Tag Archives: Afrizal Malna

Seorang Hujan

Afrizal Malna

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh.

Sastra Kepulauan VI: Sebuah Proyek Eksperimen di Barru

Afrizal Malna *
Kompas, 25 Mei 2008

DI beberapa tenda peserta terjadi percakapan antara peserta Sastra Kepulauan yang umumnya mahasiswa sastra, berlangsung di kampung Nelayan Barru, Sulawesi Selatan (2-3 Mei lalu):

”Apa batasan puisi?”
”Bagaimana cara menulis puisi yang baik?”
Oke. Bisakah pertanyaan itu menjadi lebih baik lagi?
”Apa itu cinta? Apa itu waktu?”
”Bagaimanakah hubungan tubuh dengan bahasa?”

Mengenang Penyair Afrizal

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Sulit dipungkiri, perayaan eksplorasi bahasa puitik pada dekade 1990-an terimbas dari puisi-puisi Afrizal Malna. Selagi para penyair sibuk dengan puisi religius, puisi terlibat (baca: sastra kontekstual), puisi imaji-simbolis, atau puisi kontemplatif; Afrizal mencuat dengan puisi hiperealis. Sebuah puisi yang simpang siur dengan ikon-ikon teknologi, budaya massa, pop, juga kebiasaan masyarakat menghabiskan waktu di super market.

Identitas dan Tubuh yang Dilepaskan dari Bahasa

Afrizal Malna
http://publiksastra.net/

DUA lembaga pembacaan sastra hingga kini saling tarik-menarik, menghasilkan negosiasi yang tidak mudah untuk melihat wajah sastra Indonesia masa kini. Yang pertama, lembaga kritik sastra. Saya ingin menyebut lembaga ini sebagai “sastra pertama”. Sastra pertama ini awalnya menghasilkan negosiasi yang gesekannya cukup tajam antara politik dan pandangan-pandangan kebudayaan.

Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga

Afrizal Malna*
Kompas, 13 Juli 2008

SELAMAT tinggal kedaerahan… Selamat tinggal lelaki dan perempuan…
Selamat tinggal ”nasionalisme sastra” yang terperangkap dalam masalah-masalahnya sendiri.

Kita bukan lagi suku-suku, kita adalah manusia. Kita bukan lagi lelaki dan perempuan, kita adalah manusia. Suatu hari nanti, dan kalau lebih bergegas lagi, sekarang juga: selamat tinggal tradisi, kalau globalisasi begitu mencemaskan kita.