<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sastra-Indonesia.com</title>
	<atom:link href="http://sastra-indonesia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sastra-indonesia.com</link>
	<description>Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 22:55:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Rumah Puisi Taufiq Ismail</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/rumah-puisi-taufiq-ismail-2/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/rumah-puisi-taufiq-ismail-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 22:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>
		<category><![CDATA[Soni Farid Maulana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23740</guid>
		<description><![CDATA[Soni Farid Maulana Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2008 KESUNGGUHAN penyair Taufiq Ismail menumbuhkembangkan daya apresiasi sastra di kalangan anak-anak sekolah, dalam hal ini di kalangan anak-anak SMA lewat program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) serta program Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) untuk guru bahasa dan sastra Indonesia tidak diragukan lagi. Program tersebut sejak diluncurkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soni Farid Maulana<br />
Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2008</p>
<p>KESUNGGUHAN penyair Taufiq Ismail menumbuhkembangkan daya apresiasi sastra di kalangan anak-anak sekolah, dalam hal ini di kalangan anak-anak SMA lewat program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) serta program Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) untuk guru bahasa dan sastra Indonesia tidak diragukan lagi. Program tersebut sejak diluncurkan hingga kini sudah berjalan selama 10 tahun.<span id="more-23740"></span></p>
<p>&#8220;Apa yang dilakukan oleh Taufiq patut kita dukung. Hasilnya bukan untuk siapa-siapa selain untuk kita dan bangsa kita di masa mendatang,&#8221; ujar novelis Putu Wijaya yang juga dikenal sebagai teaterawan dalam percakapannya dengan &#8220;PR&#8221; di sela-sela acara Lomba Lukis dan Cipta Puisi Anak-anak se-Indonesia di Istana Cipanas Cianjur, Minggu (24/8). Acara tersebut digelar Depdiknas bekerja sama dengan Depdikbud, memperebutkan hadiah dan piala dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.</p>
<p>Kesungguhan Taufiq lewat program yang digelar bersama majalah sastra Horison dan lembaga-lembaga terkait sejak 1998 hingga 2008 ini, memang pantas diacungi jempol, mengingat dalam upaya itu, Taufiq tak tanggung-tanggung mengucurkan sejumlah dana dari koceknya sendiri untuk membangun Rumah Puisi di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Lokasi tersebut berada di pertemuan kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi.</p>
<p>&#8220;Uang yang saya kucurkan untuk membangun Rumah Puisi itu saya dapat dari hadiah sastra Habibie Award 2007 senilai 25.000 dolar AS yang setelah dipotong pajak saya terima Rp 200 juta,&#8221; ujar Taufiq Ismail dalam percakapannya dengan &#8220;PR&#8221; di tempat yang sama.</p>
<p>Hadiah tersebut diterima Taufiq karena ia dinilai sebagai salah seorang sastrawan Indonesia yang tiada putus-putusnya menumbuhkembangkan daya apresiasi sastra Indonesia di kalangan anak-anak sekolah dan guru.</p>
<p>**</p>
<p>TUJUAN dibangunnya Rumah Puisi, menurut Taufiq, bukan untuk menjadikan siswa dan guru menjadi penyair, novelis, atau dramawan. Akan tetapi, untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru dalam budaya baca buku dan budaya tulis-menulis.</p>
<p>&#8220;Kita bisa menyaksikan saat ini begitu banyak siswa yang kerepotan jika disuruh menulis, apalagi ketika ia jadi mahasiswa harus menulis skripsi atau tesis,&#8221; kata Taufiq sambil menambahkan bahwa kecintaan membaca karya sastra merupakan awal kecintaan seseorang untuk membaca buku lainnya. Hal itu bisa menambah wawasannya dalam berbagai bidang kehidupan. Jika seseorang sudah demikian gandrung membaca buku maka pada sisi yang lain ia akan segera melirik dunia tulis-menulis untuk mengekspresikan hasil bacaannya.</p>
<p>&#8220;Bangsa yang kaya dengan buku yang ditulis oleh anak-anak bangsa tersebut adalah bangsa yang gemar membaca buku. Majunya sebuah bangsa dalam berbagai bidang keilmuan antara lain bersumber dari pesatnya budaya baca. Jadi, sasaran saya ke depan lewat Rumah Puisi adalah ini,&#8221; tutur Taufiq yang terkenal dengan buku puisi Benteng dan Tirani.</p>
<p>Kedua buku puisinya itu merupakan kesaksian Taufiq atas situasi sosial politik yang terjadi pada 1966 lalu, saat rezim Orde Lama terguling dari kursi kekuasaan yang didudukinya, yang antara lain disebabkan meletusnya G-30-S PKI, selain disebabkan oleh naiknya harga-harga dan maraknya tindak pidana korupsi.</p>
<p>Rumah Puisi yang diharapkan selesai pada 2009 akan dijadikan tempat pelatihan guru bahasa dan sastra Indonesia dalam meningkatkan pemahamannya terhadap bahasa dan sastra Indonesia serta meningkatkan kemampuannya dalam bidang tulis-menulis. Tempat itu juga bisa dipakai untuk tempat SBSB, acara-acara pertemuan sastra, dan acara-acara lainnya. Tempat tersebut akan dilengkapi perpustakaan yang tidak hanya diisi buku-buku dari dalam negeri, tetapi juga berbagai buku terbitan luar negeri, baik karya sastra, agama, maupun buku-buku lainnya.</p>
<p>Digagasnya Rumah Puisi sebagai pusat pembelajaran sastra dan bahasa Indonesia antara lain berdasarkan pengalamannya selama ini bersama majalah sastra Horison dan pihak-pihak terkait yang sejak 1998 lalu hingga 2008 menyelenggarakan MMAS dan SBSB. Hingga kini lebih dari 2.000 guru yang ikut MMAS se-Indonesia yang digelar selama enam hari di 12 kota dengan tim terdiri atas 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris yang masuk ke 213 SMA/SMA/MAN. Sedangkan untuk SBSB digelar di 164 kota yang terletak di 31 provinsi.</p>
<p>&#8220;Hasil dari digelarnya acara tersebut antara lain bisa dilihat lewat rubrik Kaki Langit, sisipan majalah sastra Horison. Sebagian besar halaman tersebut diisi siswa dan guru. Selain itu, ada juga rubrik yang secara rutin memperkenalkan apa-siapa sastrawan Indonesia berikut karya-karya yang dikreasinya selama ini,&#8221; kata Taufiq.</p>
<p>**</p>
<p>BEGITULAH, penyair Taufiq Ismail hadir ke hadapan kita saat ini, dengan visi dan misi yang layak didukung semua pihak. Di masa mendatang apa yang dibangun Taufiq Ismail tidak hanya milik keluarga Taufiq Ismail, tetapi akan menjadi aset bangsa dan negara ini yang tak terkira nilainya dalam dunia pendidikan nonformal.</p>
<p>Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/rumah-puisi-taufiq-ismail.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/rumah-puisi-taufiq-ismail-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdakwah Tanpa Mengajari</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/berdakwah-tanpa-mengajari/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/berdakwah-tanpa-mengajari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 22:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Grathia Pitaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23738</guid>
		<description><![CDATA[Grathia Pitaloka Jurnal Nasional, 31 Agu 2008 WACANA mengenai sastra Islami di Indonesia kembali bergaung ketika novel Ayat-ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy disebut sebagai novel terlaris. Tak lama kemudian menjamur karya-karya serupa yang mengusung bendera sastra Islami. Tema Tuhan dan religiositas Islami bukan lagu baru dalam ranah sastra tanah air. Sejak lama tema [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Grathia Pitaloka<br />
Jurnal Nasional, 31 Agu 2008</p>
<p>WACANA mengenai sastra Islami di Indonesia kembali bergaung ketika novel Ayat-ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy disebut sebagai novel terlaris. Tak lama kemudian menjamur karya-karya serupa yang mengusung bendera sastra Islami.</p>
<p>Tema Tuhan dan religiositas Islami bukan lagu baru dalam ranah sastra tanah air. Sejak lama tema tersebut telah jadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. <span id="more-23738"></span>Meski tak secara eksplisit menasbihkan diri sebagai sastra Islami, namun tak dapat dipungkiri sastra pencerahan yang diusung Danarto, sastra profetik oleh Kuntowijoyo, sastra sufistik oleh Abdul Hadi WM serta sastra transenden oleh Sutardji Calzoum Bachri merupakan sari pati dari sastra Islami.</p>
<p>Berbicara mengenai sastra Islami tak genap rasanya jika tak menyebut karya-karya Haji Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Hamka. Karya sastrawan kelahiran Danau Maninjau, 16 Febuari 1908 ini memang dikenal sarat akan nilai-nilai Islami.</p>
<p>Hal itu tak lepas dari kehidupan masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan ulama. Hamka juga sempat menimba ilmu kepada tokoh pergerakan Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, H Oemar Said Tjokroaminoto, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin.</p>
<p>Selain menekuni dunia tulis menulis, Hamka muda juga aktif dalam organisasi pergerakan Islam. Ia merupakan pendiri Majelis Tabligh Muhammadiyah Padangpanjang. Pergerakan menjadi dunia yang Hamka geluti hingga akhir hayatnya.</p>
<p>Dari 118 buah pena yang dihasilkannya semasa hidup, Di Bawah Lindungah Kabah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan dua novel yang mendapat sambutan paling meriah.</p>
<p>Bisa dibayangkan pada 2005 novel Di Bawah Lindungah Kabah telah dicetak ulang sebanyak 30 kali, tak jauh beda dengan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang telah dicetak ulang sebanyak 29 kali.</p>
<p>Secara implisit</p>
<p>Dalam novel Di Bawah Lindungah Kabah serta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka meracik nilai-nilai keislaman secara implisit. Jangankan kutipan ayat suci Al-quran, penyebutan kata Islam pun dapat dihitung dengan jari. &#8220;Hamka memasukkan nilai-nilai agama secara universal, sehingga umat di luar Islam juga tertarik untuk menikmatinya,&#8221; kata kritikus sastra Jakob Sumardjo kepada Jurnal Nasional, Selasa (26/8).</p>
<p>Jakob mengatakan, Hamka dalam karya-karyanya mengajak para pembaca untuk berpikir serta merenung mengenai konsep Islam. &#8220;Hamka lebih mengutamakan substansi keislaman ketimbang pemaparan tentang hukum-hukum Islam secara eksplisit,&#8221; ujar Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini.</p>
<p>Panasnya situasi politik Orde Lama juga berpengaruh pada karier penulisan Hamka. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sempat dituding sebagai plagiat dari roman sastrawan Prancis, Alphonse Karr yang kemudian disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi.</p>
<p>Bahkan sejak 5 Oktober 1962, lembaran kebudayaan Lentera pada harian Bintang Timur, yang dipimpin Pramoedya Ananta Toer dan S. Rukiah, secara bersambung menurunkan tulisan berjudul &#8220;Aku Mendakwa Hamka Plagiat!&#8221;.</p>
<p>Pro dan kontra menyelimuti polemik tersebut, Jika Lekra cenderung memojokkan Hamka maka HB Jassin serta para budayawan yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan (Manikebu) malah memberikan dukungan.</p>
<p>Sastrawan Minang Haris Effendi Thahar mengatakan, novel karya Hamka memang memiliki kemiripan alur dengan karya Alphonse Karr, namun jika dibandingkan substansinya, keduanya jauh berbeda. &#8220;Novel yang ditulis Hamka sangat kental nuansa Minangnya. Mungkin memang Hamka pernah membaca novel tersebut dan ia terinspirasi,&#8221; kata Haris.</p>
<p>Penyajian serupa juga dapat dinikmati dalam cerita pendek Robohnya Surau Kami buah karya Ali Akbar Navis. &#8220;Hingga saat ini belum ada cerita bertema agama sebaik karya Navis,&#8221; kata Sastrawan Darman Moenir kepada Jurnal Nasional, Rabu (27/8).</p>
<p>Robohnya Surau Kami bercerita tentang seorang kakek penjaga Surau yang meninggal dengan menggorok lehernya sendiri karena merasa tersindir oleh cerita Ajo Sidi. Kepada si kakek, Ajo Sidi bercerita mengenai Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid.</p>
<p>Sama seperti kakek penjaga surau, Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan dengan tekun.Tapi, saat &#8220;hari keputusan&#8221;, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka.</p>
<p>Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, &#8220;kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.&#8221;</p>
<p>Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.</p>
<p>Menurut Jakob, Navis berusaha mengajak pembaca untuk keluar dari pemahaman tradisional, di mana agama hanya sekadar menjalankan ibadah. &#8220;Selain menjalankan hukum-hukum wajib, umat Islam juga tidak boleh melupakan kewajiban sosialnya,&#8221; kata Jakob.</p>
<p>Senada dengan Jakob, Haris juga berpendapat karya seperti Navis-lah yang dapat disebut sebagai sastra Islami yang sesungguhnya. &#8220;Nilai-nilai Islam dalam cerita tersebut terlihat secara aplikatif,&#8221; ujar Haris.</p>
<p>Sementara Darman melihat, Robohnya Surau Kami sebagai bentuk gugatan Navis terhadap masyarakat di zamannya yang memaknai ibadah semata-mata demi keselamatan diri sendiri di akhirat, tanpa memikirkan hak-hak orang lain. &#8220;Keikhlasan beribadah merupakan kesadaran paling dalam untuk mengukur kualitas keimanan seseorang,&#8221; kata Darman.</p>
<p>Robohnya Surau Kami juga dapat diterjemahkan secara metaforikal terjadinya degradasi institusi keagamaan akibat perubahan sosial. Agama dianggap tak dapat lagi memecahkan persoalan-persoalan riil dalam masyarakat.</p>
<p>Darman mengatakan, Navis menggunakan cerita pendek sebagai media untuk mengkritik masyarakat. &#8220;Sastra merupakan cermin untuk melihat kondisi dalam segala rupa dan manifestasi,&#8221; ujar Darman.</p>
<p>Berbagai perspektif</p>
<p>Menurut Jakob, Navis mendidik pembacanya dengan taburan metafora dalam tulisannya. Ia mengajak para pembacanya untuk melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif. &#8220;Hidup begitu kompleks untuk dipahami secara literal dan superfisial,&#8221; kata Jakob.</p>
<p>Selain karya Navis dan Hamka, ada beberapa karya sastra yang kental dengan nuansa Islami meski mereka tak pernah menasbihkan diri sebagai sastra Islam. Misalnya saja, Djamil Suherman yang menerbitkan sebuah novel berjudul Perjalanan ke Akherat (1963). Novel tersebut berkisah tentang perjalanan seorang guru di alam barzah yang lantaran kejujurannya, masuk surga, dan istrinya&#8211;karena bunuh diri&#8211;terlunta-lunta di akherat.</p>
<p>Sebelumnya ada karya Muhammad Ali yang berjudul Di Bawah Naungan Al-Quran (1957). Suasana keagamaan yang digambarkan novel itu terasa begitu kuat, tetapi novel tersebut tidak dikategorikan sebagai sastra Islami.</p>
<p>Sejumlah karya lain juga sarat akan muatan doktrin Islam. Sebutlah misalnya karya Mohammad Diponegoro (Siklus, 1975) atau Ahmad Tohari (Kubah, 1980). Bahkan, sejumlah cerpen kedua sastrawan itu jelas sekali mengangkat kisah-kisah sufi.</p>
<p>Belakangan, Motinggo Busye dalam novel pendeknya, Sanu, Infinita-Kembar (1985) juga mengangkat kisah sufistik. Jika hendak lebih jelas lagi, periksa cerpen Danarto yang berjudul Lempengen-lempengen Cahaya. Di sana, Danarto menampilkan tokoh Al-Fatihah sebagai tokoh utamanya.</p>
<p>Pada tahun 1970-an, Abdul Hadi WM, Danarto, Fudoli Zaini, Ikranegara, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan beberapa sastrawan lainnya pernah pula menggulirkan konsepsi sastra Islam secara lebih luas. Munculnya istilah-istilah sastra sufi, sufistik, sastra tasawuf, sastra profetik, dimungkinkan lantaran terjadinya polemik tentang itu.</p>
<p>Jika para sastrawan terdahulu lebih memilih menyajikan nilai-nilai Islam secara implisit, tidak untuk generasi setelah reformasi. Mereka tampak lebih &#8220;berani&#8221; menyajikan Islam dalam tulisan, bahkan tak segan mengutip ayat Al-quran.</p>
<p>Seperti kupu-kupu mereka tampak bangga dengan embel-embel sastra Islam yang tersemat, laksana sayap. Tak seperti generasi sebelumnya mereka lebih tertarik berbicara mengenai hukum-hukum Islam secara blak-blakan.</p>
<p>Pengkotak-kotakan sastra Islami dan non-Islami tersebut, menurut Haris sebenarnya malah merugikan penulis sendiri. &#8220;Sebenarnya mereka telah lari dari konsep sastra yang seharusnya bersifat universal,&#8221; kata Haris.</p>
<p>Kurangnya pendalaman dalam tulisan juga dipermasalahkan Darman sebagai kekurangan penulis yang mengusung label sastra Islam. &#8220;Tidak ada pembaharuan dalam penyampaian, mereka serta merta mencantumkan ayat Al-quran. Kenapa mereka tidak menulis dalam bentuk kitab saja?&#8221; ujar Darman mengkritik.</p>
<p>Penulis pengusung gerakan sastra Islami saat ini juga dianggap kurang kritis serta kurang peka terhadap gejala sosial di sekitarnya. Mereka cenderung mengangkat hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan umat. &#8220;Padahal masalah yang dihadapi umat muslim sekarang bertumpuk,&#8221; kata Darman.</p>
<p>Jakob mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perubahan cara bertutur dalam sastra Islami adalah perkembangan masyarakat sendiri. &#8220;Sekarang cara eksplisit yang lebih manjur ke umat, karena banyak yang membutuhkan tulisan mengenai hukum Islam. Buktinya Ayat-ayat Cinta dicetak hingga berkali-kali,&#8221; kata Jakob.</p>
<p>Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/oase-budaya-berdakwah-tanpa-mengajari.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/berdakwah-tanpa-mengajari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surau</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/surau/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/surau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 22:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Arie MP Tamba]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23735</guid>
		<description><![CDATA[Arie MP Tamba Jurnal Nasional, 31 Agu 2008 PROSA Indonesia menjadi ruang penelitian yang kaya dan mengasyikkan, tentang betapa besarnya pengaruh surau di dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Surau adalah sebuah tempat bersembahyang lima waktu (kecuali sholat Jum’at) umat Islam, yang lebih kecil dari masjid. Di pedesaan, keberadaan Surau demikian akrab dengan penduduk, karena di sana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Arie MP Tamba<br />
Jurnal Nasional, 31 Agu 2008</p>
<p>PROSA Indonesia menjadi ruang penelitian yang kaya dan mengasyikkan, tentang betapa besarnya pengaruh surau di dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Surau adalah sebuah tempat bersembahyang lima waktu (kecuali sholat Jum’at) umat Islam, yang lebih kecil dari masjid. Di pedesaan, keberadaan Surau demikian akrab dengan penduduk, karena di sana juga biasanya diadakan pengajian.<span id="more-23735"></span></p>
<p>Adalah Kuntowijoyo, melalui cerpennya Sepotong Kayu untuk Tuhan (Horison, 1972), yang memperlihatkan secara eksplisit, bagaimana persoalan religiositas, agama, dan mistisisme disoroti di dalam jalinan kisah yang enak dibaca. Seorang lelaki tua ingin menyumbang kayu nangka (kayu bangunan yang paling mulia bagi orang Jawa) dari kebunnya untuk pembangunan sebuah surau di desanya.</p>
<p>Tapi si tokoh cerita bentukan Kuntowijoyo, demikian rendah hati, dan merasa malu bila sumbangannya untuk pembangunan rumah ibadah itu diketahui orang lain. Maka, ia pun sengaja menghanyutkan kayu itu malam-malam, melalui sungai yang akan melewati samping masjid. Diperkirakan, kayu itu nanti akan tersangkut di antara rimbunan semak tepi sungai di dekat masjid. Lalu, orang-orang desa pun akan menemukan kayu nangka itu dengan gembira dan bersyukur kepada Tuhan, karena mengirimkan gelondongan kayu yang sangat mereka butuhkan.</p>
<p>Dari sinilah religiositas sang tokoh dijabarkan secara samar namun matang. Religio berasal dari istilah Latin relego, yang berarti: memeriksa lagi, menimbang-nimbang, merenungkan di kedalaman hati nurani. Sementara secara umum diartikan, manusia religios dengan aman dapat diartikan sebagai manusia yang berhati nurani serius, saleh, teliti dalam pertimbangan bathin. Jadi yang digarisbawahi adalah sebuah kualifikasi moral dan etik, yang diproyeksikan maksimal, bahkan sempurna; tanpa mempersoalan ia menganut agama yang mana (Mangunwijaya, 1982).</p>
<p>Sikap rendah hati si tokoh cerita dalam cerpen Kunto misalnya, bisa juga dipahami melalui pendekatan Kristiani yang menegaskan, ”apa yang kamu dermakan dengan tangan kirimu, kiranya janganlah diketahui tangan kananmu. Niscaya apa yang kau sumbangkan tetap tersembunyi, hanya diketahui oleh Tuhan.” Pilihan sikap pemberi seperti ini, tentu saja membutuhkan pertaruhan ketulusan penyerahan yang luar biasa. Setitik kesombongan pun harus dimusnahkan dari dalam hati.</p>
<p>Tapi, alam ternyata tak selalu bisa dibaca, dan suratan nasib tak bisa ditentukan. Di dalam kenyataan, dan juga di dalam fiksi, kejutan lazim terjadi. Apa yang sudah kita perkirakan secara ketat di dalam perencanaan hidup, hasilnya sering kali muncul berupa sesuatu yang lain. Acap kali, kita menjalani kenyataan hari ini, lari dari perkiraan kemarin. Lain sama sekali. Impian seperti rubuh tak berarti di atas kenyataan yang berbeda.</p>
<p>Pada malam pengiriman kayu nangka itu, terjadi hujan lebat dan kemudian diikuti oleh banjir. Di luar kelaziman selama berpuluh tahun, desa di tepi sungai itu pun kebanjiran. Dan tentu saja, kayu nangka kiriman si orangtua untuk pembangunan surau, hanyut entah ke mana. Desa itu seperti dilahirkan dengan persoalan baru: menunggu surutnya banjir, dengan bahan bangunan surau yang masih harus dicari.</p>
<p>Tapi si orangtua ternyata tidak merasa sedih karena kehilangan kayu nangkanya. Sebab, sebagaimana digambarkan Kuntowijoyo secara cemerlang dan mengharukan, di ujung cerpennya, terdengarlah gumam lirih, ”Telah sampai kepada-Mu-kah Tuhan?” kata lelaki tua itu tersenyum.</p>
<p>Dengan teknik penceritaan yang lebih di permukaan, namun tetap sarat renungan tentang makna agama dan fungsionalisasi surau di pedesaan, AA Navis pernah menuliskan sebuah cerpen yang kemudian mendapat sambutan diskusi para penggemar sastra, yakni Robohnya Surau Kami (Kisah, 1955).</p>
<p>Di dalam cerpen tersebut, AA Navis mempertemukan orang-orang yang bersalah dengan Tuhan dan menjadi pembicaraan ramai di kalangan agama. Di dalam ceritanya, Navis juga menyusun sebuah kisah dialog yang intens antara Tuhan dengan seorang haji bernama Saleh. Haji Saleh yang yang telah merasa cukup beribadah di surau itu, ternyata dimasukkan Tuhan ke neraka, karena kurang berbuat amal praktis di dalam hidupnya. Sebab, apalah arti agama bila tidak memuat kemanusiaan?</p>
<p>Tema religiositas memang melekat dengan kepengarangan Navis. Umar Junus di majalah sastra Horison (1972), pernah menyebut ”Navis dalam Dua Muka”, menyangkut isi kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami dengan Datangnya dan Perginya, dalam hubungannya dengan novel Kemarau yang merupakan ’gabungan’ persoalan dari kedua cerpen tersebut.</p>
<p>Ibadat harus disertai dengan pengolahan kehidupan. Itulah yang ditonjolkan cerpen Robohnya Surau Kami dan Datangnya dan Perginya. Sementara, dalam novel Kemarau, Navis seperti muncul dengan formalisme agama yang tertutup – sementara hal itu dibiarkan terbuka – dalam cerpen Datangnya dan Perginya.</p>
<p>Dalam Datangnya dan Perginya, dua kakak beradik yang tidak mengetahui sama sekali hubungan darah mereka, terlanjur jatuh cinta, menikah, dan dibiarkan hidup berbahagia oleh si pengarang. Orang-orang yang mengetahui persaudaraan itu, menutup mulut hingga akhir kisah.</p>
<p>Sementara di dalam Kemarau, dua kakak beradik yang terlanjur menikah, setengah mengetahui hubungan bersaudara mereka, kemudian memutuskan bercerai. Lalu, si pengarang membuka peluang bagi masing-masing tokoh memulai kembali hidup baru dengan rumah tangga masing-masing. Dan tentu saja, semua tokoh Navis itu, sedikit banyak bersinggungan dengan surau di tempat mereka.</p>
<p>Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/oase-budaya-surau.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/surau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sastra dan Pembentukan Karakter</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sastra-dan-pembentukan-karakter/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sastra-dan-pembentukan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 22:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Bulqia Mas’ud]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23732</guid>
		<description><![CDATA[Bulqia Mas’ud http://www.kompasiana.com/Bulqia Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar bin Khattab ra) Berbicara sastra tidak sekadar berbicara mengenai kata-kata indah atau struktur sastra secara umum. Sastra itu luas. Sastra bisa berbicara mengenai refleksi sosial, kemanusiaan, sejarah sosial, perubahan sosial dan nilai-nilai. Sejauh ini, menurut pengamatan penulis, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulqia Mas’ud</p>
<p>http://www.kompasiana.com/Bulqia</p>
<p>Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar bin Khattab ra)</p>
<p>Berbicara sastra tidak sekadar berbicara mengenai kata-kata indah atau struktur sastra secara umum. Sastra itu luas. Sastra bisa berbicara mengenai refleksi sosial, kemanusiaan, sejarah sosial, perubahan sosial dan nilai-nilai. <span id="more-23732"></span>Sejauh ini, menurut pengamatan penulis, di universitas-universitas, sastra selalu dipandang sebagai ilmu terbelakang yang tidak memberikan kontribusi langsung untuk memperbaiki masyarakat. Hanya menggantung di langit imajinasi, tidak berpijak di bumi, beda dengan ilmu-ilmu lain seperti kedokteran dan teknik. Padahal dalam sebuah karya sastra kita bisa mengenali karakter dan menemukan nilai-nilai yang bisa menunjang pembentukan watak seseorang. Sastra mampu masuk ke hati sehingga memperbaiki moralitas pelajar.</p>
<p>Petuah Umar Bin Khattab di atas cukup menggambarkan kaitan erat antara sastra dan pembentukan karakter seseorang. Dengan mengajarkan sastra, kita menjadi tahu makna kehidupan. Kita menjadi terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan keindahan dan kelembutan. Sastra mengajarkan kita untuk peduli dan empati. Ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai moral bisa diungkapkan tanpa kesan menggurui. Bahkan kegemilangan sebuah peradaban bisa dilihat dari sastrawan dan karya-karya sastra yang lahir pada masa itu. Seperti kegemilangan Islam yang melahirkan ulama sekaligus sastrawan seperti Imam Syafi’i, Jalaluddin Rumi, Umar al Khayyam dll. Di Jepang, sastra begitu dinamis seperti munculnya puisi-puisi pendek yang kita kenal dengan haiku.</p>
<p>Fungsi Sastra sendiri menurut Horace adalah Dulce el Utile. Indah dan berguna. Bahasa sastra adalah bahasa yang estetis yang mampu menghaluskan dan membangkitkan jiwa dan perasaan. Di sinilah fungsi keindahan sastra. Sastra mampu mengungkapkan ide yang rumit menjadi lebih estetis dan memahaminya dengan menggunakan cita rasa. Karena struktur kata yang digunakan lebih estetis, pembaca merasa tidak digurui. Sastra mentransformasi pesan, nilai-nilai, dan menunjukkan karakter melalui sebuah cerita dan kata-kata indah.</p>
<p>Fungsi yang kedua, yaitu berguna. Sastra mengandung pesan yang bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat. Sastra membawa nilai-nilai yang mampu memperbaiki tatanan kehidupan sosial masyarakat. Jika mereka pembaca sastra, berarti mereka mampu memetik nilai-nilai sehingga memengaruhi karakter pembacanya.</p>
<p>Jika mereka seorang penulis, sastra adalah media positif untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keadaan yang sedang terjadi di kehidupan sosialnya. Seorang sastrawan biasanya lebih bijak bertindak. Mereka mampu mecermati peristiwa-peristiwa sosial. Melakukan perlawanan damai. Mereka memiliki kedalaman berpikir yang tinggi hingga mampu memediasi pemikirannya dalam ungkapan-ungkapan yang lebih halus. Kita mengenal para pemikir yang juga para sastrawan hebat dalam islam seperti Jalalluddin Rumi, Al Ghazali, Umar al Khayyam, Sayyid Qutb, Sir Muhammad Iqbal. Filsuf Eropa, Leo Tolstoy, Nietzsche, dan Soe Hok Gie di Indonesia. Hingga generasi Pramoedya Ananta Toer, Taufik Ismail dan Rendra yang karya-karyanya sangat responsif terhadap keadaan.</p>
<p>Dalam buku Metode Pengajaran Sastra, B. Rahmanto mengatakan seseorang yang telah banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. Secara umum lebih lanjut dia akan mampu menghadapi masalah-masalah hidupnya dengan pemahaman, wawasan, toleransi dan rasa simpati yang lebih mendalam (Rahmanto, 1988: 25). Dalam karya sastra terkandung nilai-nilai, pesan yang dibungkus dalam cerita yang merefleksikan kehidupan sosial, konflik cerita, serta cara-cara tokoh mengelola konflik. Hal ini tentu saja memberikan pelajaran untuk menghadapi persoalan kehidupan. Melalui pembacaan yang mendalam, sastra pada akhirnya mampu mengubah karakter seseorang.</p>
<p>Menurut Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya Hakikat Berpikir, memahami teks-teks sastra membutuhkan cita rasa. Apabila cita rasa itu tidak terwujud maka tidak mungkin seseorang akan memahami teks sastra. Tambahnya lagi, memahami teks sastra akan dapat menggerakkan perasaan dan membangkitkan kita sehingga akan meninggalkan pengaruh pada diri kita. Dengan sedirinya ketika kita membiasakan membaca dan memahami teks-teks sastra, maka cita rasa itu muncul sendiri dan mengubah pola sikap kita.</p>
<p>Jadi sastra adalah sumber nilai yang dapat memberikan kesan religius. Mempelajari sastra mampu menyentuh bahkan menggerakkan perasaan kita hingga mengubah pola sikap dan membentuk karakter. Di dalamnya terkandung pesan-pesan moral, ungkapan kata-katanya menimbulkan kesan estetis. Nilai-nilai yang baik tentu akan kita temukan jika karya sastranya juga mengandung ruh spiritual dan kebaikan.</p>
<p>“Sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra” (Buya Hamka)</p>
<p>Mahasiswa Sastra Inggris Unhas 2008<br />
Pengurus FLP Cabang Makassar<br />
Dijumput dari: http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/11/sastra-dan-pembentukan-karakter/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sastra-dan-pembentukan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Menyatu dengan Tuhan</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/perjalanan-menyatu-dengan-tuhan/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/perjalanan-menyatu-dengan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Danarto]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23728</guid>
		<description><![CDATA[Danarto * http://majalah.tempointeraktif.com/ MUSYAWARAH BURUNG: Faridu&#8217;d-Din Attar Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1983, 253 halaman MAKA, berkumpullah segala macam burung, baik yang dikenal maupun tldak, di dunia ini. Burung-burung itu – menyelenggarakan musyawarah. Makhluk yang bisa terbang ini sadar bahwa ternyata kerajaan burung tak memiliki raja. Pada hal, menurut keyakinan mereka, tidak ada negeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Danarto *</p>
<p>http://majalah.tempointeraktif.com/</p>
<p>MUSYAWARAH BURUNG: Faridu&#8217;d-Din Attar<br />
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1983, 253 halaman</p>
<p>MAKA, berkumpullah segala macam burung, baik yang dikenal maupun tldak, di dunia ini. Burung-burung itu – menyelenggarakan musyawarah. Makhluk yang bisa terbang ini sadar bahwa ternyata kerajaan burung tak memiliki raja.<span id="more-23728"></span> Pada hal, menurut keyakinan mereka, tidak ada negeri di dunia ini yang tak beraja. Dan tak ada suatu negeri yang mampu menyelenggarakan pemerintahannya dengan baik tanpa raja.</p>
<p>Keadaan kerajaan burung yang demikian tak boleh dibiarkan terus. Lalu tampillah Hudhud, burung kesayangan Nabi Sulaiman, memimpin mereka. “Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan,” kata Hudhud di tengah majelis. Ia bercerita bahwa sebenarnya mereka mempunyai raja sejati, Simurgh namanya, yang tinggal di Pegunungan Kaukasus. Ia raja segala burung.</p>
<p>Raja burung yang perkasa ini dekat dengan mereka. Tapi mereka jauh darinya. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tiada lidah yang dapat mengucapkan namanya. Di muka Simurgh tergantung seratus ribu tabir cahaya dan kegelapan. Dan dalam kedua dunia itu tak ada yang dapat menyangsikan kerajaannya. Simurh raja berkekuasaan mutlak di sebentang semesta. Ia bermandikan kesempurnaan, keagungan, dan kesucian. Ia tak membukakan diri sepenuhnya meski di tempat persemayamannya sendiri. Dan tentang ini tak ada pengetahuan dan kecerdasan yang dapat meraihnya.</p>
<p>Uraian Hudhud memikat burung-burung itu. Dengan bersemangat, musyawarah itu membicarakan keagungan raja mereka. Lalu mereka tak sabar lagi, ingin segera berangkat bersama-sama mencarinya. Tapi ketika menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan nanti, mereka jadi ragu-ragu. Lalu mereka keberatan untuk berangkat dengan dalihnya masing-masing. Bulbul, misalnya, tak mungkin meninggalkan tempat karena begitu besar hasratnya untuk menyebarkan senandung cinta. Merak enggan meninggalkan kemewahannya. Rajawali tidak mau berpisah dengan para raja di dalam istana. Namun, Hudhud mampu meyakinkan mereka. Perjalanan menuju Simurgh satusatunya tujuan dalam hidup, meskipun amat sukar ditempuh. Dan hanya dengan cinta segala kesukaran dapat diatasi. Mereka pun berangkat.</p>
<p>Akhirnya, tinggal 30 ekor saja yang sampai di balairung Simurgh. Dan ketika mereka bertatap muka dengan Raja, mereka tak berbeda dengan-Nya. Tiga puluh (si-murgh) burung adalah Simurgh, dan Simurgh adalah tiga puluh burung itu sendiri.</p>
<p>Puisi alegoris Faridu’d-Din Attar (1110-1230), Musyaarah Burung, merupakan salah satu monumen kesusastraan sufi di samping Masnawi karya Jalaluddin Rumi (1217-1273). Diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds terjemahan C.S. Nott dari Mantiqu’t Thair.</p>
<p>Attar – yang waktu mudanya suka mengembara ke Mesir, Syria, Arab Saudi, India, dan Asia Tengah lahir di Nishapur (di Iran sekarang), sekota dengan Pujangga Omar Khayyam. Ditilik dari namanya, Attar, mistikus besar ini dianggap turun-temurun bergerak dalam usaha apotek, kedokteran, dan wangi-wangian.</p>
<p>Awal kesufian Attar, menurut cerita, yaitu ketika pada suatu hari di depan kedai parfumnya ia mengusir seseorang yang disangkanya pengemis. Ternyata, pengemls itu seorang sufi. Ia menjawab bahwa tak ada kesukaran baginya untuk pergi. Sebaliknya bagi Attar. Apakah ia sanggup pergi begitu saja sambil meninggalkan kekayaannya yang berbau wangi itu? Sindiran sufi ini mengena di hati Attar. Ia serta-merta meninggalkan kekayaannya. Faridu’d-Din Attar, yang tewas dipenggal prajurit Jenghis Khan ketika berusia 110 tahun, mendapat julukan Sauthus Salikin – cemeti orang yang mengerjakan suluk.</p>
<p>Musyawiarah Burung, yang ditulis Attar selama tiga tahun (1184-1187), didahului puji-pujian kepada Allah Yang Maha suci dan utusan-Nya, Nabi Muhammad, serta ucapan selamat kepada burung-burung. Buku yang mirip dongeng ini menggambarkan pemikiran Attar – pelajaran sufisme dengan tujuh jenjang (maqam) Lembah Pencarian, Lembah Cinta Lembah Keinsafan, Lembah Kebebasan dan Kelepasan, Lembah Keesaan, Lembah Keheranan dan Kebingungan, serta Lembah Keterampasan dan Kematian. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr, dalam Sufi Essays, mencatat adanya 40 tingkatan berdasarkan ajaran sufisme Abu Sa’id ibn Abi’l-Khayr.</p>
<p>Kekatan Musyawarah Burung sebagai karya adalah kemampuan menghadirkan lambang secara sempurna. Burung sebagai lambang manusia sangat lentur bagi penggambaran roh yang setiap saat siap melesat dari dalam tubuh. Diselang-selingnya kisah para nabi dan para sufi, menghadirkan Musyawarah Burung sebagai karya yang “modern”, sejauh struktur dan bentuk penyuguhan menjadi bagian penting pengucapan seorang sastrawan.</p>
<p>Bagi seorang sufi, nomor satu adalah Allah. Nomor dua adalah Allah. Dan nomor tiga adalah Allah. Setiap jengkal perjalanan mistik seorang sufi adalah ujian. Dan ujian itu dapat berupa apa saja, termasuk keluarga dan harta. Karena tujuan hidup adalah untuk kembali menyatu dengan Allah, dengan sendirinya semuanya dikesampingkan.</p>
<p>Ibnu Arabi (1102-1240), yang mempunyai paham wihdatul wujud (kesatuan wujud), meyakini bahwa Wujud (Yang Ada) itu hanya Satu. Dalam tiap-tiap yang berwujud itu terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Jika ada perbedaan antara yang tampak dan tidak, maka perbedaan itu hanya rupa dan ragam dari hakikat Yang Esa.</p>
<p>Arabi menulis puisi: Hamba adalah Tuhan, dan Tuhan adalah hamba Demi syu’urku, siapakah yang mukallaf? Kalau engkau katakan Hamba, padahal ia Tuhan Atau engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintahkan? (terjemahan Hamka dalam Tasauf, Perkembangan, dan Pemurniannya). Jalaluddin Rumi juga menulis puisi Orang Tuhan yang menerangkan pandangannya yang Serba-dalam-Illahi.</p>
<p>Bahwa “beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh” (Musyawarah Burung, halaman 60), mendudukkan Attar, Arabi, dan Rumi sebagai mata rantai yang berurutan. Dan sebagaimana para sufi lainnya, bagi Attar hanya cinta yang dapat menghantarkan kita ke haribaan Allah. Lalu penyatuan pun berlangsung: Hamba tak tahu apakah Engkau hamba atau hamba Engkau, hamba telah menjadi tiada dalam Engkau dan keduaan pun lenyaplah.</p>
<p>*) Danarto, Sastrawan yang banyak mempelajari sufisme /10 Maret 1984<br />
Dijumput dari: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1984/03/10/BK/mbm.19840310.BK42424.id.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/perjalanan-menyatu-dengan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Cipasung Menatap Indonesia</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/dari-cipasung-menatap-indonesia/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/dari-cipasung-menatap-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Canting]]></category>
		<category><![CDATA[Adhitya Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Dedi Muhtadi]]></category>
		<category><![CDATA[Frans Sartono]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23726</guid>
		<description><![CDATA[Adhitya Ramadhan, Frans Sartono, Dedi Muhtadi Kompas, 8 Juni 2008 Aku melukis tubuhmu Dengan cahaya pagi Tubuhmu memanjang Seperti air kali Itu puisi ”Kenangan” tulisan Acep Zamzam Noor yang dimuat dalam buku kumpulan puisinya, ”Menjadi Penyair Lagi”, terbitan Pustaka Azan, 2007. Dr Mikihiro Moriyama, guru besar Departemen Kajian Asia, di Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang, dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adhitya Ramadhan, Frans Sartono, Dedi Muhtadi<br />
Kompas, 8 Juni 2008</p>
<p>Aku melukis tubuhmu<br />
Dengan cahaya pagi<br />
Tubuhmu memanjang<br />
Seperti air kali</p>
<p>Itu puisi ”Kenangan” tulisan Acep Zamzam Noor yang dimuat dalam buku kumpulan puisinya, ”Menjadi Penyair Lagi”, terbitan Pustaka Azan, 2007.<span id="more-23726"></span> Dr Mikihiro Moriyama, guru besar Departemen Kajian Asia, di Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang, dalam pengantar buku itu menulis. ”Dia tidak hanya melukis di atas kanvas dengan cat minyak, tapi juga melukis dengan kata”.</p>
<p>Itulah Acep Zamzam Noor (48), penyair dan perupa yang menetap di kampung Cipasung, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Rumahnya berada tak jauh dari kompleks Pondok Pesantren Cipasung, yang didirikan kakeknya, KH Ruhiat, pada tahun 1931.</p>
<p>Di depan rumahnya terhampar sawah yang pada awal Mei lalu tengah dibajak. Di jalan masuk menuju kampung terpasang gapura yang mengingatkan orang pada karya instalasi kontemporer. Mungkin karena salah seorang penghuninya, si Acep, adalah seniman yang pernah kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.</p>
<p>Dari kampung Cipasung, Singaparna, Acep merespons secara kreatif realitas kehidupan di sekitarnya lewat lukisan, puisi, termasuk ”puisi konkret” berupa spanduk sebagai semacam bentuk counter culture atau perlawanan diam-diam terhadap anomali-anomali di sekiranya termasuk perilaku politisi.</p>
<p>Anda tampaknya kerasan di Cipasung?</p>
<p>Karena kalau saya ke kota, berarti saya harus punya majikan. Ternyata juga seniman yang punya majikan itu hidupnya kerepotan sekali. Ini tidak baik bagi seniman. Selain itu, di daerah hidup akan lebih sederhana.</p>
<p>Demikian Acep yang ketika ditemui mengenakan kaus bertuliskan ”Islam Tapi Mesra”. Tulisan pada kaus dan juga spanduk merupakan bagian dari cara Acep dan komunitasnya merespons realitas di sekitarnya.</p>
<p>Di Singaparna, istri Acep, Hajah Euis Nurhayati, membuka usaha warung kelontong, sementara Acep menjadi ”majikan” bagi energi kreatifnya sendiri. Ia tetap menulis puisi, melukis di studionya yang terletak di lantai dua rumahnya. Di ruang tamu terpajang lukisan bertuliskan Heart of a Horse dengan inisial namanya, AZ, pada kanvasnya.</p>
<p>Acep juga menjadi kawan yang baik bagi peminat seni di Tasikmalaya. Rumah keluarga Acep menjadi semacam titik temu seniman dan peminat seni Tasik.</p>
<p>”Sebenarnya berkarya di daerah berat sekali karena selain berkarya, energi kita juga terkonsentrasi untuk membangun infrastruktur, membangun komunitas juga,” kata Acep yang membentuk Komunitas Azan pada tahun 1996.</p>
<p>”Ini merupakan gerakan apresiasi. Kami menjadikan halaman rumah sebagai tempat pertunjukan. Kalau menggelar kesenian di gedung kesenian itu, kan, mengundang masyarakat untuk datang. Itu sangat sulit di Tasik. Kalau digelar di rumah, masyarakat akan lebih dekat dengan berbagai jenis kesenian dari tradisional sampai kontemporer.”</p>
<p>Tahun 1991-1993 ia mendapat fellowship dari pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia. Tiga tahun kemudian, ia ikut workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996).</p>
<p>Lingkungan dan dinamika kehidupan masyarakat apakah yang berpengaruh pada karya Anda?</p>
<p>Dari sisi karya, pergerakan estetika saya menjadi lebih komunikatif agar bisa dipahami masyarakat luas. Bukan estetika yang serius. Akhirnya hal-hal sosial masuk dan memengaruhi dalam karya. Seniman, kan, bukan menara gading, tapi bisa melebur dengan masyarakat.</p>
<p>Komunitas Azan bagian dari infrastruktur itu?</p>
<p>Ini komunitas permanen yang terbentuk sepulang saya dari Itali tahun 1996. Ini gerakan apresiasi seni. Anggotanya seniman dan sastrawan di Tasik. Di antaranya ada Saeful Badar dan Nazaruddin Azhar.</p>
<p>Ini merupakan gerakan apresiasi. Ada Sanggar Sastra Tasik yang membina para penulis muda, ada Partai Nurul Sembako dengan gerakan spanduknya. Para anggota komunitas Azan juga banyak yang mengajar kesenian di sekolah dan madrasah di Tasik.</p>
<p>Ini bukan komunitas anti ”rezim sastra” itu, ya?</p>
<p>Bukan. Ini bukan sebagai bentuk perlawanan ke pusat kebudayaan besar. Ini bukan merupakan gerakan politis untuk menentang pusat karena gerakan politis seperti itu akan mati sendiri karena tidak didukung oleh karya.</p>
<p>Kami melihat apresiasi ke masyarakat itu penting. Kami di sini mengapresiasi semua jenis seni, mulai dari teater, musik, hingga tari, bahkan seni tradisional dan kontemporer juga menjadi bahan pementasan. Saya hanya ingin berbagi kegembiraan dengan masyarakat. Bahwa masyarakat juga layak menikmati karya seni. Biasanya, setelah pementasan ada diskusi sampai larut malam dengan masyarakat seputar pementasan.</p>
<p>Acep mendirikan Partai Nurul Sembako (PNS) tahun 1999. Ini merupakan respons Acep pada bermunculannya partai pada awal era reformasi. Partai Nurul Sembako yang memiliki moto ”Melayani Kebutuhan Sehari-hari” menjadi gerakan perlawanan atau respons sekaligus kritik terhadap praktik politik para politisi.</p>
<p>Partai Nurul Sembako ini untuk meledek partai. Gerakan spanduk ini terbukti efektif sebagai bentuk counter culture. Perlawanan terhadap fenomena yang keras pun menjadi cair karenanya.</p>
<p>Tak kalah dengan parpol, Acep dan kawan-kawan pun ikut-ikutan memasang spanduk. Belakangan spanduk menjadi gerakan khas PNS. Inilah bunyi spanduk yang pernah terpasang di seantero Tasikmalaya.</p>
<p>”Anda Ingin Jadi PNS? Siapkan Uang Rp 30 Juta dan Silahkan Hubungi Nomor Telp 0265 311478 dan 0265 330805”, ”Selamatkan Tasik dari Borjuisme dan Kapitalisme”, ”Tasik Kota Santri = Kota Non fitnah. Tunjukkan Logikanya dan Buktikan Secara Empirik, Bukan Lewat Tafsir Gelagat”, ”Dibuka Pendaftaran Imunisasi Dewan Kota dari Wabah Kadeudeuh dan BPR”, ”Dengan Semangat 45, Maju Terus Pantang Malu”, ”Dijual Segera Kota Tasikmalaya Hubungi Telp 0265 311478 dan 0265 330805”, ”Tasikmalaya Kota Puisi”, ”Tasikmalaya Kota Dangdut”, ”Pilkada Buat Rakyat Enggak Penting-penting Amat”.</p>
<p>Pesantren dan politik</p>
<p>Keluarga besar Acep tak hanya mengelola Pondok Pesantren Cipasung, tapi juga lembaga pendidikan dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi di Tasik. Acep tumbuh dalam tradisi pesantren yang dikelola keluarga, termasuk oleh ayahnya, KHM Ilyas Ruhiat, kiai berwibawa yang menjadi Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Acep adalah anak pertama dari tiga anak pasangan dari KHM Ilyas Ruhiat dengan Hajah Dedeh Faridah.</p>
<p>Sebagai anak dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Acep cukup dekat dengan peristiwa politik di sekitar NU. Asal tahu saja, Pondok Pesantren Cipasung pada tahun 1994 pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Ke-29 NU yang dibuka Presiden Soeharto.</p>
<p>Tak tertarik masuk ke politik?</p>
<p>Untuk saat ini saya tidak tertarik terjun ke politik praktis. Sejak Orde Baru banyak teman yang idealis mau masuk struktur dengan alasan mau mengadakan perubahan dari dalam. Saya tidak pernah percaya itu karena yang hanya akan berubah itu bukan sistemnya, tapi cuma dirinya sendiri.</p>
<p>Saya amati memang banyak politisi yang tak punya integritas. Mereka juga tidak pernah tampil dengan dirinya sendiri. Biasanya mereka menggantungkan diri kepada kiai besar.</p>
<p>Apakah kini ada perbedaan dalam sikap berpolitik?</p>
<p>Dulu ada pengaderan yang berjenjang dalam menempatkan kader ke dalam struktur. Yang berkualitaslah yang tampil. Para anggota pun akhirnya saling mendorong. Sekarang tidak. Yang ada malah saling berebut. Sekarang, semata-mata lebih ke pragmatis saja. Anggota dewan, misalnya, yang dalam waktu singkat menjadi sangat sejahtera. Mereka biasanya memelihara akarnya untuk politik praktis. Jadi kalau kader NU dirontgen cita-citanya sama, yaitu menjadi anggota DPR, ha-ha-ha!</p>
<p>Padahal, politik bagi NU sebenarnya bukan politik praktis. Sikap politik sangat terkait dengan respons terhadap situasi dan keadaan kebangsaan saat itu. Pesantren bukan menjadi bagian dari kekuasaan. Memang ada orang NU yang di kekuasaan, tetapi tetap ada jarak antara pesantren dan kekuasaan.</p>
<p>Kebanyakan orang partai politik saat ini hanya bermain politik bukan berpolitik. Yang jadi tujuan utama adalah uang. Masuk DPR bukan karena mau membela rakyat, tapi karena di situ banyak proyek yang bisa dimainkan.</p>
<p>Apakah para kiai masih menjadi obyek tarik-menarik kepentingan politik?</p>
<p>Kalau mau kalah, minta saja dukungan dari PKB. Mulai dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah mayoritas calon yang diusung PKB kalah. Bahkan, di Tasik sendiri yang NU-nya sangat kuat.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Sebabnya, setelah partai menerima uang mereka tidur dan tidak berjuang karena uang tadi hanya dianggap sumbangan. Di Jawa Barat juga, ini terbukti.</p>
<p>Perilaku seperti ini bukan tradisi di NU, tapi setelah reformasi. Banyak ulama didekati oleh broker politik, diiming-imingi uang. Akhirnya jadi kebiasaan. Ketika ulama yang berpengaruh sudah tidak ada, akhirnya ulama yang seperti itu yang ada. Ketika kiai jadi juru kampanye, masyarakat sudah tidak respek lagi. Kerusakan akan lebih cepat karena pilkada banyak sekali.</p>
<p>Bagaimana Anda melihat fenomena hasil pilkada di Jawa Barat?</p>
<p>Dari kemenangan pasangan Hade (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf), saya lihat ada kejenuhan masyarakat. Mereka jenuh dengan sosok yang itu-itu juga yang sudah terbayangkan ke depan. Kemudian ada sosok baru, yang sebelumnya tidak terbayangkan. Kejenuhan itu juga yang menyebabkan angka golput tinggi. Fenomena ini juga bisa diartikan sebagai bentuk perlawanan dari masyarakat.</p>
<p>Anda pernah mengampanyekan golput. Mengapa?</p>
<p>Mengampayekan golput bukan berarti antipemilu. Ini merupakan bagian dari pendidikan politik bagi masyarakat. Ketika kandidat tidak bisa dipercaya, ya, tidak perlu memaksakan diri untuk memilih. Lebih baik tidur di rumah. Karena tidur yang paling enak ialah ketika hari pencoblosan, ha-ha-ha&#8230;.</p>
<p>Anda juga menggelar kampanye golput ke jalan-jalan?</p>
<p>Saya juga biasa mengadakan karnaval mengampanyekan golput pada masa tenang pemilu. Pesertanya dari komunitas seniman dan belakangan ada masyarakat yang ikut. Karnaval ini juga sekaligus memberi contoh pada partai bagaimana membuat arak-arakan yang menghibur.</p>
<p>Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/persona-dari-cipasung-menatap-indonesia.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/dari-cipasung-menatap-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perompak dan Orang Laut di Asia Tenggara</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sejarah-perompak-dan-orang-laut-di-asia-tenggara/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sejarah-perompak-dan-orang-laut-di-asia-tenggara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Iskandar P Nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23724</guid>
		<description><![CDATA[Iskandar P Nugroho * Kompas, 8 Juni 2008 DALAM historiografi tradisional Asia Tenggara, perompak atau bajak laut, pekerja seks, tukang ”rickshaw” dan kelompok ”orang kecil” lain seolah dikelompokkan sebagai ”underclass” dan dipresentasikan sebagai ”the people without history”. Padahal, mereka justru merupakan elemen penting yang memengaruhi perubahan lanskap budaya dan sejarah Asia Tenggara. Temuan brilian itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Iskandar P Nugroho *<br />
Kompas, 8 Juni 2008</p>
<p>DALAM historiografi tradisional Asia Tenggara, perompak atau bajak laut, pekerja seks, tukang ”rickshaw” dan kelompok ”orang kecil” lain seolah dikelompokkan sebagai ”underclass” dan dipresentasikan sebagai ”the people without history”. Padahal, mereka justru merupakan elemen penting yang memengaruhi perubahan lanskap budaya dan sejarah Asia Tenggara.<span id="more-23724"></span></p>
<p>Temuan brilian itu antara lain terungkap lewat buku baru yang menggunakan pendekatan etnografi kesejarahan untuk menganalisa masa lalu Asia Tenggara. Orang yang tak diperhitungkan itu, menurut penulis, termasuk pula petani kecil, kuli perkotaan, perompak/orang gipsi laut.</p>
<p>Terinspirasikan pendahulunya, Prof John Smail, yang menganjurkan penulisan sejarah otonom dengan perspektif paralel (hal 4), penulisnya mencoba menuliskan sejarah Asia Tenggara berdampingan dengan ingar-bingarnya sejarah imperialisme Barat, lewat pemanfaatan sebanyak mungkin sumber dan data sejarah lokal yang terabaikan selama ini.</p>
<p>Pendekatan kesejarahan seperti itu jelas menghasilkan rekonstruksi sejarah alternatif atas beberapa kelompok masyarakat di wilayah ini, yakni sejarah dari mereka yang selama ini termarginalkan.</p>
<p>Usaha penulis jelas telah menambah deretan sejarawan lain yang mencoba (dan berhasil) dalam menghidupkan kembali suara-suara kelompok yang terpinggirkan untuk muncul bergema kuat dalam historiografi sejarah. Dengan menggunakan temuan arkeologi, tradisi oral, dan materi visual demi mengayakan sumber tertulis, Jean Taylor, dalam Indonesia: Peoples and Histories (2003), misalnya, berhasil merekonstruksikan sejarah Indonesia yang lebih plural, mengangkat komunitas kecil dan topik-topik yang dianggap sepele untuk memperlihatkan kontribusi kuat mereka dalam proses-proses penciptaan Indonesia modern.</p>
<p>Tidak berbeda dengan Taylor, Ruth Balint dalam Troubled Waters: Borders, Boundaries, Possession in the Timor Sea (2005) juga berhasil mengangkat dinamika peradaban yang hidup, berkembang dan menghilang di area perairan selatan Indonesia, yakni wilayah antara Laut Timor dan pesisir utara Australia. Kisah nelayan Timor dan masyarakat asli Aborigin di sana dapat mencuat berkat penolakan Balint atas penggunaan konsep partisi geografi modern abad ke-20 sebagai pembatas Asia Tenggara dengan Benua Australia.</p>
<p>Seperti Balint, dalam buku ini Warren melakukan pendekatan yang kurang lebih sama: mengadopsi konsep kewilayahan Asia Tenggara yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan sejarawan sosial sebelumnya. Penggunaan bahan arsip secara ekstensif memang telah menolong sekali dalam penyusunan kisah sejarah naratifnya.</p>
<p>Namun, penelitian antropologisnya yang didukung seluas-luasnya oleh sumber tradisi lisan, foto, maupun lukisan telah membuktikan bahwa pembagian geografis dan rekonstruksi sejarah Barat selama ini tidak selamanya mampu memperlihatkan sejarah masyarakat-masyarakat khas di kawasan ini yang sesungguhnya.</p>
<p>Banyak hal baru</p>
<p>Topik-topik yang dibahas Warren dalam buku ini memang nyaris tak pernah tersentuh sejarawan sebelumnya. Memunculkan kisah perbudakan yang terjadi terhadap suku Bajau (orang laut) dalam konteks Kesultanan Sulu dan kisah industri prostitusi dan penarik rickshaw yang miskin dan kelaparan dalam sejarah kolonial Singapura telah menampilkan jajaran medley topik-topik di kawasan ini, yang mengacu pada teori bahwa sejarah sosial dan budaya kawasan tersebut sebenarnya memang berproses evolutif dari bawah ke atas.</p>
<p>Selain saling berkaitan erat secara ekonomi dan politik, proses- proses yang terjadi pada komunitas tersebut telah menyumbangkan wajah Asia Tenggara modern yang dikenal sekarang. Mereka memainkan peran formatif mentransformasikan wilayah ini di aspek ekonomi, sosial dan budaya, yakni akar kuat sejarah komunitas-komunitas di Asia Tenggara.</p>
<p>Bila kita memahami konsep kewilayahan Asia Tenggara dalam perspektif seperti itu, kekecewaan yang muncul karena tidak ditemukannya esai khusus tentang Indonesia (sebagaimana kesan awal) terhadap buku ini menjadi pupus dan tidak berdasar. Artinya, dinamika sejarah kelompok- kelompok masyarakat yang diungkap sesungguhnya sudah mencakupi Indonesia, meskipun secara politis mereka kini terpartisi atas wilayah Asia Tenggara modern dalam konteks negara modern Malaysia, Filipina, dan Indonesia.</p>
<p>Menampilkan 16 esai sejarah yang pernah muncul dalam pelbagai jurnal ilmiah, buku ini dapat dibagi atas tiga tema besar penelitian sejarah Asia Tenggara. Tema pertama merupakan riset mengenai sejarah muncul dan berkembangnya dunia maritim pada paruh akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, di zona wilayah perairan dalam di bawah pengawasan kuat Kesultanan Sulu.</p>
<p>Warren berhasil menunjukkan bahwa kontrol dan penguasaan kekuasaan tersebut telah mentahbiskan Kesultanan Sulu sebagai jantung globalisasi perdagangan dunia terpenting masa itu. Berkat aktivitas perdagangan komoditas hasil laut, merajalelanya aktivitas perompak laut yang berhubungan kuat dengan praktik perbudakan (penjualan dan eksploitasi manusia) dalam satu konteks berproses, berevolusi dan mengkristal untuk meninggalkan suatu budaya tersendiri, yang kini pengaruhnya membentang jauh hingga ke Selat Malaka di sebelah Barat.</p>
<p>Dalam buku ini, sejarah orang- orang yang selama ini termarginalkan dalam karya-karya lain, bukan saja berhasil diangkat ke tempat utama dalam panggung sejarah, tetapi juga sekaligus memperlihatkan proses-proses panjang perjalanan yang kompleks dan menjadi cikal bakal terbentuknya perdagangan antar- Asia di era modern. Kisah para perompak laut di perairan itu, kelompok orang dan gipsi laut abad ke-18 hingga ke-19, ditampilkan penulisnya sebagai cara penjelasan untuk melihat sejarah Asia Tenggara dalam hubungannya dengan aspek-aspek politis yang lebih luas.</p>
<p>Topik kedua dalam buku ini berpendar seputar masa lalu atau sejarah sosial Singapura kolonial. Dipusatkan pada kisah kaum penarik rickshaw yang bermigrasi dari selatan China, nuansa sejarah masa lalu Singapura pun kian tersingkap. Pelbagai kisah kehidupan pekerja seks pendatang yang sebelumnya tak pernah diungkap sejarawan lain diangkat penulisnya tidak saja secara solo, tetapi sekaligus terkombinasi secara paralel dengan kisah penarik rickshaw. Hasilnya, rekonstruksi sejarah menarik dari orang-orang kecil yang begitu kaya nuansa karena menonjolkan tema penderitaan, kemiskinan, ketidakberdayaan, dan eksploitasi yang jarang ditulis dalam kronik sejarah.</p>
<p>Tema ketiga, yakni kumpulan tulisan yang memfokuskan pada hubungan erat antara kejahatan transnasional, yang meliputi pembajakan di laut dan human trafficking (perdagangan manusia) setelah dibukanya China awal abad ke-21 di wilayah Asia Tenggara, merupakan pembahasan paling relevan terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pelik kontemporer kawasan itu.</p>
<p>Pendekatan multidisipliner</p>
<p>Publikasi terbaru Sally Cameron dan Edward Newman, Trafficking in Humans; Social, Cultural and Political Dimensions (2008), memperlihatkan bahwa di negara-negara berkembang fenomena perdagangan manusia dan kejahatan terorganisasi cukup mendominasi fenomena penyebab krisis global dunia di abad ke-21 ini.</p>
<p>Buku itu lebih jauh juga mengungkap bahwa aktivitas kejahatan terorganisir dan pola migrasi global yang juga menjangkiti kawasan Asia Tenggara masih begitu sulit ditangani. Salah satu penyebabnya adalah kegagalan penemuan strategi ampuh penanganan karena kurangnya pengetahuan kita atas fenomena itu.</p>
<p>Proses globalisasi dalam konteks perompak di wilayah maritim Asia Tenggara, di mana masalah perdagangan manusia itu masuk di dalamnya, adalah fokus dari pembahasan penting di akhir buku ini (hal 309-331). Analisa tajam penulis menyediakan jawaban atas pertanyaan seputar dinamika akar masalah tersebut.</p>
<p>Dengan mengaitkan fenomena itu dengan aktivitas beberapa abad lalu, termasuk dalam kejahatan maritim dan perdagangan manusia, disimpulkan bahwa fenomena perompak laut dan kejahatan maritim era modern di perairan Asia Tenggara bukanlah fenomena baru. Pada intinya, ia menyediakan suatu imajinasi bahwa sejarah yang terjadi pada era 1968-2000 di Indonesia, Thailand, maupun Filipina memiliki korelasi kuat dengan dampak booming ekonomi di Asia Tenggara yang terjadi hampir tiga abad lalu, yaitu era 1768-1800.</p>
<p>Jelaslah, karya ini menjadi satu dari beberapa karya baru yang telah membuka kemungkinan- kemungkinan bagi penulisan sejarah komunitas-komunitas di Asia Tenggara dilakukan lewat pendekatan multidisipliner yang kaya detail, imajinatif, dan mendalam.</p>
<p>Mereka yang tengah melakukan studi Asia Tenggara, utamanya pemerhati aspek-aspek maritim, perlu mempertimbangkan buku ini secara sungguh-sungguh. Betapa cerita mengenai komunitas-komunitas kecil di Asia Tenggara yang diangkat Warren telah makin membukakan cakrawala baru demi terkuaknya pemahaman baru yang lebih kritis dalam studi kawasan ini.</p>
<p>(Iskandar P Nugraha, Mengajar di Department of Indonesian Studies, University of Sydney, Australia)<br />
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/buku-sejarah-perompak-dan-orang-laut-di.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sejarah-perompak-dan-orang-laut-di-asia-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novel Borjuis dan Konsep Bersastra STA</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/novel-borjuis-dan-konsep-bersastra-sta/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/novel-borjuis-dan-konsep-bersastra-sta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadun Yosi Herfanda]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23722</guid>
		<description><![CDATA[Ahmadun Yosi Herfanda * Republika, 08 Juni 2008 PEMIKIRAN dan karya-karya sang renaisans Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana (STA), masih tetap menarik untuk dikaji. Selalu ada hal-hal baru yang ditemukan oleh para pengkaji yang tajam dan kritis. Menyusul diterbitkannya beberapa buku tentang STA, karya dan pemikirannya, berbagai seminar dan diskusi pun digelar dalam rangka 100 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ahmadun Yosi Herfanda *<br />
Republika, 08 Juni 2008</p>
<p>PEMIKIRAN dan karya-karya sang renaisans Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana (STA), masih tetap menarik untuk dikaji. Selalu ada hal-hal baru yang ditemukan oleh para pengkaji yang tajam dan kritis.</p>
<p>Menyusul diterbitkannya beberapa buku tentang STA, karya dan pemikirannya, berbagai seminar dan diskusi pun digelar dalam rangka 100 tahun sang tokoh Angkatan Pujangga Baru tersebut. <span id="more-23722"></span>Salah satunya adalah Memorial Lecture 100 tahun STA yang diadakan oleh Akademi Jakarta (AJ) di Teater Studio, TIM, Jakarta, pada 29 Mei 2008, dengan pembicara Dr Ignas Kleden dan Dr Harimurti Kridalaksana.</p>
<p>Menarik untuk mencermati pembahasan Ignas Kleden, yang mendialogkan antara (pemikiran) pengarang (STA) dengan cerita (novel) yang ditulisnya. Ignas mencoba melihat sejauh mana konsistensi STA, antara pemikiran dan novel-novelnya.</p>
<p>Secara kritis Ignas melihat apakah STA mewujudkan pemikiran-pemikirannya itu dalam novel-novel yang ditulisnya, atau sebaliknya, mengingkarinya, sehingga terjadi pertentangan atau inkonsistensi antara pemikiran (STA) dan karyanya.</p>
<p>Dilihat dari pemikiran-pemikirannya, dalam bersastra (menulis novel) STA memiliki prinsip yang cenderung pragmatik, bahwa seni (sastra) bukan sekadar untuk seni, tapi untuk kebermanfaatan intelektual dan pencerdasan masyarakat.</p>
<p>Karena itu, sastra (novel), menurut STA, tidaklah bisa bermewah-mewah dengan keindahan untuk mencapai kepuasan seseorang dalam mencipta, tetapi harus dilibatkan secara aktif dalam seluruh pembangunan bangsa. Sastra, harus membuat orang (pembaca) lebih optimis dan menghadapi hidup dengan semangat juang yang tinggi untuk mengatasi berbagai masalah dan situasi kritis.</p>
<p>Namun, menurut hasil pembacaan Ignas, STA tidak selalu mempraktekkan pemikirannya itu dalam novel-novel yang ditulisnya. Ada pertentangan, atau semacam inkonsistensi, antara pemikiran STA dengan novel-novel (cerita) yang ditulisnya, terutama novel-novel awalnya, seperti novel Tak Putus Dirundung Malam dan Dian yang tak Kunjung Padam. Kedua novel tersebut justru &#8216;menyanggah&#8217; pemikiran STA sendiri tentang peran sastra dalam mendidik masyarakat. Kedua novel tersebut tidak menggambarkan sikap yang optimis dan semangat juang yang tinggi.</p>
<p>Meskipun begitu, karena kedua novel tersebut adalah novel-novel masa awalnya sebagai pengarang, dan kalau dilihat pada novel-novel berikutnya, seperti Layar Terkembang (serta Kalah dan Menang), maka istilah yang tepat bukanlah &#8216;inkonsistensi&#8217; tapi proses yang berkembang menuju kematangan, dengan puncak kematangan pada novel Kalah dan Menang.</p>
<p>Menurut Ignas, sifat amtenar dalam novel STA mulai muncul dalam novel Layar Terkembang, karena lingkungan tempat cerita itu bermain adalah lingkungan amtenar. Dalam novel ini baru terlihat perwujudan pemikiran STA bahwa sastra harus dapat membuat orang (pembaca) lebih optimis dan menghadapi hidup dengan semangat juang yang tinggi untuk mengatasi berbagai masalah dan situasi kritis.</p>
<p>Novel borjuis<br />
Dari novel amtenar, lalu STA merambah ke novel bojuis, dan ini sangat terlihat pada novel Grotta Azzura. Ini novel tentang orang-orang yang tidak pernah lagi mengalami persoalan dengan uang, dengan basic needs, tetapi yang tiap hari berdiskusi tentang berbagai topik politik, seni, filsafat, dan pandangan hidup, di kota-kota di Eropa.</p>
<p>Tetapi, menurut Ignas, novel yang oleh sementara kritikus disebut sebagai &#8216;novel ide&#8217; ini lebih mengasyikkan dibaca sebagai pengantar pelajaran tentang berbagai hal, daripada sebagai sebuah novel yang berhasil dan menarik. Latar dan adegan (cerita) hanya dijadikan semacam &#8216;alat&#8217; untuk menyampaikan pemikiran tentang seni, budaya, politik, etika, dan filsafat.</p>
<p>STA mempunyai kecenderungan epik yang kuat dalam menulis novel. &#8220;Renaisans Eropa baginya merupakan the epic past, sedangkan dunia sekarang, juga Indonesia, harus merujuk ke masa lampau itu,&#8221; kata Ignas.</p>
<p>Tampak sekali bahwa pewujudan Renaisans di Indonesia menjadi obsesi besar STA, dan ini sangat mempengaruhi novel-novelnya, yang menampakkan kecenderungan sangat kuat untuk dijadikan media Renaisans dan pencerdasan masyarakat.</p>
<p>Seperti kritik Asrul Sani, STA memang seorang guru dan besar jasanya sebagai seorang guru yang mengajarkan pada kita tentang banyak hal, tetapi penghayatannya sebagai seorang penulis sastra memang kurang jelas. Dalam menulis novel, STA lebih cenderung bersikap &#8216;mengajar&#8217; daripada bercerita. Bahkan, keinginannya untuk mengajar tampak tidak tertahankan dalam novel Grotta Azzura, sehingga novel ini lebih mirip pengantar pengajaran daripada sebagai sebuah cerita.</p>
<p>Meskipun begitu, menurut Ignas, konflik antara peran STA sebagai guru dan novelis, antara pengetahuan dan penghayatan, antara novel dan epik, serta antara pengarang dan cerita, tetap menjadi pelajaran berharga bagi para penulis masa kini yang hendak melibatkan diri dalam penulisan novel.</p>
<p>* Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Sastra Republika<br />
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/wacana-novel-borjuis-dan-konsep.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/novel-borjuis-dan-konsep-bersastra-sta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Sunda di Tapal Batas</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/bahasa-sunda-di-tapal-batas/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/bahasa-sunda-di-tapal-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Eriyanti]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23720</guid>
		<description><![CDATA[Eriyanti Pikiran Rakyat, 28 Juni 2008 Kalaupun masih tersisa perbedaan, hanya terletak pada dialek (cara pengucapan bahasa tersebut). Contohnya, penutur bahasa Sunda asal Amerika tentu akan berbeda dengan penutur bahasa Sunda asal Kuningan. Ada &#8220;lentong&#8221; yang membedakan di antara keduanya. BAHASA Sunda sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat tidak dapat mengelak dari batasan-batasan wilayah administratif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eriyanti<br />
Pikiran Rakyat, 28 Juni 2008</p>
<p>Kalaupun masih tersisa perbedaan, hanya terletak pada dialek (cara pengucapan bahasa tersebut). Contohnya, penutur bahasa Sunda asal Amerika tentu akan berbeda dengan penutur bahasa Sunda asal Kuningan. Ada &#8220;lentong&#8221; yang membedakan di antara keduanya.<span id="more-23720"></span></p>
<p>BAHASA Sunda sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat tidak dapat mengelak dari batasan-batasan wilayah administratif. Di sisi lain, pertumbuhan dan perkembangan bahasa Sunda juga sangat ditentukan oleh kebijakan pusat (dalam hal ini pemerintah provinsi) dan daerah (pemerintah daerah). Akibatnya, keberadaan bahasa Sunda di suatu wilayah tertentu yang berbeda secara administrasi politik nyaris mati atau justru &#8220;dimatikan&#8221;.</p>
<p>Persoalan-persoalan bahasa Sunda di tapal batas administrasi politik ini menjadi topik yang dibicarakan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) pada saat mengadakan &#8220;Saba Sastra&#8221; dan menggelar &#8220;Gundem Catur Sastra jeung Pangajaran Sunda&#8221; di Kab. Kuningan. Kegiatan yang merupakan hasil kerja bersama antara PPSS, Balai Pengembangan Bahasa Daerah (BPBD) Jawa Barat, Pemkab Kuningan, Dinas Pendidikan Kuningan, Dinas Pariwisata Kuningan, Tim Penggerak PKK Kuningan, PWI Cabang Kuningan, Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Kuningan, dan Koran Sunda &#8220;Midang&#8221; ini diikuti berbagai unsur seperti guru, seniman, budayawan, pemerhati pendidikan, mahasiswa, dan pelajar.</p>
<p>Hadir sebagai keynote speaker pada pertemuan tersebut Ketua PPSS, Etti R.S., M.Hum., dan empat pembicara lain, yakni Dadan Sutisna (pengarang/pengasuh website), Safrina Noor (Dosen UPI Bandung), Asep Ruhimat (guru/pengarang), dan Holisoh M.E. (guru/pengarang) dipandu Dian Hendraya (pengarang/presenter TV).</p>
<p>Dari hasil pertemuan itu terungkap bahasa Sunda yang berada di wilayah-wilayah perbatasan atau berada di suatu wilayah yang berbeda secara administrasi politik sering kali pada akhirnya menjadi bahasa minoritas. Parahnya, indikasi tersebut didukung pola kebijakan Pemrov Jabar dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar yang mengadakan kegiatan &#8220;Workshop Sastra&#8221; setiap tahun di setiap wilayah.</p>
<p>Dalam workshop tersebut, pemerintah mengotak-ngotakkan bahasa Sunda sesuai kedudukannya per wilayah administratif. Pada tahun 2006 &#8220;Workshop Sastra Sunda&#8221; diselenggarakan di Wilayah Priangan (Tasik), 2007 di Wilayah Purwakarta (Subang), dan 2008 di Wilayah Bogor (Cianjur).</p>
<p>Bila pemerintah kembali mengadakan kegiatan tersebut untuk wilayah Cirebon, kemungkinan besar Kab. Kuningan akan masuk menjadi bagian dari wilayah Cirebon. Dari segi kewilayahan, Kuningan merupakan bagian dari kota-kota kecil yang berada di wilayah Pantai Utara (Pantura) dan berdekatan dengan Cirebon. Walaupun secara bahasa dan budaya, Kuningan berbeda dengan Cirebon.</p>
<p>Pada kondisi ini, keberadaan bahasa Sunda di Kuningan sangat mungkin menjadi bahasa minoritas. Pola pendidikan kebahasaan yang digunakan harus mengikuti kebijakan kebahasaan wilayah tersebut, seperti juga yang terjadi di daerah Brebes dan Majenang. Kebaradaan bahasa Sunda pada akhirnya menjadi bahasa minoritas.</p>
<p>Padahal secara budaya, masyarakat Brebes dan masyarakat Majenang adalah pemakai bahasa Sunda. Namun secara administratif, wilayah itu berada di daerah Jawa. Masyarakat Brebes dan Majenang akhirnya menggunakan bahasa daerah Jawa Brebes dan Majenang.</p>
<p>Kekhawatiran Etti ini lebih gamblang terkuak manakala Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda Kuningan, Yayat Ruhiyatun, membeberkan tentang sulitnya mendapatkan buku bahan ajar maupun buku pendukung bahan ajar. Guru hanya mengandalkan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dibuat guru sendiri yang tergabung dalam MGMP.</p>
<p>Selain tidak banyak penerbit yang masuk ke daerah ini, toko buku yang tersedia pun hanya tiga tempat, sedangkan perpustakaan daerah baru sedang (akan) dibangun. Sementara dana bantuan operasional (BOS) yang diberikan pemerintah pusat untuk pengadaan buku-buku gratis di sekolah, terbatas untuk buku-buku mata pelajaran ujian nasional (UN). Alhasil, pendidikan dan pengajaran bahasa Sunda sangat terbatas.</p>
<p>Lebih parah lagi, ketersediaan guru bahasa Sunda yang berlatar pendidikan bahasa Sunda pun sangat sedikit. Akibatnya, berdampak pada sistem pengajaran yang diberikan. Sementara di sisi lain, dalam tataran pendidikan nasional maupun global, guru sudah bersentuhan dengan kemajuan teknologi informasi sehingga guru yang kreatif merupakan kebutuhan yang sangat mutlak.</p>
<p>Dari beberapa pertanyaan yang disampaikan peserta tergambar bahwa guru mengalami kesulitan pada saat harus menyampaikan pendidikan dan pengajaran bahasa Sunda. Beberapa di antaranya adalah apa dan bagaimana cara mengemas pendidikan bahasa Sunda yang selaras dengan kebutuhan global.</p>
<p>**</p>
<p>KETERBATASAN bahasa Sunda di daerah tapal batas seperti itu seharusnya memang tidak perlu terjadi. Keberadaan suatu bahasa dan masyarakat pengguna bahasa tersebut seharusnya memang tidak perlu dibatasi secara wilayah administratif. Apalagi, dengan terus bergulirnya kemajuan internet ke setiap lini kehidupan di mana pun sudah memupus kepentingan persoalan batasan wilayah tersebut.</p>
<p>Dadan Sutisna memaparkan, perkembangan dan kemajuan suatu bahasa tidak diukur batasan-batasan wilayah administratif di mana bahasa tersebut berada. Perkembangan dan kemajuan bahasa sangat ditentukan kebiasaan budaya baca tulis masyarakat pemakai bahasa tersebut. Semakin banyak masyarakat tersebut membaca dan menulis karya-karya yang dibuat para pengarang dalam bahasa tersebut, bahasa itu pun akan tumbuh dan berkembang dengan baik.</p>
<p>Sebaliknya, semakin rendah tingkat budaya baca dan tulis masyarakat, tunggulah kepunahan bahasa tersebut. Meski demikian, kebiasaan baca tulis masyarakat tersebut secara langsung ataupun tidak akan sangat bergantung kepada bahan bacaan yang tersedia. Namun sayangnya, di sebagian besar daerah apalagi daerah perbatasan, ketersediaan buku dan sumber-sumber bacaan Sunda sangat terbatas.</p>
<p>Lebih parahnya lagi, masyarakat yang sudah melek media juga sangat terbatas. Sumber-sumber bahan ajar masih dipandang harus berasal dari buku. Kalaupun sarana multimedia seperti internet sudah masuk sekolah, terkendala kemampuan guru dalam menguasai teknologi perangkat tersebut.</p>
<p>Saat ini saja, menurut Dadan, terdapat enam website kesundaan, yakni daluang.com, cupumanik.com, galuh-purba.com, ppss.or.id, sunda.web.id., dan urang-sunda.net. Semua website berisi berbagai informasi berkenaan dengan bahasa, sastra, dan budaya Sunda, serta dikelola oleh orang-orang yang mumpuni di bidang bahasa dan sastra Sunda.</p>
<p>Cuma persoalannya, keterampilan guru di bidang teknologi informasi masih sangat terbatas. Selain itu, daya beli masyarakat (daerah) selaku pengguna ruang maya pun berbeda jauh dengan masyarakat perkotaan. Mereka cenderung lebih mengandalkan buku yang diberikan pemerintah pusat.</p>
<p>Pada kondisi seperti ini, guru dapat menghidupkan dan menambah variasi bahan ajar maupun pendukung bahan ajar, tidak harus terpaku pada buku, tetapi dapat menggunakan majalah dan media dalam bentuk cetak ataupun maya (internet) yang tersedia di sekolah sehingga pendidikan dan pengajaran bahasa Sunda tidak harus terkendala persoalan wilayah administratif.</p>
<p>Pada tataran yang lebih global, Safrina Noorman mendedahkan bahwa perkembangan suatu bahasa nantinya akan mengarah pada bahasa hibrida, di mana setiap bahasa akan saling memengaruhi satu sama lain sehingga identitas itu sudah tidak ada. Persoalan batasan wilayah administratif pun ambruk dan tidak ada lagi bahasa minoritas atau &#8220;diminoritaskan&#8221;.</p>
<p>Kalaupun masih tersisa perbedaan, hanya terletak pada dialek (cara pengucapan bahasa tersebut). Contohnya, penutur bahasa Sunda asal Amerika tentu akan berbeda dengan penutur bahasa Sunda asal Kuningan. Ada &#8220;lentong&#8221; yang membedakan di antara keduanya.</p>
<p>Bahasa hibrida seperti ini, menurut Safrina, tidak perlu dikhawatirkan karena sesuai sifatnya, bahasa selalu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Begitu juga dari sisi perubahan mental dan moral pemakai bahasa tersebut, Safrina merasa tidak perlu mencemaskannya. Meskipun sifat bahasa selalu berubah dan beradaptasi dengan perubahan tersebut, nilai-nilai budaya masyarakat yang terkandung dalam bahasa tersebut tidak akan pupus.</p>
<p>Kini, persoalannya adalah bagaimana pemerintah selaku pemegang regulasi pendidikan dan masyarakat yang peduli dengan keberadaan bahasa Sunda di perbatasan memberi wawasan kepada masyarakat terutama kalangan terdidik dalam memahami keberadaan bahasa Sunda di daerah tersebut agar lebih tercerahkan.</p>
<p>PPSS selaku komunitas yang notabene hanya mengandalkan semangat dan urunan &#8220;receh&#8221; dari para simpatisannya sudah memulai pencerahan itu. Bagaimana dengan pemerintah dan unsur terkait lainnya?</p>
<p>Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/bahasa-sunda-di-tapal-batas.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/bahasa-sunda-di-tapal-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sutardji Memberikan Contoh</title>
		<link>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sutardji-memberikan-contoh/</link>
		<comments>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sutardji-memberikan-contoh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 10:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PuJa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Rikobidik]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra-Indonesia.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sastra-indonesia.com/?p=23717</guid>
		<description><![CDATA[Rikobidik * _Seputar Indonesia, 29 Juni 2008 MENEMPATKAN puisi sebagai status ontologis bahasa nampaknya sebuah eksplorasi mengenai hakikat bahasa yang cukup menjanjikan. Meski ciri-ciri puisi di sini janganlah seperti yang kita kenal yang konon melekat di semua tata permainan bahasa membuat bahasa gaul otomatis termasuk di dalamnya. Kenapa tidak dikatakan saja bahwa bahasa gaul sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rikobidik *<br />
_Seputar Indonesia, 29 Juni 2008</p>
<p>MENEMPATKAN puisi sebagai status ontologis bahasa nampaknya sebuah eksplorasi mengenai hakikat bahasa yang cukup menjanjikan. Meski ciri-ciri puisi di sini janganlah seperti yang kita kenal yang konon melekat di semua tata permainan bahasa membuat bahasa gaul otomatis termasuk di dalamnya.<span id="more-23717"></span></p>
<p>Kenapa tidak dikatakan saja bahwa bahasa gaul sebagai status ontologis bahasa? Memberikan nama memang terkadang merepotkan. Berbekal sisa ingatan materi kuliah filsafat bahasa (khususnya filsafat analitis—R), tulisan ini akan mencoba menganalisis konsep status ontologis bahasa sebagai puisi yang sepertinya sangat diperjuangkan A Boy-Mahromi.</p>
<p>Ketidakteraturan, permainan, dan bahasa sebagai mantra</p>
<p>Kata ”ketidakteraturan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”. Kalau memang demikian, saya akan memahami kata ”ketidakteraturan” sebagai ketidaksamaan keadaan, kegiatan, atau proses yang terjadi beberapa kali.</p>
<p>Barangkali benar apa yang dikatakan A Boy-Mahromi bahwa bahasa dalam kehidupan berlaku sebagai ”ketidakteraturan”.Sebab, kehidupan yang menyangkut pemahaman terhadap manusia sulit sekali dimengerti dengan pola verifikasi positivistik. Kata ”permainan” yang menjadi salah satu ciri dari puisi sebagai ontologis bahasa barangkali digunakan A Boy-Mahromi dalam konteks arti kata sebagai ”kegunaan”.</p>
<p>Jika memang demikian, saya akan memahami kata ”permainan” sebagaimana pemahaman penafsiran saya menurut Wittgenstein II. Permainan bahasa yang dimaksudkan Wittgenstein II (1983) adalah setiap penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia memiliki aturannya masing-masing. Meskipun aturan itu sulit ditentukan secara normatif dan sulit ditentukan batasbatasnya secara tepat, manusia memahami bagaimana menggunakan bahasa di setiap aspek kehidupan yang sangat beraneka ragam.</p>
<p>Mayoritas ahli bahasa di Pusat Bahasa kerap kali mengabaikan aspek ini,terutama dengan menerapkan istilah baku dan tidak baku yang menurut saya bertendensi melecehkan. Namun, penafsiran Yunit dan A Boy-Marhomi terhadap kata ”permainan” ternyata berbeda dengan tafsiran saya di atas.Dengan penafsiran yang saling berbeda seperti inilah barangkali Yunit menyandingkan kata ”hanyalah”pada ungkapan ”hanyalah permainan” pada artikelnya yang terbit di harian SINDO (11/ 05/08).</p>
<p>Dilekatkannya kata ”hanyalah” itu menyebabkan saya menafsirkan ”permainan”-nya Yunit kepada pengertian perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguhsungguh.</p>
<p>Status ontologis bahasa adalah penggunaannya</p>
<p>Dengan meniru sifat curiga Wittgenstein seraya mengambil keuntungan dari pernyataan Derrida,saya mengajak para pembaca untuk curiga, jangan-jangan pemahaman Yunit dan A Boy-Mahromi atas Heidegger mengenai kebenaran hakikat bahasa sesungguhnya terdapat dalam puisi pun bisa jadi mengalami ”perbedaan” dan ”penundaan”.</p>
<p>Mengingat pemahaman A Boy-Mahromi mengenai Wittgenstein, Heidegger, dan Sutardji pun tersampaikan melalui bahasa yang hanya bisa ditafsir tanpa harus terbirit-birit untuk memutlakkan diri paling tahu bukan? Saya mengajak para pembaca untuk kembali kepada yang diungkapkan Sutardji, yaitu ”kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian, kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra”.</p>
<p>Dalam ungkapan Sutardji tersebut, saya akan mendekatinya sebagai berikut.Misalnya, kata-kata harus dibebaskan dari kungkungan pengertian. Sutardji tentu tidak bermaksud seadanya dengan ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut sebaiknya ditafsirkan secara memadai, yaitu bahwa kata-kata yang beredar dalam kehidupan kita yang berwujud maksud (pengertian) harus ditafsirkan kegunaannya (dibebaskan dari kungkungan) terlebih dahulu.</p>
<p>Secara sederhana, dapat saya simpulkan bahwa Sutardji bermaksud supaya kita mampu menyibak maksud atau menafsirkan (dibebaskan dari kungkungan pengertian) suatu ungkapan bahasa. Tafsiran ini ditopang dari pengertian arti kata sebagai ”maksud” seperti yang diungkapkan Wittgenstein II (1983) bahwa ”maksud” adalah sesuatu yang seluruhnya tetap ada dalam bahasa dan bukan sesuatu yang dianggap terpisah dari bahasa.</p>
<p>Saya tambahkan lagi, jika arti yang dikandungnya sebagai maksud, penggunaannya tidak menggambarkan katakata dan arti itu sendiri. Sementara untuk memahami arti kata sebagai kegunaan, dilakukan dengan cara menerangkannya. Mudahnya, jika seseorang ingin memahami penggunaan kata ”mantra”, 0harus dicari penjelasan dari arti kata tersebut.</p>
<p>Sebab,arti sesuatu dari satu kasus menunjukkan pada pengertian arti kata dalam penggunaannya. Kata ”mantra”yang digunakan Sutardji dapat diurai menjadi perkataan yang memiliki kekuatan gaib. Kata ”gaib” berarti tidak kelihatan, tersembunyi, tidak nyata.Berhubung Sutardji berbicara dalam konteks kata (bahasa) dalam puisi seperti yang dinyatakan Yunit, dirinya bermaksud supaya kita jangan terlalu sibuk mengurusi bahasa dari sistem tanda dan struktur fisis seperti yang dilakukan kaum linguistik struktural.</p>
<p>Dengan memberikan contoh fungsi kata seperti dalam mantra, saya menafsirkan, dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa walaupun dalam mantra tidak ditemui penggunaan aturan gramatikal yang ketat seperti yang diyakini kaum linguistik struktural, kata-kata itu tetap berfungsi, yaitu memiliki kekuatan yang tersembunyi dalam kata.</p>
<p>Yaitu,makna! Jika ditambah dengan tafsiran pada tidak ditemuinya aturan gramatikal yang ketat pada ”mantra”, dapatlah saya tafsirkan aturan gramatikal bahasa sebaiknya disesuaikan dengan penggunaannya. Artinya, ungkapan Sutardji ”kembalikan kepada fungsi kata seperti dalam mantra” adalah ikhtiarnya dalam memberikan contoh, meski secara tidak langsung,mengenai aspek ontologis bahasa yang berujung kepada penggunaannya.</p>
<p>Sebab, seperti kita ketahui, pada masa itu sulit sekali berbicara terangterangan menolak dominasi kaum linguistik struktural yang mayoritas berbasis di Pusat Bahasa. Status ontologis bahasa,menurut Wittgenstein II—yang kemudian secara tidak langsung dicontohkan Sutardji, adalah penggunaannya.Aspek ontologis bahasa ini secara tidak langsung berkorelasi dengan semangat nilai-nilai pluralitas yang mendobrak tatanan universalitas.</p>
<p>*) Rikobidik, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nasional, Jakarta.<br />
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/esai-sutardji-memberikan-contoh.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sastra-indonesia.com/2012/05/sutardji-memberikan-contoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

