Me(nye)mbunyikan Sumpah

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 26 Okt 2014

Dua data historis tercatat dalam perkembangan bahasa Indonesia (BI) ketika diterima sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928. Pertama, perumusan naskah persiapan Sumpah Pemuda yang semula berbunyi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Melayu” (M. Yamin) diubah menjadi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” (M. Tabrani). Kedua, prasaran Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Guru di Den Haag (1916) yang “meramalkan” bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa persatuan di wilayah Hindia Belanda. Baca selengkapnya “Me(nye)mbunyikan Sumpah”

Keunikan Bahasa

Agus Sri Danardana *
Riau Pos, 6 Okt 2013

SUNGGUH, bahasa memang bersifat arbitrer: sewenang-wenang dan sekehendak hati, tidak berasaskan pada pertimbangan (rumus, hukum, dan/atau uturan) yang pasti. Itulah sebabnya, kokok ayam jantan disebut kukuruyuk oleh orang Jawa (Tengah dan Timur) dan disebut kongkorongok oleh orang Sunda. Padahal, penyebutan itu bisa jadi sama-sama didasarkan pada pendengaran mereka (orang Jawa dan Sunda) atas bunyi kokok ayam jantan. Baca selengkapnya “Keunikan Bahasa”

Menjunjung Bahasa Persatuan

Agus Sri Danardana *
Lampung Post, 22 Okt 2008

JUDUL tulisan ini dikutip dari teks asli Sumpah Pemuda (butir ketiga) yang berbunyi: Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Entah apa sebabnya, pernyataan sikap kebahasaan: menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia itu oleh banyak orang telah diubah menjadi sebuah pengakuan: berbahasa satu, bahasa Indonesia. Baca selengkapnya “Menjunjung Bahasa Persatuan”