Posted by PuJa on May 17, 2012
Ahmadun Yosi Herfanda * Republika, 08 Juni 2008 PEMIKIRAN dan karya-karya sang renaisans Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana (STA), masih tetap menarik untuk dikaji. Selalu ada hal-hal baru yang ditemukan oleh para pengkaji yang tajam dan kritis. Menyusul diterbitkannya beberapa buku tentang STA, karya dan pemikirannya, berbagai seminar dan diskusi pun digelar dalam rangka 100 tahun [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 10, 2012
Ahmadun Yosi Herfanda * Republika, 26 Maret 2006 Sebagai wilayah penyangga ibukota (Jakarta), Tangerang banyak menjadi hunian pilihan para urban, termasuk sastrawan. Dari catatan Yayasan Kesenian Tangerang (YKT), misalnya, sedikitnya ada 49 sastrawan yang tinggal di wilayah Kabupaten Tangerang. Di luar daftar itu, masih ada nama-nama lain yang pernah mempublikasikan karya di media massa, sehingga [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 2, 2012
Ahmadun Yosi Herfanda Republika, 30 Maret 2008 Jalan-jalan ke Pulau Penyengat Perginya pada hari Jumat Apa gunanya pemimpin hebat Kalau tidak dekat dengan rakyat (Pantun politik Suryatati A Manan)
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 23, 2011
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan Ahmadun Yosi Herfanda __Republika, 07 Mei 2006 Di tengah mencairnya ‘orientasi estetik’ (orientasi kesastraan) dalam berpuisi dewasa ini muncul sangat banyak penulis perempuan. Mereka memaraki komunitas-komunitas penggemar puisi, sejak komunitas saiber sampai penerbitan buku. Mereka bahkan menjadi motor utama komunitas-komunitas tersebut. Komunitas Bunga Matahari, misalnya, ditokohi Gratiagusti Chananya Rompas (Anya). [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Bagian pertama dari dua tulisan Ahmadun Yosi Herfanda _Republika, 30 April 2006 Poetry begins in delight And ends in wisdom. Tesis singkat penyair AS, Robert Frost, di atas rasanya sangat pas untuk memulai pembicaraan tentang sajak-sajak karya 50 perempuan dalam Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia (APPPI) 2005 (Risalah Badai dan Ksi, 2005) yang dieditori oleh [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 14, 2011
Ahmadun Yosi Herfanda Republika, 25 Mei 2008 SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 22, 2011
(Bagian Pertama dari Tiga Tulisan) Ahmadun Yosi Herfanda** Republika, 22 April 2007 PENGAJARAN sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra mereka — meskipun aspek ini lebih mendapat perhatian dibanding [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
(Bagian Kedua dari Tiga Tulisan) Ahmadun Yosi Herfanda** Republika, 29 April 2007 DENGAN merumuskan tujuan pengajaran apresiasi sastra ke TIU dan menjabarkannya ke TIK seperti di atas, target peningkatan apresiasi sastra siswa yang semula terkesan abstrak dan sulit diukur hasilnya, menjadi lebih jelas, operasional, dan terukur. Namun, cara mengukur tingkat keberhasilannya tidak sama dengan aspek [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
(Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan) Ahmadun Yosi Herfanda** Republika, 6 Mei 2007 PERSOALAN utama yang hingga kini masih menghambat pengembangan pengajaran sastra di sekolah menengah umum (SMU) adalah masih melekatnya pengajaran sastra pada mata pelajarah bahasa (Indonesia). Persoalan utama ini sudah sering digugat oleh para akademisi sastra dan sastrawan, misalnya Suminto A Sayuti dan Taufiq [...]
Filed under: Esai