Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam

Bandung Mawardi
Suara Merdeka, 25 Jan 2oo8

Bahasa adalah hantu untuk memberi ancaman hidup dan mati atas kelahiran puisi. Afrizal terus mengurusi bahasa sebagai dalil dan risiko. Eksplorasi dan eksplanasi tentang bahasa bertebaran dalam tubuh puisi.. Afrizal dalam puisi-puisi lama tampak mengimani dan mengamini bahasa melawan rezim. Puisi-puisi lama Afrizal kerap mengandung “dendam di setiap akhir kalimat”. Dendam itu perlahan menyusut dalam puisi-puisi mutakhir. Continue reading “Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam”

Gaya Bahasa Puisi Afrizal Malna dan James Tate: Sebuah Analisis Bandingan

Ratih Dewi
nyanyianbahasa.wordpress.com

1. Pendahuluan
Sastra bandingan (comparative literature) dalam banyak rumusan atau definisi, umumnya menekankan perbandingan dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda . Jost dalam membagi-bagi pendekatan dalam sastra bandingan menjadi empat bidang, yakni 1.pengaruh dan analogi, 2. gerakan dan kecenderungan, 3. genre dan bentuk, dan 4. motif, tipe, dan tema . Akan tetapi, dari segi apa pun memandang masalahnya, bisa saja lebih menciut lagi kajiannya, yakni meneliti kemiripan dalam bahasa atau struktur. Continue reading “Gaya Bahasa Puisi Afrizal Malna dan James Tate: Sebuah Analisis Bandingan”

Chairil dalam Kardus Masa Kini

Afrizal Malna *
Kompascetak, 28 Apr 2013

Chairil memasuki pergaulan seni rupa yang menurut saya menarik. Ada beberapa pelukis penting yang berhubungan erat dengannya, yaitu Affandi, S Sudjojono, Basuki Resobowo, dan Nashar. Dalam sebuah puisinya, Chairil menyebut salah satu lukisan Raden Saleh, ”Kebakaran di Hutan”. Ilustrasi dalam buku puisi Chairil terbitan Dian Rakyat, juga dibuat perupa penting yang pernah menyatakan ”seni rupa Indonesia tidak ada”, Oesman Effendi. Continue reading “Chairil dalam Kardus Masa Kini”

Seorang Hujan

Afrizal Malna

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh. Continue reading “Seorang Hujan”

Sastra Kepulauan VI: Sebuah Proyek Eksperimen di Barru

Afrizal Malna *
Kompas, 25 Mei 2008

DI beberapa tenda peserta terjadi percakapan antara peserta Sastra Kepulauan yang umumnya mahasiswa sastra, berlangsung di kampung Nelayan Barru, Sulawesi Selatan (2-3 Mei lalu):

”Apa batasan puisi?”
”Bagaimana cara menulis puisi yang baik?”
Oke. Bisakah pertanyaan itu menjadi lebih baik lagi?
”Apa itu cinta? Apa itu waktu?”
”Bagaimanakah hubungan tubuh dengan bahasa?” Continue reading “Sastra Kepulauan VI: Sebuah Proyek Eksperimen di Barru”