Tag Archives: Ahda Imran

Pascakolonialitas Katrin Bandel *

Ahda Imran **
http://boemipoetra.wordpress.com

/1/
Pascakolonialisme bukan sekadar sebuah deskripsi keadaan, tapi sebentuk perlawanan

BEGITU tulis Katrin Bandel. Perempuan kulit putih yang suatu hari membaca anekdot Gayatri Spivak tentang lelaki borjuis kulit putih yang tak mau bicara sebab sterotip yang telah dilekatkan padanya sebagai keturunan bangsa penjajah.

Pasar Sejarah Nusantara (Menanggapi Binhad Nurrohmat)

Ahda Imran *
Kompas, 19 Nov 2012

ESAI Binhad Nurrohmat atau BN ”Menerawang Kotak Hitam Nusantara” (Kompas, 11 November 2012) menyasar hubungan karya sejarah di Nusantara dan karya sastra. Hubungan yang diletakkannya sebagai persekutuan imajinasi dan nalar manakala keduanya melakukan penerawangan atas fakta dan data sejarah.

Dari Batujaya Sampai Atlantik

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 31 Okt 2010

DALAM pengertian harfiahnya, reinventing adalah menemukan kembali. Ketika dijadikan frasa “reinventing Sunda” untuk keperluan sebuah konferensi dalam konteks budaya, maka konferensi tersebut hendak diandaikan sebagai upaya untuk mencari dan menemukan kembali sejarah atau identitas budaya Sunda yang (dibayangkan) hilang. Meski disadari bahwa hasrat besar semacam itu terlalu sederhana dicapai hanya dengan sebuah konferensi.

Tubuh Manohara dan Kita

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 27 Juni 2009

MANOHARA Odelia Pinot. Perempuan 17 tahun itu tak hanya cantik, bahkan sangat cantik. Tak sekadar itu, dia juga istri seorang pangeran mahkota, Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra dari Kesultanan Kelantan Malaysia. Karena ia permaisuri Putra Mahkota, maka di kalangan istana dan rakyat Negara Bagian Kelantan, perempuan berdarah campuran Makassar-Amerika ini dikenal sebagai Cik Puan Temenggong Kelantan.

Jerami, Hasrat, dan Waktu

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 23 Jan 2010

JERAMI itu tak hanya berupa batang-batang padi yang telah mengering setelah dituai. Akan tetapi, ia juga menyimpan jejak panjang ihwal manusia dan ruang yang dihuninya, para petani, masyarakat agraris, dan ruang pesawahan. Dan ketika jerami itu menjadi tubuh manusia maka niscaya di situ ada yang hendak diungkapkan. Dari mulai realitasnya sebagai sebuah sosok hingga berbagai lanskap peristiwa yang dihuninya.