Tag Archives: Acep Zamzam Noor

Acep Zamzam Noor “Mengunjungi Puisi Perjalanan”

Idayati
http://www.journalbali.com

Menghadirkan penyair Acep Zamzam Noor, Bentara Budaya Bali (BBB) menggelar Sandyakala Sastra edisi 22 “Mengunjungi Puisi Perjalanan”, Selasa (29/5). Bertempat di Jln. Prof. Ida Bagus Mantra 88A Ketewel, dialog kali ini membincangkan hal-hal terkini dalam susastra tanah air, serta bagaimana catatan perjalanan dan pengalaman menjejaki tempat-tempat tertentu dapat menjadi inspirasi lahirnya sebuah puisi yang unggul.

Sufisme Dalam Puisi Acep Zamzam Noor

Pungkit Wijaya
http://poongkeetwijaya.wordpress.com

Sastra sufi identik dengan perenungan diri terhadap sang Ilahi, yang dibahasakan dengan bahasa Cinta. Cinta ini mematuhi Tuhan; Membenci sikap yang melawan Tuhan; berserah diri pada Tuhan; dan menjauhi segala kecenderungan yang melalaikan kita terhadap Nya, karena bersumber pada realitas kehidupan yang tidak dapat dijelaskan melalui pemahaman logis rasional dan tak dapat diserap panca indra,

Acep Zamzam Noor dan Tasikmalaya

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 17 Mei 2009

TASIKMALAYA adalah kota yang tengah berubah. Kota yang semula tenang dari denyut kehidupan sosial-politik dan budaya itu, kini denyarnya sampai ke mana-mana. Denyut itu paling tidak dalam konteks tersebut digerakkan penyair Acep Zamzam Noor lewat gerakan Partai Nurul Sembako (PNS) yang dengan keberaniannya sering mengkritisi kehidupan sosial-politik, maupun jalannya pemerintahan di Kota Tasikmalaya dengan memasang berbagai spanduk yang kata-katanya sering panas dibaca orang.

Syair, Songket, dan Sungai

Acep Zamzam Noor*
Pikiran Rakyat, 13 Jan 2007

INDONESIA International Poetry Festival 2006 yang berlangsung di Palembang beberapa waktu yang lalu, selain menghadirkan para penyair terkemuka dari sejumlah negara, juga menghadirkan seniman-seniman lokal yang menampilkan sastra tutur. Di wilayah Sumatra Selatan (termasuk Lampung dan Bengkulu) tradisi sastra tutur atau yang lebih kita kenal dengan sebutan sastra lisan terdapat hampir di setiap kabupaten meskipun yang masih benar-benar hidup hanya tinggal di beberapa tempat.

Puisi-Puisi Acep Zamzam Noor

Kompas, 31 Jan 2010
Pada Sebuah Kafe (1)

Apakah kau sedang menyanyi untukku, atau tidak untuk siapa-siapa
Hanya kau sendiri yang tahu. Suaramu terdengar sayup-sayup
Di antara raung gitar dan gemuruh organ. Kulihat ada yang melayang
Seperti gumpalan awan, meliuk-liuk di udara, memasuki ceruk-ceruk sepi
Mengembara dari tiang ke tiang, menyambangi meja demi meja
Hingga ruang pun bergetar.