Tag Archives: Ahmad Syafii Maarif

Ketika Bahasa Agama Rontok

Ahmad Syafii Maarif
Kompas, 15/11/12

Kemenangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 tanpa dukungan partai agama mungkin dapat juga diartikan sebagai semakin rontoknya bahasa agama untuk merebut simpati pemilih, baik pada putaran pertama maupun putaran kedua.

Warisan Abul Kalam Azad (1) (11 November 1888-24 Februari 1958)

Ahmad Syafii Maarif
http://onetea.multiply.com/

Nama lengkapnya adalah Maulana Abul Kalam Muhiyuddin Ahmad Azad. Azad adalah tambahan belakangan sebagai nama penanya yang berarti bebas ( free). AKA (Abul Kalam Azad) kelahiran Makkah pada 1888, ibunya seorang Arab, ayahnya punya darah Afghanistan. Dalam usia 13 tahun AKA sudah dikawinkan dengan seorang gadis bernama Zuleikha Begum.

Warisan Abul Kalam Azad (2) (11 November 1888-24 Februari 1958)

Ahmad Syafii Maarif
http://onetea.multiply.com/

Saat terjadi perang saudara yang berdarah-darah antara wilayah barat dan timur Pakistan pada 1971, AKA sudah tidak ada lagi. Sekiranya masih hidup, tentu akan menangis, sekalipun dalam hati dia merasa benar, agar tidak berpisah dengan India. Inggris sebagai bekas penjajah India telah meninggalkan bom waktu dalam bentuk wilayah sengketa Kashmir dengan penduduk mayoritas Muslim. Sudah berlangsung 64 tahun, sengketa India-Pakistan tentang Kashmir ini belum juga menemukan titik terang.

Tahun 2011 bagi Indonesia

Ahmad Syafii Maarif
Kompas, 3 Jan 2011

SEBAGAI negara kepulauan terpanjang di muka bumi dengan anak suku bangsa dan tradisi yang beragam dan sangat kompleks, kita patut bersyukur karena masih bisa bertahan dalam sebuah keutuhan entitas negara-bangsa. Memasuki dasawarsa kedua abad ke-21, berarti kita sedang membuka gawang tahun ke-66 dalam batang usia kemerdekaan kita yang dinyatakan pada 17 Agustus 1945.

Rumah Puisi Taufiq Ismail

Ahmad Syafii Maarif
http://www.republika.co.id/

Siapa yang tak kenal TI (Taufiq Ismail), kelahiran 1935, adalah dokter hewan sebagai latar belakang pendidikan universitas, tetapi habitatnya ternyata bukan di sana. Kita tidak tahu apakah TI masih tertarik melihat jenis-jenis hewan yang digelutinya selama kuliah di IPB. Secara luas TI dikenal sebagai penyair, sastrawan papan atas di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara. Sesungguhya TI adalah penerus pendahulunya, Dr Abu Hanifah, dokter obat, dan Asrul Sani, juga seorang dokter hewan. Abu Hanifah adalah seorang novelis, sekalipun karyanya tidak terlalu menonjol di ranah ini.