NAMA LAUT

A. Syauqi Sumbawi *

Di pasir pantai, seseorang berjalan seraya terus merapal: “laut, laut, laut…” Redudansinya terdengar seperti dzikir. Mereka yang kebetulan memperhatikannya, memberikan tatapan aneh. Lalu mengonfirmasi hal itu kepada teman-temannya. Melalui isyarat di wajah, mereka saling menyatakan pandangan yang sama. Sebuah pemandangan yang tak wajar. Continue reading “NAMA LAUT”

Dengan Keluguannya, Novel Ini Menjadi Indah *

Nurel Javissyarqi **

Judul sangat tepat nan penuh daya pikat serta mampu mewakili keseluruhan isi kepala cerita; tampak ada dunia yang dipaksakan masuk, namun tak menjadikan ilustrasi pemerkosaan. Suatu kesengajaan yang melampaui batas, tapi masih bisa dianggap tahap kenormalan. Ketika Dunia Kecil berbicara; inilah alam raya lorong panjang penuh kejutan mengasyikkan, dengan sajian dan penyajiaan yang tak membosankan. Ada jenis kamus tebak-tebakan, kadang mengena dan sekali tempo diplesetkan menjadi gurauan kecil yang pasti tak mencederai saat jatuh kecelakaan dalam setengah sengaja, pun sesuatu yang mengsle dari engsel-nya, tetapi tetap berbentuk dunia alit pemikiran, sebab perhatian sangat, menentukan keadaan, kehadiran di luar realitas kebanyakan pembaca alam kehidupan. Continue reading “Dengan Keluguannya, Novel Ini Menjadi Indah *”

Sufisme Humanistik dalam “Perawan Mencuri Tuhan”

Ahmad Syauqi Sumbawi

Sufisme humanistik, berangkat dari konsep-konsep al-Qur’an terkait keberadaan manusia dalam kehidupannya. Pada konteks ini, al-Qur’an menyebut manusia dalam beberapa terminologi, yaitu abd Allah, al-basyr, al-insan, al-naas, bani Adam, al-ins, dan khalifah fi al-ardl. Dari terminologi-terminologi tersebut, yang kemudian dikombinasikan dengan perspektif filosofis-antropologis, setidaknya didapatkan sebuah formulasi pemahaman atas keberadaan manusia dalam kehidupan secara luas, yaitu pertama, sebagai hamba Tuhan yang dituntut untuk mengenal dan mencintai Tuhannya. Continue reading “Sufisme Humanistik dalam “Perawan Mencuri Tuhan””