Tag Archives: Agus Noor

Drama Musikal: Menonton Penonton Onrop!

Agus Noor
Kompas, 28 Nov 2010

HARAPAN, gairah, dan kerinduan itu terasa selama sembilan hari pertunjukan Onrop! yang berlangsung 13-21 November lalu, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Berada di antara para penonton, kita bisa ikut merasakan kegembiraan mereka, yang ikut bertepuk, menyanyi, dan tertawa, sepanjang pertunjukan drama musikal yang disutradarai Joko Anwar itu. Inilah tontonan, yang terasa pas dengan para sosialita dan kelas menengah Jakarta, yang merindukan ”hiburan alternatif”, di luar film dan konser musik yang berlimpah.

Cerpen-cerpen Terbaik “Kompas”

Agus Noor
http://manuskripdody.blogspot.com/

Tradisi pemilihan cerpen terbaik Kompas yang sudah berlangsung sejak 1992 telah menghasilkan 15 cerpen terbaik, mulai dari Kado Istimewa (Jujur Prananto) hingga Cinta di Atas Perahu Cadik (Seno Gumira Ajidarma). Hingga tahun 2004, pemilihan cerpen terbaik itu dilakukan oleh ”orang dalam Kompas”, yakni para redaktur yang dianggap punya kompetensi dengan dunia sastra.

Pengarang di Tepi Panggung

Agus Noor*
Kompas, 24 Feb 2008

AKANKAH Sanusi Pane menuliskan Sandyakala Majapahit bila naskah lakon tersebut tidak akan dipentaskan di malam Kongres Pemuda pada tahun 1928? Pertanyaan itu mengisyaratkan betapa naskah lakon ditulis memang untuk dipentaskan.

Itulah sebabnya, Seno Gumira Ajidarma ”merasa perlu repot-repot” mementaskan dan menyutradarai sendiri naskah Kenapa Kau Culik Anak Kami? yang ditulisnya.

Tokoh yang Menghilang dalam Cerpen

Agus Noor
http://pelitaku.sabda.org/

Belakangan, makin sulit kita menemukan tokoh dalam cerpen. Situasi ini bahkan sudah terasa sejak 15 tahun lalu, kira-kira. Tentu saja, dalam setiap cerpen, selalu ada tokoh, setidaknya ada nama-nama tokoh. Tetapi mereka bukan tokoh-tokoh yang memiliki karakterisasi yang kuat, atau setidaknya seperti yang dinyatakan Goenawan Mohamad, “tokoh yang mampu untuk tersisa dalam kenangan setelah kita selesai membacanya”. Tiba-tiba saya kangen sekali dengan tokoh-tokoh semacam Open (Jalan Lain ke Roma, Idrus) Inem (Inem, Pramudya Ananta Toer), Bawuk (Umar Kayam), Orez (Orez, Budi Darma), kakek penjaga surau (Robohnya Surau Kami, AA Navis), Rintrik yang buta (Jantung Tertusuk Panah, Danarto).

Bayi Bersayap Jelita

Agus Noor*
http://www.jawapos.co.id/

KAKEK bisa membelah diri. Bisa berada di banyak tempat sekaligus…

Aku melihat Kakek tengah berdiri memandang keluar jendela, ketika aku masuk. Kamar gelap -mungkin Kakek sengaja mematikan lampu- aku merasa ia tak ingin diganggu. Pelan pintu aku tutup kembali. ”Masuklah,” suara Kakek lemah. Ia tergolek, dengan selang oksigen dan infus yang bagai mencencangnya di ranjang. Demi Tuhan! Aku tadi melihat Kakek berdiri dekat jendela itu. Benarkah Kekek bisa berpindah dalam sekejap?