INTEGRASI KE-MADURA-AN DALAM PUISI DAN DIRI

Matroni Musèrang *

Dalam tulisan ini saya akan mencoba berkenalan dengan penyair Madura yang tidak menetap di tanah kelahirannya, namun rasa Maduranya masih kental dan manis. Di komunitas ‘Kutub’ Pondok Pesantren Hasyim Asy’arie Yogyakarta, saya berguru kepada tiga penyair Pulau Garam “Madura,” Mahwi Air Tawar, Salman Rusydie Anwar, dan Ahmad Muchlis Amrin, di samping juga kepada pengasuh K.H. Zainal Arifin Thaha (alm) dan Kuswaidi Syafi’ie, Evi Idawati, Raudal Tanjung Banua, Joni Ariadinata, tetapi tulisan ini hanya focus pada tiga penyair yang sama-sama memiliki ciri khas dalam menulis puisi. Continue reading “INTEGRASI KE-MADURA-AN DALAM PUISI DAN DIRI”

Bila Puisi Menggugat Cinta

Ach. Muchlish Ar
http://www.kr.co.id/

PUISI adalah suara hati nurani melalui mediasi kata yang sarat dengan makna. Bahkan setiap kata dalam puisi diisi roh oleh penyairnya, agar pembaca dapat masuk ke ruang rasa yang ?suci? sebagai hasil kontemplasi penyair merespons segala realitas. Hal ini oleh kalangan umum disebut ?spirit power? yang menggugah pembaca dan pendengar untuk larut dan tenggelam di dunia teks. Sehingga pembaca sastra (puisi) cenderung terpesona oleh tampilan kata dan makna yang khas dan mendalam yang dideskripsikan oleh penyair. Continue reading “Bila Puisi Menggugat Cinta”