggal atas karya itu. Terserah mau menafsirkannya seperti apa, sesuai pengalaman dan apa yang sedang dipikirkan serta dirasakannya.</p>
<p>Apakah penyair cilik ini sedang mengirim sebuah lagu anak-anak untuk SBY? Sekali lagi: pembacalah yang harus menafsirkannya. ***</p>
<p>* MUSTAFA ISMAIL, penggiat sastra, pemilik blog www.musismail.com /4 Februari 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/antologi-puisi-negeri-di-atas-langit-kupu-kupu-untuk-sby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patah Tumbuh Generasi Teater Magnit</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/patah-tumbuh-generasi-teater-magnit/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/patah-tumbuh-generasi-teater-magnit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 02:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canting]]></category>
		<category><![CDATA[Dwidjo U. Maksum]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22034</guid>
		<description><![CDATA[Dwidjo U. Maksum http://www.tempo.co/ Menjelang pementasan &#8220;Mega-Mega&#8221; karya dramawan Arifin C. Noer oleh Teater Magnit, Sabtu (2/4) pukul 13.00 &#8211; 21.00 WIB di Aula Kementerian Agama Ngawi, Jalan Kartini 15 Ngawi, latihan dan persiapan terus digenjot. &#8220;Perlu konsentrasi dan penjiwaan penuh karena ini potret kemiskinan yang dengan sangat bagus diangkat Arifin C. Noer menjadi naskah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dwidjo U. Maksum</p>
<p>http://www.tempo.co/</p>
<p>Menjelang pementasan &#8220;Mega-Mega&#8221; karya dramawan Arifin C. Noer oleh Teater Magnit, Sabtu (2/4) pukul 13.00 &#8211; 21.00 WIB di Aula Kementerian Agama Ngawi, Jalan Kartini 15 Ngawi, latihan dan persiapan terus digenjot. &#8220;Perlu konsentrasi dan penjiwaan penuh karena ini potret kemiskinan yang dengan sangat bagus diangkat Arifin C. Noer menjadi naskah lakon,&#8221; kata Kusprihyanto Namma, sang sutradara, Selasa (22/3).<span id="more-22034"></span></p>
<p>Pementasan ini merupakan produksi Teater Magnit ke 75. Berkisah tentang enam gelandangan di alun-alun Yogyakarta (Mae, Retno, Koyal, Hamung, Tukijan, dan Panut) menambatkan mimpinya pada bulan. Angan-angannya melambung setinggi mega. Ingin menjadi orang kaya baru atau punggawa kerajaan. Tingkah-polah mereka perwujudan kegetiran dari kemiskinan. Pikiran rasional memang sesekali muncul, namun segera lenyap kembali.</p>
<p>Para pemain terus berlatih melakonkan karakter semaksimal mungkin. Vivi Pipi Merah memerankan Retno, Isti Pacing sebagai Mae, Jefri Brintrik sebagai Hamung, Wahid Mbutil menjadi Koyal, Tyok Sutiok sebagai Panut, dan Hendri Blongkot sebagai Tukijan. Penata musik dipercayakan pada Uzy Fauzy, Mansur, Wahyu Gembel, Atif Tawun, dan Dicko Lestari. Sedangkan penata lampu, Daris ris Mudaris dan Sasmito Samsito. Tata panggung ditangani Amru Pondokan dan Yaimin bin Yaimun.</p>
<p>Teater Magnit Ngawi berdiri pada 22 Agustus 1993 di Ngawi, Jawa Timur. Anggotanya anak-anak muda yang gelisah mencari jati diri. Sayangnya, ketika lulus sekolah, mereka rata-rata mencari pekerjaan ke luar kota. Komunitas teater pun ditinggalkan, lalu digantikan kader-kader berikutnya. Teater Magnit beranggotakan 300 orang, tersebar di berbagai kota dengan berbagai ragam profesi dan pekerjaan. &#8220;Yang aktif, tiap tahun antara 20-40 orang,&#8221; kata Kusprihyanto.</p>
<p>Selain &#8220;Mega-Mega&#8221;, karya lain Arifin C. Noer yang pernah dipentaskan Teater Magnit adalah &#8220;Sumur Tanpa Dasar&#8221;, &#8220;Dalam Bayangan Tuhan&#8221;, dan &#8220;Kapai-Kapai&#8221;. Sedangkan naskah karya Teater Magnit sendiri yang pernah dipentaskan diantaranya, &#8220;Tuyul&#8221;, &#8220;Prewangan&#8221;, &#8220;Dhemit&#8221;, &#8220;Pundhen&#8221;, &#8220;Mayat&#8221;, &#8220;Dhemit Ki Barong&#8221;, dan &#8220;Geger Wong Ngoyak Wewe&#8221;. Karena lokasi sanggarnya berada di bawah rumpun bambu, teater ini dikenal juga sebagai Komunitas Ngisor Pring. Sering menggelar pentas terbuka ditonton orang kampung, juga ngamen dari sekolah ke sekolah. Tiap bulan, minimal bikin satu produksi panggung.</p>
<p>Pada 1994-1995, Teater Magnit menjadi markas gerakan sastra Revitalisasi Sastra Pedalaman dan menerbitkan jurnal sastra. Sejak 2007 mendukung jurnal sastra Boemiputra. Komunitas ini tetap bertahan meskipun tak pernah mendapat bantuan dana maupun fasilitas dari pemerintah. &#8220;Pejabat pemerintah di Ngawi sendiri tak kenal. Tapi itu tak penting karena yang paling prinsip kami tetap konsisten berkesenian untuk menjaga hati baik negeri ini,&#8221; kata Kusprihyanto.</p>
<p>22 Maret 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/patah-tumbuh-generasi-teater-magnit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali Ke Jogja Membaca Sastra</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/kembali-ke-jogja-membaca-sastra/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/kembali-ke-jogja-membaca-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 02:41:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Odi Shalahuddin]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22031</guid>
		<description><![CDATA[Odi Shalahuddin * http://www.kompasiana.com/odishalahuddin Sastra Bulan Purnama putaran ke tiga dilangsungkan di Rumah Budaya Tembi dengan tajuk: Kembali ke Jogja Membaca Sastra. Informasi yang sudah disampaikan oleh Bung Ons Untoro selaku koordinator dan penanggung jawab kegiatan ini kepada rekan-rekannya melalui jejaring sosial pada tanggal 3 Desember 2011. Saya sendiri menyatakan siap untuk hadir. Sungguh lupa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Odi Shalahuddin *</p>
<p>http://www.kompasiana.com/odishalahuddin</p>
<p>Sastra Bulan Purnama putaran ke tiga dilangsungkan di Rumah Budaya Tembi dengan tajuk: Kembali ke Jogja Membaca Sastra. Informasi yang sudah disampaikan oleh Bung Ons Untoro selaku koordinator dan penanggung jawab kegiatan ini kepada rekan-rekannya melalui jejaring sosial pada tanggal 3 Desember 2011. Saya sendiri menyatakan siap untuk hadir.<span id="more-22031"></span></p>
<p>Sungguh lupa. 10-12 Desember telah ada jadwal ke luar kota, ugh, pastilah acara menarik yang dinanti akan terlewatkan. Namun beruntung, dengan mencermati situasi, saya bisa meyakinkan satu kegiatan bisa ditunda, sehingga jadwal kegiatan hanya tanggal 10-11 Desember saja. Setelah disepakati, maka meminta sopir sewaan untuk menjemput  sekitar pukul 18.00</p>
<p>Dua jam perjalanan Kebumen – Yogyakarta, tiba di Rumah Budaya Tembi sekitar pukul 20.30. bisalah bernafas lega. Terlambat tapi pastilah bisa menikmati beberapa pertunjukan. Ya, perjalanan yang sangat cepat. Sang Sopir memacu laju kendaraan dengan kencang di jalan yang bergelombang, tapi beruntungnya tidurku sama sekali tidak terganggu. Hanya cerita dari kawan yang masih terjaga, laju kendaraan sangatlah menakutkan. Bertiga, kami turun.</p>
<p>Saat tiba, Veven SP Wardhana tengah membacakan cerpennya berjudul “Purnama di Kanal De Rijn”. Penonton di panggung terbuka yang terletak di bagian belakang RBT sudah penuh. Demikian pula di halaman sebelum masuk panggung terbuka, ada beberapa kerumunan yang asyik berbincang-bincang, sambil menikmati kopi atau teh hangat, gorengan atau kacang rebus yang memang disediakan oleh penyelenggara.</p>
<p>Terlihat Halim Hade tengah diskusi serius dengan beberapa orang, diantaranya dalam kerumunan itu terlihat Wadie Maharief, Slamet Riyadi Sabrawi dan Genthong HSA. Di sisi lain juga terlihat Kris Budiman, Hairus Salim, Eko Nuryono, dan para seniman muda lainnya.</p>
<p>”Bukan, bukan kisah satu sosok tertentu, tapi dari beragam kisah hidup yang dicampur,” Veven Sp Wardhana menjelaskan ketika seorang kawan menanyakan apakah cerpennya mengenai kehidupan dari sosok tertentu orang yang exile akibat peristiwa 1965.</p>
<p>Orang-orang yang hadir lebih banyak dibandingkan Sastra Bulan Purnama putaran satu dan dua. Kebetulan malam itu memang ada rombongan dari Surabaya yang turut berbaur bersama penonton. Para mahasiswa/i Universitas Negeri Surabaya yang jumlahnya sekitar 100 orang.</p>
<p>Sayang, telah melewatkan penampilan dari Komunitas Pariyem dari Kadisobo yang merupakan lingkungan tempat tinggal Linus Suryadi AG , Amron Trisnardi (Jakarta), Bramantyo Prijosusilo yang pernah aktif di Bengkel Teater Rendra yang kini menjadi petani di Ngawi, Erick Indranatan dari Kediri, Teguh Ranusastra Asmara dan Sutirman Eka Ardana dari Yogyakarta.</p>
<p>Tapi beruntung masih bisa menikmati performance dari Andrik Purwasito bersama rekan-rekannya dari Solo,  pembacaan puisi dari salah satu mahasiswa UNS dan Sri Wintala Ahmad yang masing-masing membawakan dua puisinya, yang dilanjutkan musikalisasi puisi dan pembacaan puisi oleh Eko Tunas bersama kelompoknya ”Surau Kami”.</p>
<p>Terkait dengan penampilan Eko Tunas, Ons Untoro memberikan pengantarnya: ” “Pada tahun 1970-an di Yogya di kenal 4 E: Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, Eko Tunas, dan EH Kertanegara,”</p>
<p>Keempat E tersebut pernah tinggal satu kontrakkan dan berproses dalam kesenian di Yogya bersama Studi Persada Klub yang dikomandani oleh Umbu Landu Paranggi yang juga dikenal dengan julukan Presiden Malioboro.</p>
<p>Di tengah pembacaan dan musikalisasi puisi, Eko Tunas menceritakan pula memorinya atas pengalaman dia ketika berada di Yogya. ”Saya itu kalau membuat lirik, diberikan ke kawan-kawan, sudah jadi lagu. Dulu juga begitu. Emha, yang memiliki buku notes cap monyet, kalau membuat lirik, biasa dijadikan lagu oleh Ebiet.”</p>
<p>Eko juga mengisahkan pada masa-masa itu, seorang penyair selain menghafal puisi-puisinya sendiri juga menghafal puisi dari kawan-kawannya. Salah satu puisi dan lagu yang wajib untuk dihafal oleh para seniman Yogya pada masa itu adalah puisi Umbu Landu Paranggi yang juga dijadikan lagu. ”Saya tidak bisa menyanyikannya, tapi saya masih hafal syairnya,” kata Eko dilanjutkan dengan mendeklamasikan lirik puisi itu, yang diamini oleh beberapa penyair pada masa 1970-an yang hadir.</p>
<p>Apa ada angin di Jakarta<br />
Seperti dihembus desa Melati<br />
Apa cintaku bisa lagi cari<br />
Akar bukit Wonosari<br />
Yang diam di dasar jiwaku<br />
Kenangkanlah jua yang celaka<br />
Orang usiran kota raya<br />
Yang terpinggirkan di pojok-pojok kota<br />
Pulanglah ke desa membangun esok hari<br />
Kembali ke huma berhati</p>
<p>Selain itu, Eko Tunas juga membacakan puisi Emha yang dinyatakannya sebagai puisi yang juga banyak dihafal oleh para penyair Yogya. Puisi yang dijadikan lagu oleh Ebiet G. Ade, tapi tidak dimasukkan ke dalam album-album lagunya.</p>
<p>“Jangan dikira Emha gak pernah bikin puisi lebay atau romantis. Saya juga masih hafal syairnya. Lebai banget. Ini puisi yang dibuatnya tahun 1980-an,”</p>
<p>POLOS</p>
<p>Polos bola matamu<br />
Berderai rambut panjangmu<br />
Diakah kekasih sang dewa<br />
Yang terjaga dari noda</p>
<p>Pasti harum jiwanya<br />
Seperti bunga-bunga<br />
Pasti sahaja hatinya<br />
Suci dan mulia</p>
<p>Di Timur matahari bangkit<br />
Mendaki bukit demi bukit<br />
Dalam sukma iapun terbit<br />
Menyembuhkanku dari sakit</p>
<p>Tuhan, bisakah kiranya<br />
Kelak kukecup keningnya<br />
Dan di telaga bening matanya<br />
Aku membasuh luka</p>
<p>Selanjutnya, Eko Tunas melanjutkan pembacaan puisi dan musikalisasi puisinya oleh ”Surau Kami” hingga waktu yang merambat, telah tiba untuk usai.</p>
<p>Jangan lupa, selanjutnya  Sastra Bulan Purnama putaran ke empat akan digelar pada 9 Januari 2012, di tempat yang sama: Rumah Budaya Tembi.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Odi Shalahuddin<br />
Yogyakarta, 12 Desember 2011</p>
<p>*) Bekerja pada isu (hak-hak) anak sejak tahun 1990. Suka belajar menulis fiksi. Lagi menghimpun tulisannya di blog: http://odishalahuddin.wordpress.com Twitter: @odish2007<br />
Dijumput dari: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/12/12/kembali-ke-jogja-membaca-sastra/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/kembali-ke-jogja-membaca-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gajah Mada Lahir di Lamongan?</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/gajah-mada-lahir-di-lamongan/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/gajah-mada-lahir-di-lamongan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>
		<category><![CDATA[Viddy AD Daery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22029</guid>
		<description><![CDATA[Viddy AD Daery __kompas.com Gajah Mada, pahlawan maha besar Nusantara itu lahir di wilayah Lamongan, Jawa Timur? Menjawab pertanyaan itu akan menimbulkan berbagai macam jawaban, kalau ditanyakan ke banyak orang, namun kalau ditanyakan kepada saya, jawaban saya adalah Iya Betul! Karena berbagai macam alasan: Di daerah Modo dan sekitarnya, termasuk Pamotan, Ngimbang, Bluluk , Sukorame [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Viddy AD Daery<br />
__kompas.com</p>
<p>Gajah Mada, pahlawan maha besar Nusantara itu lahir di wilayah Lamongan, Jawa Timur? Menjawab pertanyaan itu akan menimbulkan berbagai macam jawaban, kalau ditanyakan ke banyak orang, namun kalau ditanyakan kepada saya, jawaban saya adalah Iya Betul! Karena berbagai macam alasan:<span id="more-22029"></span></p>
<p>Di daerah Modo dan sekitarnya, termasuk Pamotan, Ngimbang, Bluluk , Sukorame dan sekitarnya, tersebar folklor atau cerita rakyat. Dongeng dari mulut ke mulut, mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah kelahiran wilayah Modo situ.</p>
<p>Daerah Modo-Ngimbang-Pamotan-Bluluk dan sekitarnya memang ibukota sejak zaman Kerajaan Kahuripan Airlangga, bahkan anak-cucunya juga mendirikan ibukota di situ, karena strategis, alamnya bergunung-gunung, bagus untuk pertahanan, dan dekat dengan Kali Lamong yang merupakan cabang utama Sungai Brantas. Sudah begitu, ada jalan raya Kahuripan-Tuban yang dibatasi Sungai Bengawan Solo di pelabuhan Bubat (kini bernama kota Babat).</p>
<p>Ibukota ini baru digeser oleh cicit Airlangga ke arah Kertosono-Nganjuk, dan baru di zaman Jayabaya digeser lagi ke Mamenang, Kediri. Selanjutnya oleh Ken Arok digeser masuk lagi ke Singosari. Baru oleh Raden Wijaya dikembalikan ke arah muara, yaitu ke Tarik, namun anaknya yang akan dijadikan penggantinya, yakni Tribuana Tunggadewi, diratukan di daerah Lamongan-Pamotan-Bluluk lagi, yaitu Kahuripan. Jadi Tribuana Tunggadewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Bre Kahuripan alias Rani Kahuripan, Lamongan.</p>
<p>Ketika Gajah Mada menyelamatkan Raja Jayanegara dari amukan pemberontak Ra Kuti, dibawanya Jayanegara ke arah Lamongan, yakni Badander / bisa Badander Bojonegoro, bisa Badander Kabuh, Jombang, dua-duanya rutenya ke arah Lamongan (dalam hal ini adalah Pamotan-Modo-Bluluk dsktarnya). Itu sesuai Teori Masa Anak-anak, di mana kalau anak kecil atau remaja berkelahi di luar desanya, pasti lari menyelamatkan diri ke desanya minta dukungan, tentu karena di desanya ada banyak teman, kerabat maupun guru silatnya. Saya kira Gajah Mada juga menerapkan taktik itu.</p>
<p>Di wilayah Ngimbang-Bluluk sampai sekarang ada situs kuburan Ibunda Gajah Mada, yakni Nyai Andongsari.</p>
<p>Di dekat situ pula ada situs kuburan kontroversial, karena ada kuburan yang diyakini sebagai kuburan Gajah Mada namun dalam posisi “Islam”, karena kuburannya menghadap ke arah yang persis sebagaimana kuburan orang Islam. Kalau misalnya hal ini benar, maka wajar masa tua Gajah Mada tidak ditulis di babad-babad atau kitab kuno, atau cenderung disisihkan atau dihapus dari sejarah, karena Gajah Mada mungkin dianggap “murtad” atau “semacam itu”.</p>
<p>Pendapat mengenai “Gajah Mada masuk Islam di hari tua” ini tidak mengada-ada, karena seorang kyai terkenal di Jawa Timur keturunan Sunan Drajat, yaitu KH Ghofur dari Pondok Pesantren Drajat, Paciran, Lamongan menyatakan bahwa beliau pernah berdialog secara mistis dengan “ruh” Gajah Mada , dan “ruh Gajah Mada” menyatakan bahwa Gajah Mada masuk Islam di hari tuanya. Benar atau tidaknya hanya Allah yang tahu.</p>
<p>Memperjuangkan pendapat semacam ini tidak mudah. Saya pernah bertamu ke teman-teman saya yang menjadi pejabat tinggi kebudayaan maupun pejabat tinggi pendidikan, tidak ada yang mau membuat seminar nasional mengenai tempat lahir Gajah Mada, entah apa sebabnya, mungkin Cuma karena kemalasan khas pegawai negeri Indonesia saja.</p>
<p>Yang bersedia malahan beberapa budayawan Malaysia, namun sayang rencana itu tertunda-tunda menunggu saat yang baik, padahal dana sudah siap. Biarlah nanti kalau Malaysia sudah siap, biar orang-orang Indonesia bisanya cuma marah-marah karena merasa dilangkahi, sebagaimana sudah sering terjadi.</p>
<p>Maka, untuk perjuangan awal, paling tidak beberapa makalah saya yang saya bacakan di beberapa pertemuan budaya di Singapura, Malaysia dan Brunei sedikit banyak menyebut bahwa Gajah Mada adalah putera kelahiran Lamongan dengan bukti-bukti di atas.</p>
<p>Disamping itu, folklor itu saya sisip-sisipkan ke novel saya “Pendekar Sendang Drajat, Misteri Pengebom Candi Gajah Mada” yang akan terbit dua bulan yang akan datang. Sementara itu, novel saya yang sedang beredar dan cukup laris di pasaran, “Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama” mulai saya arahkan ke arah setting daerah Babat-Modo-Ngimbang-Pamotan.</p>
<p>Pendapat lain</p>
<p>Pendapat lain sudah mengantre tentunya, karena folklor atau naskah “Usana Jawa” dari Bali, mengklaim bahwa GAJAH MADA lahir dari sebuah buah kelapa yang pecah di Bali&#8230;. hahahaha&#8230;aneh kan?</p>
<p>Naskah lain yang juga dari Bali, yakni “Babad Gajah Mada” mengisahkan bahwa Gajah Mada lahir di Pertapaan Lemah Tulis di Bali. Namun itu hanya tulisan babad atau kidung kuno yang ditulis di zaman pasca Majapahit , sedangkan bukti-bukti lain yang mendukung , sejauh ini belum ada.</p>
<p>Lalu DR. Agus Aris Munandar dari UI berteori bahwa Gajah Mada lahir di Malang, dengan alasan Gajah Mada mendirikan Candi Kertanegara di Singosari Malang. Pendapat ini tentu amat spekulatif, karena mendirikan Candi kan hal biasa yang dilakukan oleh pejabat tinggi yang berkuasa. Bahkan dia berteori bahwa wajah Gajah Mada mirip orang India, bukan seperti wajah “Orang Lamongan” seperti yang diyakini oleh Mohammad Yamin dan sampai kini dijadikan “pendapat umum”.</p>
<p>Teori yang lebih spekulatif dan asal-asalan malah mengatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra, dengan alasan adanya binatang Gajah dan istilah “Mada” hanya ada di Sumatra. Tentunya pendapat ini sangat menggelikan, karena meskipun Gajah asli Sumatra, tapi kan Raja-raja Jawa dapat mendatangkan/membelinya, jadi Gajah bukan hal yang aneh di Jawa. Istilah “Mada” juga ada dalam kosakata Jawa.</p>
<p>Ada juga yang menyatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Dompo, Sumbawa, karena di sana ada kuburan Gajah Mada. Tentunya soal kuburan bisa saja dibikin dan diperakukan.</p>
<p>Atau mungkin juga Gajah Mada yang lain, yang bukan di zaman Majapahit, atau tokoh lokal yang kharisma kepemimpinannya mirip tindak tanduk Gajah Mada, meski skopnya tidak Internasional seperti Gajah Mada Majapahit.</p>
<p>Malahan ada juga teori yang menyatakan bahwa Gajah Mada orang Dayak di Kalimantan, karena di wilayah Dayak Krio ada tokoh bernama Jaga Mada yang diutus Demung Adat Kerajaan Kutai untuk menjelajah Nusantara. Namun teori ini dari segi logika hubungan dengan Majapahit sangat lemah. Mungkin juga dia adalah tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakatnya setara dengan penghormatan terhadap Gajah Mada Majapahit.</p>
<p>Dan kemudian, ada juga teori yang menyatakan, bahwa Gajah Mada itu mungkin benar lahir di wilayah Pamotan-Lamongan, namun bukan anak Raden Wijaya sebagaimana disebutkan oleh folklor di Modo, akan tetapi lahir dari ibu yang dinikahi Pasukan Mongol yang melarikan diri dari induk pasukannya.</p>
<p>Teori ini agak lemah, karena menurut buku John Man, Pasukan Mongol yang ternyata bukan hanya dipimpin oleh Jendral-jendral Mongol, namun juga disertai oleh Kaisar Mongol sendiri, dibantai habis oleh Pasukan Raden Wijaya dan sisanya melarikan diri ke perahu di pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban lalu segera pergi berlayar kembali ke Cina, sudah begitu di Cina mereka dibantai lagi oleh anak petani Cina yang sudah bosan dijajah Mongol lalu memberontak atas bantuan pasukan Majapahit dan kemudian merajakan diri, memerdekakan Cina dari penjajahan Mongol ratusan tahun.</p>
<p>Pendapat ini, menurut budayawan Irawan Djoko Nugroho, sangat sesuai dengan yang dikandung dalam kitab kuno “Tembang Harsawijaya” dan Prasasti Kertarajasa.</p>
<p>Jadi,kalaupun ada sepuluh &#8211; tiga puluh orang pasukan Mongol yang mampu menyelamatkan diri lalu lari ke hutan, tentu butuh waktu berpuluh-berbelas tahun baru berani menampakkan diri keluar dari hutan, lalu berani menikahi wanita lokal. Hal itu persis seperti yang dilakukan oleh pelarian pasukan Jepang di zaman perang kemerdekaan Indonesia, dan baru berani muncul dari hutan ketika Indonesia sudah lama merdeka dan melupakan suasana peperangan.</p>
<p>Padahal Gajah Mada lahir hanya setahun dua tahun dari peristiwa pembantaian Pasukan Mongol oleh Pasukan Majapahit. Maka, pasti ibunya tidak dinikahi oleh pasukan Mongol, melainkan oleh pemimpin pasukan Majapahit yang merayakan kemenangan,atau kalau merujuk ke folklor Modo, dinikahi (semacam nikah siri-lah&#8211;istilahnya) oleh Raden Wijaya sendiri,dalam rangka pesta perayaan kemenangan, karena pertempuran hebat menumpas Pasukan Mongol memang terjadi di wilayah Lamongan.</p>
<p>Namun di atas semua teori dan tafsir sejarah, hanya Allah Yang Maha Tahu, jadi manusia hanya bisa berteori berdasar alasan-alasan dan data-data yang masuk akal, namun tak berhak mengklaim yang paling benar, wallahu a’lam bissawab, wailaihil marji’ wal ma’ab !!!!</p>
<p>*) Budayawan,kolumnis,novelis,penyair,penulis skenario teater dan sinetron.<br />
Dijumput dari: http://arkeologi.web.id/articles/arkeologi-kesejarahan/1902-gajah-mada-lahir-di-lamongan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/gajah-mada-lahir-di-lamongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adin dan setitik perjuangan sastra Semarang</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/adin-dan-setitik-perjuangan-sastra-semarang/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/adin-dan-setitik-perjuangan-sastra-semarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:08:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canting]]></category>
		<category><![CDATA[Dwi Nikmatika Roma]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22027</guid>
		<description><![CDATA[Dwi Nikmatika Roma ___Harian Semarang Sejak tergabung dengan organisasi Hysteria dan menjabat direktur pada 2007 hingga sekarang telah banyak dilakukan Adin. Untuk pertama kalinya Hysteria mempunyai forum rutin bernama “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang berlangsung hingga 21 kali pertemuan. Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dwi Nikmatika Roma<br />
___Harian Semarang</p>
<p>Sejak tergabung dengan organisasi Hysteria dan menjabat direktur pada 2007 hingga sekarang telah banyak dilakukan Adin. Untuk pertama kalinya Hysteria mempunyai forum rutin bernama “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang berlangsung hingga 21 kali pertemuan.</p>
<p>Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. <span id="more-22027"></span>Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.</p>
<p>Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.</p>
<p>Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.</p>
<p>“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.</p>
<p>Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.</p>
<p>“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.</p>
<p>Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.</p>
<p>Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.</p>
<p>“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.</p>
<p>Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang</p>
<p>Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.</p>
<p>Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.</p>
<p>Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya.</p>
<p>Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.</p>
<p>“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.</p>
<p>Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”</p>
<p>Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.</p>
<p>“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.</p>
<p>Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.</p>
<p>“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.</p>
<p>Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.</p>
<p>Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.</p>
<p>Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.</p>
<p>“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (Dwi Nikmatika Roma/rif)</p>
<p>Dijumput dari: http://hariansemarangragam.blogspot.com/2011/11/adin-dan-setitik-perjuangan-sastra.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/adin-dan-setitik-perjuangan-sastra-semarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesusasteraan Harus Bebas dari Propaganda Politik</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/kesusasteraan-harus-bebas-dari-propaganda-politik/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/kesusasteraan-harus-bebas-dari-propaganda-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canting]]></category>
		<category><![CDATA[Jodhi Yudono]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22025</guid>
		<description><![CDATA[Jodhi Yudono http://oase.kompas.com/ Sastrawan Universitas Indonesia Maman S. Mahayana menilai, harus ada pembatasan tegas antara kesusasteraan dan propaganda politik untuk membebaskan sastra dari kepentingan politik penguasa. &#8220;Sastra pada hakikatnya bersifat ideologis, menyimpan ideologi pengarang berkaitan dengan orientasi budaya, sistem kepercayaan, sikap, dan sebagainya,&#8221; katanya usai seminar &#8220;Melacak Jejak Indonesia: Gugatan Pramoedya Ananta Toer&#8221; di Semarang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jodhi Yudono</p>
<p>http://oase.kompas.com/</p>
<p>Sastrawan Universitas Indonesia Maman S. Mahayana menilai, harus ada pembatasan tegas antara kesusasteraan dan propaganda politik untuk membebaskan sastra dari kepentingan politik penguasa.</p>
<p>&#8220;Sastra pada hakikatnya bersifat ideologis, menyimpan ideologi pengarang berkaitan dengan orientasi budaya, sistem kepercayaan, sikap, dan sebagainya,&#8221; katanya usai seminar &#8220;Melacak Jejak Indonesia: Gugatan Pramoedya Ananta Toer&#8221; di Semarang, Rabu.<span id="more-22025"></span></p>
<p>Ia menjelaskan, pada zaman kolonial Belanda sastra dijadikan sebagai alat propaganda politik, di antaranya Balai Pustaka yang menjadi penerbitan pemerintah saat itu melakukan pembendungan terhadap bacaan-bacaan &#8220;liar&#8221;.</p>
<p>Pemerintah kolonial Belanda, kata dia, melakukan pembatasan terhadap bacaan sehingga buku-buku yang beredar saat itu dimaksudkan menanamkan ideologi kolonial dan mengandung unsur-unsur pencitraan pemerintah Belanda.</p>
<p>Maman mencontohkan, novel &#8220;Siti Nurbaya&#8221; karya Marah Rusli dan &#8220;Salah Asuhan&#8221; karya Abdul Moeis, sebagai beberapa novel yang sebenarnya di dalamnya terdapat unsur-unsur pencitraan pemerintah kolonial Belanda.</p>
<p>&#8220;Pada novel Salah Asuhan misalnya, terdapat tokoh Corrie yang merupakan keturunan Indo-Perancis dan Hanafi, seorang pribumi yang digambarkan memiliki perbedaan strata sosial antara keduanya,&#8221; katanya.</p>
<p>Perbedaan strata sosial yang digambarkan itu, kata dia, dimaksudkan bahwa kedudukan sosial bangsa Belanda jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa Indonesia yang justru mengerdilkan citra bangsa Indonesia.</p>
<p>&#8220;Cara-cara seperti itu mengerdilkan bangsa kita. Sastra dimanipulasi sedemikian rupa untuk membangun citra kolonial. Biasanya selalu ada karakter ’stereotype’, bahwa orang Belanda selalu hebat dan gagah,&#8221; katanya.</p>
<p>Memasuki zaman penjajahan Jepang, kata dia, kesusasteraan Indonesia sepenuhnya diarahkan untuk kepentingan penjajah, apalagi ketika itu Jepang sedang menghadapi apa yang disebut sebagai Perang Asia Timur Raya.</p>
<p>&#8220;Tujuan Jepang adalah membentuk daerah kemakmuran bersama Asia Raya. Karena itu, propaganda terus dilakukan, disebarluaskan, dan ditanamkan, salah satunya melalui kebudayaan, termasuk kesusasteraan,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut dia, tidak heran apabila kemudian mudah ditemukan karya sastra Indonesia yang muncul pada zaman penjajahan Jepang bertemakan semangat &#8220;Hakko Ichiu&#8221; yang dicita-citakan oleh penjajah Jepang.</p>
<p>Berkaitan dengan Pramoedya Ananta Toer, ia mengakui, sastrawan yang akrab disapa Pram itu merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang memiliki semangat nasionalisme yang menanamkan nilai ideologis dalam karya-karyanya.</p>
<p>&#8220;Pram sadar bahwa sastra harus muncul dari hati tanpa ada beban tertentu, sehingga ia menolak memasukkan unsur-unsur propaganda politik pada karya-karyanya, sebagai bentuk dukungan atas kebebasan berekspresi,&#8221; kata Maman.</p>
<p>2 Februari 2012<br />
Sumber: ANT / http://oase.kompas.com/read/2012/02/02/18083932/Kesusasteraan.Harus.Bebas.dari.Propaganda.Politik</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/kesusasteraan-harus-bebas-dari-propaganda-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komoditas Pertanian di Dalam Sastra Aceh</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/komoditas-pertanian-di-dalam-sastra-aceh/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/komoditas-pertanian-di-dalam-sastra-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Andreas Maryoto]]></category>
		<category><![CDATA[Mahdi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22023</guid>
		<description><![CDATA[Andreas Maryoto, Mahdi Muhammad http://regional.kompas.com/ Sawah indah membentang tak jauh dari pantai. Pohon pinang tegak lurus berdiri di kebun-kebun rakyat di dataran tinggi. Tanaman tebu mudah ditemukan di rumah-rumah warga. Di dataran yang lebih tinggi, kebun kopi terlihat rata menghijau. Pertanian begitu dekat dengan mereka. Sejak lama seniman Aceh pun terinspirasi oleh keindahan dan kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andreas Maryoto, Mahdi Muhammad</p>
<p>http://regional.kompas.com/</p>
<p>Sawah indah membentang tak jauh dari pantai. Pohon pinang tegak lurus berdiri di kebun-kebun rakyat di dataran tinggi. Tanaman tebu mudah ditemukan di rumah-rumah warga. Di dataran yang lebih tinggi, kebun kopi terlihat rata menghijau.</p>
<p>Pertanian begitu dekat dengan mereka. Sejak lama seniman Aceh pun terinspirasi oleh keindahan dan kehidupan di dalam masyarakat pertanian tersebut.<span id="more-22023"></span></p>
<p>”Basisnya memang masyarakat agraris, sehingga masyarakat mengambil idiom-idiom pertanian. Sesuatu yang paling dekat dengan mereka. Benda-benda itu dekat dengan kehidupan mereka,” kata antropolog dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya.</p>
<p>Setidaknya semboyan atau ungkapan masyarakat Aceh di atas mewakili dunia dan alam pikiran mereka.</p>
<p>Dalam berbagai karya sastra Aceh, karya sastra yang berkembang di Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam, kita mudah menemukan berbagai komoditas pertanian, mulai dari padi, tebu, pinang, kelapa, sirih, lada, hingga kopi. Berbagai komoditas pertanian itu terdapat di dalam karya-karya sastra, mulai dari hikayat, pantun, mantra, sampai puisi dan prosa.</p>
<p>Mulanya, Kerajaan Aceh adalah kerajaan maritim. Mereka sangat bergantung pada impor komoditas pertanian, terutama beras. Pengelana Eropa yang sempat ke Aceh pada abad ke-17 mengatakan, sebenarnya tanah di Aceh subur, tapi penduduk tidak ada yang mau bertani. Mereka lebih menyerahkan usaha tani kepada budak.</p>
<p>Pada masa Iskandar Muda (1607-1636), dia melakukan invasi ke beberapa wilayah untuk mendapatkan kepastian pasokan beras sehingga stabilitas politik bisa dijaga.</p>
<p>Beberapa karya sastra berlatar belakang dunia maritim, seperti karya Hamzah Fansuri-sastrawan yang terkenal pada abad ke-17, yaitu Syair Perahu, serta epos Hikayat Malem Dagang, yang juga berlatar belakang maritim. Beberapa karya sastra lainnya bertema perang.</p>
<p>Tak jelas kapan persisnya dunia pertanian mulai menjadi perhatian seniman Aceh. Tapi, diperkirakan jauh sebelumnya sudah ada akar karya sastra yang berisi dunia pertanian di sana. Bila kemudian muncul hikayat dan karya sastra lainnya yang bermetrum Persia, maka diduga ada pertemuan antara ”cara menyajikan” dan isi sajian.</p>
<p>Dalam konteks itu, ada pertemuan antara metrum sastra yang mendapat pengaruh dari negeri Persia, yaitu syair dengan isi dari karya sastra yang menggambarkan dunia agraris yang dipengaruhi tradisi setempat.</p>
<p>Asal-usul tari Saman bisa jadi merupakan gambaran kemungkinan pertemuan dua kebudayaan. Para pengelana dari berbagai bangsa yang melalui Selat Malaka kerap singgah di beberapa pantai di Aceh. Pada malam hari, mereka melihat kelompok penduduk pribumi di pedalaman yang bernyanyi, bertepuk tangan, dan menepuk paha sambil berlutut.</p>
<p>Rismawati (2009), dalam tulisannya di buku Hikayatologi Aceh-mengutip salah satu sumber-menyebutkan, ada ulama Tengku Syeikh Saman pada awal abad ke-14 yang mendatangi penduduk pedalaman dan menggunakan tarian itu sebagai media untuk mengajarkan Islam. Pertemuan kebudayaan seperti ini sangat mungkin terjadi dalam karya sastra. Pertemuan-pertemuan kultur saat Aceh memperluas wilayah sangat mungkin juga memengaruhi jenis dan isi karya sastra.</p>
<p>Dalam disertasinya JJCH van Waardenburg-yang berjudul De Invloed van den Landbouw op de Zeden, de Taal, en Letterkunde der Atjehers-mencatat beberapa karya sastra yang sepenuhnya bertema pertanian. Misalnya, Hikayat Asay Padé yang bersisi asal-usul tanaman padi, Hikayat Padé yang berisi petunjuk yang harus diperhatikan petani dalam hal menanam padi, dan Hikayat Ranto yang berisi kehidupan petani lada di Aceh barat.</p>
<p>Ada juga hikayat yang berisi soal pertanian, tapi bukan merupakan pokok cerita, yaitu Hikayat Pocut Muhamat.</p>
<p>Komoditas lainnya terdapat di dalam beberapa karya sastra, seperti sirih di dalam Hikayat Tujoh Ulee, kelapa dan pinang di dalam Hikayat Malem Diwa, tebu di dalam Hikayat Raja Bada dan Hikayat Pocut Muhamat, serta lada di dalam Hikayat Juhan Meusapi.</p>
<p>Sastra modern</p>
<p>Di dalam karya sastra modern seperti puisi dan prosa, komoditas pertanian juga masih muncul. Beberapa sastrawan, seperti To’et (Abdul Kadir) dan Sali Gobal, masih menyebut komoditas pertanian di dalam karya-karyanya. Keduanya meninggal tahun lalu.</p>
<p>”Sastrawan menyebut sejumlah komoditas pertanian dan juga dunia pertanian untuk menggambarkan keindahan, semangat gotong royong, cara-cara mensugesti perasaan, hingga teknik bertani,” kata sastrawan Aceh, LK Ara.</p>
<p>Ara menyebutkan, To’et kerap berbicara soal padi. Ia mengambil latar belakang sawah dan padi untuk menggambarkan keindahan sebagai penawar hati yang sedih. Ia juga mengambil gambaran romantika pemuda dan pemudi dengan memaparkan kejadian di sawah ketika seorang gadis memanen padi, sementara sang lelaki merontokkan padi dari tangkainya.</p>
<p>Sali Gobal menggunakan tebu untuk beberapa karya sastranya, mulai dari jenis, manfaat, hingga sifat tebu. Puisinya yang berjudul Tau (Tebu), misalnya, berbunyi demikian:</p>
<p>Jarak dekat terpanang/Tau mampat murentang/Kayu mupakat ulung gerbang/Ralik ni batang atur beriring. (Jarak dekat dapat dilihat/Tebu indah merentang/Jenis kayu daun terbuka/Pangkal batang teratur beiring).</p>
<p>Salah satu komoditas di Aceh yang sangat terkenal namun jarang muncul di dalam karya sastra Aceh adalah kopi. Komoditas ini merupakan komoditas yang didatangkan dari luar Aceh. Sangat mungkin, dulu ada jarak antara masyarakat Aceh dengan kopi sehingga mereka sulit membuat ungkapan melalui kopi. ”Sejauh pelacakan saya, komoditas kopi memang tidak ada di dalam sastra lama,” kata Ara. Fasya juga mengatakan hal serupa.</p>
<p>Karya-karya sastra lama tidak menampilkan kopi, kebun kopi, ataupun warung kopi. Dalam disertasi Waardenburg juga tidak disebut komoditas kopi di dalam karya sastra.</p>
<p>Kopi baru marak dalam sejumlah karya sastra belakangan ini. Kopi muncul dalam sastra yang berlatar belakang konflik, perdamaian, dan pascatsunami di Aceh (Desember 2004). Kebun kopi digunakan untuk mengungkapkan keindahan, namun kebun kopi juga digunakan untuk setting tempat ketika terjadi konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan aparat keamanan (TNI).</p>
<p>Dunia pertanian dan komoditas pertanian meski masih muncul di dalam karya sastra namun makin jarang. Dunia memang sudah berubah. Dalam konteks pertanian, pertanian yang semula sangat tergantung dari tangan manusia langsung, sekarang mulai beralih ke mesin. Perubahan ini juga menghilangkan rasa di kalangan masyarakat. Mesin akan berbicara efisiensi, dan dari situ maka muncul rezim uang yang berkuasa.</p>
<p>Dunia pertanian yang dulu penuh romantika dan kegembiraan kini mungkin makin banyak menimbun rasa sedih, karena hasil pertanian makin dihargai murah sehingga malah memiskinkan warga. Involusi pertanian terus terjadi. Kalaulah kopi masih disebut-sebut karena komoditas ini masih memberi senyum bagi warga, karena secara ekonomi masih menguntungkan.</p>
<p>14 Januari 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/komoditas-pertanian-di-dalam-sastra-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SASTRA KAMPUNG YANG MULAI MELENYAP</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/02/sastra-kampung-yang-mulai-melenyap/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/02/sastra-kampung-yang-mulai-melenyap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Halimi Zuhdy]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=22021</guid>
		<description><![CDATA[Halimi Zuhdy Sebenarnya tulisan ini berangkat dari kegelisahan penulis atas ketidak –pede-an para sastrawan kampung untuk unjuk gigi ke pentas dunia, mereka lebih senang bersembunyi di balik gubuk-gubuk ilalang dari pada bertengger di bangunan kokoh berderet permata, lebih suka berdamai dengan sawah-sawah yang indah dari pada troktoar-troktoar ketidak jelasan, lebih suka bermain pet ta umpet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halimi Zuhdy</p>
<p>Sebenarnya tulisan ini berangkat dari kegelisahan penulis atas ketidak –pede-an para sastrawan kampung untuk unjuk gigi ke pentas dunia, mereka lebih senang bersembunyi di balik gubuk-gubuk ilalang dari pada bertengger di bangunan kokoh berderet permata, lebih suka berdamai dengan sawah-sawah yang indah dari pada troktoar-troktoar ketidak jelasan, lebih suka bermain pet ta umpet dengan kodok dari pada mempublikasikan karyanya…<span id="more-22021"></span>dan penulis suka pada mereka karena kesederhanaan dan keikhlasan karyanya, namun ke-tidak pedeannya yang dapat menghilangkan kretifitas mereka di pentas dunia, sehingga ke-elokan kampung tidak dikenal oleh orang-orang kota atau orang-orang dunia.</p>
<p>Saat inilah sastra kampung yang harus di bangkitkan demi menjaga keangkuhan sastra menuju ketawadhuan sastra……(karya sastra). Saya pernah membaca tulisan Ahamadun “sastra Indonesia sejujurnya adalah sastra kampung, sastra yang bersemangat orang kampung, atau &#8216;sastra kampungan&#8217; sastra yang kurang pede pada jati dirinya sendiri, sebagaimana &#8216;orang kampung&#8217; yang kurang pede jika tidak meniru gaya orang kota. Sebagaimana orang kampung yang ingin (sok) modern dan &#8216;sok kota&#8217; yang lupa pada persoalan budaya kampungnya sendiri, sastra Indonesia pun telah lama tercerabut dari akar budaya kampungnya sendiri: Nusantara.</p>
<p>Sehingga, ketika muncul wacana estetika &#8216;kembali ke Timur&#8217; pada tahun 1970-an atau wacana &#8216;kembali ke warna lokal&#8217; belakangan ini, menjadi wacana baru yang begitu menarik dan membuat banyak sastrawan jadi &#8216;gegap gembita&#8217;. Padahal, estetika Timur atau warna lokal mestinya sejak dulu sudah menjadi darah daging sastra Indonesia. Agaknya benar tesis Nirwan Dewanto, bahwa sastra Indonesia adalah &#8216;sastra dunia&#8217; (baca: sastra Barat) yang berbahasa Indonesia.</p>
<p>Sastra kampun di Indonesia agak malu-malu kucing meskipun banyak contoh dari kampung menuju dunia adalah dan di pentas internasiona cukup diperhitungkan seperti karya-karya Najib Mahfoudz (Mesir), Rabindranat Tagore (India) dan Kenzaburo Oe (Jepang). Atau, setidaknya sekelas karya-karya Jalaluddin Rumi (Turki) dan Kahlil Gibran (Libanon-AS), yang begitu mendunia meskipun tanpa Nobel Sastra. Kalau Ahmadun menggambarkan sastra kampung (Indonesia), yang paling gampang disebut sebagai karya yang cukup mendunia adalah Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer. Selain telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, novel anti-borjuis yang sangat memikat itu bahkan berkali-kali sempat menempatkan Pram sebagai nominator peraih Nobel Sastra, tapi setelah Pramoedya tidak lagi tanpak sastra-sastra kampung yang mampu mendunia…mungkin masih dalam proses mengutuhkan diri.</p>
<p>Dan lagi, sastra kampung yang mengajarkan keberadaan diri dan ke-desaan diri….sudah mulai dibrangus dengan kolom-kolom sastra kota yang agak sedikit tak mengenal kediriannya yang sesungguhnya….dia tidak lagi mengenal jati dirinya yang berangkat dari keelokan perkampungan menuju kegarangan perkotaan, sungguh ironis memang beberapa sastrawan yang tak lagi ingat kampung (karena merasa sudah berada di kota)…..dan tak lagi melirik ke-kampungan-nya karena merasa tak mendapatkan tempat dalam kancang dunia….ha3[].</p>
<p>Dijumput dari: http://halimizuhdy.blogspot.com/2010/11/sastra-kampung-yang-mulai-melenyap.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/02/sastra-kampung-yang-mulai-melenyap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

