Tag Archives: A.A. Navis

MEMBACA ULANG A.A. NAVIS

B. Fariz J. M. Misbah, M.Pd.
http://fariz-misbah.blogspot.com/

Siapa yang tidak kenal Sang ”pencemooh” A.A. Navis? Siapa yang tidak tahu cerita pendek (cerpen) fenomenalnya yang berjudul ”Robohnya Surau Kami”?

Dalam pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA, khususnya dalam materi sastra, apabila diteliti, hampir semua penulis buku paket mencantumkan saduran cerpen Robohnya Surau Kami dalam bukunya.

Ali Akbar Navis, Sang Pencemooh yang Dicintai (17 Nov 1924 – 22 Maret 1993)

M. Rifan Fajrin
_Majalah Lingkar FLP Semarang – dari berbagai sumber

Dia adalah salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, atau yang lebih dikenal dengan nama A.A Navis, di kalangan sastrawan dia digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya.

Persoalan Kemanusiaan dalam karya A.A. Navis

Herton Maridi
http://www.kompasiana.com/hertonmaridi

Pada Kamis sore tepatnya 05 April 2012 16.30 FAS (Forum Alternatif Sastra) dan HMJ Aqidah Filsafat bekerja sama menyelenggarakan bedah film dokumenter sastrawan Indonesia “A.A Navis” acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas dan beragam mahasiswa (jurusan) lainnya. Sekilas tentang A.A Navis yang dilahirkan di di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun.

Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia

Abdurrahman Wahid
Kompas, 26 November 1973

Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan.

Membedah Karya-karya Navis

Judul : A.A. Navis : Karya dan Dunianya
Pengarang : Ivan Adilla
Penerbit : Grasindo, 2003
Tebal : ix + 227 halaman
Peresensi : I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

BERBINARNYA dunia sastra sejak dekade terakhir ini tidak diimbangi dengan munculnya apresiasi pembaca secara memadai.