Tag Archives: Agustinus Wahyono

Sebuah SMS Mengusung Kisah Usang

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Sebenarnya saya kurang sreg menceritakan hal-hal yang menyinggung cinta begini. Apalagi cinta usang berasa kadaluarsa. Sebab, sebagian Anda pasti pernah mengalami perjalanan cinta yang lebih dahsyat daripada yang saya alami. Dan, barangkali sebagian Anda pun berpendapat, cerita cinta itu cengeng, cuma untuk anak-anak baru pubertas. Tapi, maaf, pada kesempatan ini saya terpaksa bercerita tentang cinta usang dan gejolak perasaan saya yang bermula pada suatu kejadian tatkala jam kerja menjelang istirahat siang.

Gawat!

Agustinus ?Onoy? Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Dadaku belum berhenti berdebar tak teratur. Aliran darahku pun masih bergerak cepat. Napasku agak terengah-engah. Pikiranku terus terpampang berita di televisi tadi bercampur berita-berita beberapa hari lalu, dan telingaku seakan terngiang-ngiang obrolan politikus di televisi, rekan-rekan di kantor, tetangga, saudara-saudaraku, orang-orang di POM bensin, di mal, berinti: orang itu akhirnya jadi ketua pemuka rakyat, menyusul seorang presiden terpilih yang didukungnya.

Pokoknya? Tragis!

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Seorang pemuda menyeruak dari pekatnya kelambu kelam, melintasi jalanan remang-remang menuju warna-warni pelangi pertokoan. Matanya nyalang. Bibirnya tersungging senyuman. Gerakan tubuhnya begitu ringan.
?Siapa dia?? tanyamu.
Kamu pasti terkejut atas kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Tak ada tanda-tanda atau aba-aba dari suara-suara atau pantulan cahaya pada tubuhnya. Sekonyong-konyong dia nongol. Tampangnya pun berbeda dengan gelandangan yang malas mandi.

Peminum Minyak

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Suatu tanggal di Juli 2005, sebelum bedug magrib ditabuh.

Mobil-mobil berderet-deret sejauh ratusan meter di tepi jalan pinggiran kota. Truk, pick up, sedan. Memang tidak terlihat mobil-mobil mulus keluaran mutakhir. Urutan paling depan berada di pintu masuk pom BBM yang telah tutup menjelang adzan Azar. Kira-kira puluhan. Mereka terkapar seperti gelandangan yatim-piatu yang tengah kelelahan sekaligus kelaparan, atau musafir yang diperdaya kemarau dan kelangkaan air.

Bisikan Angin Laut

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Angin laut berdesis-desis seolah membisiki sesuatu di liang telingaku. Surya timur menghangatkan perahu-perahu kayu, kapal-kapal besi, bangunan-bangunan warisan kolonial, atap-atap kaki lima, kendaraan, dan kulit orang-orang. Beberapa calon penumpang tengah menanti kapal cepat menuju pulau seberang. Beberapa pedagang kaki lima sedang membuka warung di pinggir dermaga kota ini. Aku tengah duduk di salah satunya. Kulirik arlojiku. Pukul 06.27. Masih ada waktu untuk menikmati suasana di sini, pikirku.