Tag Archives: Acep Iwan Saidi

Lima Penulis Memikat: dari Bandung Mawardi hingga Acep Iwan Saidi

Darwin
thephinisipress.blogspot.co.id

Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan
lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana,
komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar

(Samsudin Berlian, Kompas, 18/6/2010)

DARI DISKUSI PENTAS DUA BAHASA;

TEATER TIDAK ADA KETIKA NASKAH DIBACA
Acep Iwan Saidi *
Pikiran Rakyat, 12 Jan 1997

Beberapa waktu lalu, (24/12/1997), Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad bekerjasama dengan Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Unpad menyelenggarakan pementasan teater dalam dua bahasa. Naskah yang dipentaskan adalah Purgatory karya W.B. Yeats (dalam bahasa Inggris oleh Sastra Inggris) dan Arwah-arwah (dalam bahasa Indonesia oleh GSSTF) yang diadaptasi Suyatna Anirun dari Purgatory.

Rute Raya, Jalan Kebudayaan

Acep Iwan Saidi
Pikiran Rakyat, 9 Jan 2011

1
Seperti tahun sebelumnya, secara umum kehidupan kebudayaan di Jawa Barat pada 2010 berjalan biasa-biasa saja, tak ada pencapaian menonjol. Dari segi event, satu-satunya peristiwa yang boleh dicatat sebagai prestasi adalah Pasar Seni 101010 ITB. Helatan ini secara fisik menyedot ribuan orang mengunjunginya dan menyebabkan terjadinya transaksi ekonomi yang luar biasa.

Matinya Bahasa Sunda

Acep Iwan Saidi*
Pikiran Rakyat, 17 Feb 2007

Ketika esai ini ditulis, di tangan saya ada 25 eksemplar Majalah Sunda Cupumanik (edisi 18/2005-edisi 43/2007). Majalah ini, sejak edisi 16/2005, menyediakan sebuah rubrik ”Kandaga Basa” yang isinya berupa babasan jeung paribasa. Ruang yang disediakan untuk rubrik ini dua halaman, setiap edisi diisi rata-rata 15-20 paribasa dan selalu diberi nomor dalam kurung setelah judul rubriknya. Karena yang ada pada saya mulai edisi 18, rubrik ”Kandaga Basa”-nya bernomor edisi (3).

Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna

Acep Iwan Saidi
http://cetak.kompas.com/

BAHASA selalu merupakan hubungan antara penanda (”signifier”) dan petanda (”signified”). Tidak ada kaitan antara kata (bahasa) dan realitas di luar dirinya. Kata-kata diletakkan pada struktur (sistem) dan membangun makna karena relasinya dengan kata lain. Ini berarti strukturlah yang penting, bukan kata itu sendiri.