Tag Archives: Aguk Irawan Mn

MENGUKIR LEGENDA PRIBADI

Judul Buku: Tuhan Maaf Engkau Ku Madu
Penulis: Aguk Irawan Mn
Penerbit: Glosaria Media
Tahun Terbit: 2013
Isi: 392 Hal + Xxii: 12 X 19 Cm
Peresensi: Moh. Choirul Anam
mahasiswa1234.blogspot.co.id

Sastra, Kiyai dan Pesantren [Relasi Kearifan yang Tenggelam]

Aguk Irawan MN *
jalanbuntu22.blogspot.co.id

Setiap kali kami sowan (berkunjung) ke ndalem (rumah) kiyai sepuh yang notabane Pesantren salaf, kami selalu ditanyai, apakah diwan atau kitab kumpulan puisi karya Hadratu Syekh Hasyim Asy’ari sudah diterjemah? Tentu kami jawab belum. Pertanyaan yang paling akhir, misalnya ditanyakan oleh Gus Sholah (KH. Shalahudin Wahid) dengan serius kepada kami saat berkunjung ke kediamannya menjelang bulan Ramadahan belum lama ini.

MIMPI INDONESIA UNTUK 200 PENYAIR

Awal mula bertemu, berjabat tangan dan ikut tersenyum dengan kalian, penyair-penyair hebat. 10 tahun waktu telah gugur dan berlalu! (Juni 2004-Juni 2014)

Judul buku : Liku Luka Kau Kaku
(200 sajak untuk 200 Penyair)
Penulis : Aguk Irawan MN.
Penerbit : Pustaka Sastra Yogyakarta (Ombak), 2004
Jumlah halaman: xxix + 280 : 13 x 20 cm
Peresensi A. Purwantara *

MEMUNGUT JEJAK FIGUR RAHMATAN LIL’ALAMIN

Judul Buku: Pesan Al Quran untuk Sastrawan
Jenis Buku: Kumpulan Esai Budaya dan Agama
Pengarang: Aguk Irawan MN
Tahun: 2013
Penerbit: Jalasutra Yogyakarta
Tebal: x + 434 hlm; 15 cm x 23 cm
Peresensi: Imamuddin SA

SATU SEGI DARI DEBAT BUDAYA ANTARA MANIKEBU DAN LEKRA

Dari Notes Belajar Seorang Awam: [Catatan Untuk Aguk Irawan Mn]
JJ. Kusni
http://sanggarbebas.blogspot.com

Dalam artikel yang sangat menarik berjudul “Menuju Kebudayaan Baru Itu Meniru Barat” yang diturunkan oleh Harian Sinar Harapan, Jakarta, pada tanggal 17 Juli 2004, Aguk Irawan antara lain menulis:

“Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu di puncak yang sangat sengit (1950-1965), Mesir juga mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah sengitnya. Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita ”mewujudkan kebudayaan baru” persoalan itu digiring melalui konsepsi ”bahasa dan sastra Arab”. Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi.Dalam perdebatan tersebut, ada satu nama yang sangat penting”.