Posted by PuJa on December 23, 2011
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan Ahmadun Yosi Herfanda __Republika, 07 Mei 2006 Di tengah mencairnya ‘orientasi estetik’ (orientasi kesastraan) dalam berpuisi dewasa ini muncul sangat banyak penulis perempuan. Mereka memaraki komunitas-komunitas penggemar puisi, sejak komunitas saiber sampai penerbitan buku. Mereka bahkan menjadi motor utama komunitas-komunitas tersebut. Komunitas Bunga Matahari, misalnya, ditokohi Gratiagusti Chananya Rompas (Anya). [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Bagian pertama dari dua tulisan Ahmadun Yosi Herfanda _Republika, 30 April 2006 Poetry begins in delight And ends in wisdom. Tesis singkat penyair AS, Robert Frost, di atas rasanya sangat pas untuk memulai pembicaraan tentang sajak-sajak karya 50 perempuan dalam Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia (APPPI) 2005 (Risalah Badai dan Ksi, 2005) yang dieditori oleh [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 14, 2011
Ahmadun Yosi Herfanda Republika, 25 Mei 2008 SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 22, 2011
(Bagian Pertama dari Tiga Tulisan) Ahmadun Yosi Herfanda** Republika, 22 April 2007 PENGAJARAN sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra mereka — meskipun aspek ini lebih mendapat perhatian dibanding [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
(Bagian Kedua dari Tiga Tulisan) Ahmadun Yosi Herfanda** Republika, 29 April 2007 DENGAN merumuskan tujuan pengajaran apresiasi sastra ke TIU dan menjabarkannya ke TIK seperti di atas, target peningkatan apresiasi sastra siswa yang semula terkesan abstrak dan sulit diukur hasilnya, menjadi lebih jelas, operasional, dan terukur. Namun, cara mengukur tingkat keberhasilannya tidak sama dengan aspek [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
(Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan) Ahmadun Yosi Herfanda** Republika, 6 Mei 2007 PERSOALAN utama yang hingga kini masih menghambat pengembangan pengajaran sastra di sekolah menengah umum (SMU) adalah masih melekatnya pengajaran sastra pada mata pelajarah bahasa (Indonesia). Persoalan utama ini sudah sering digugat oleh para akademisi sastra dan sastrawan, misalnya Suminto A Sayuti dan Taufiq [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 21, 2011
Ahmadun Yosi Herfanda Republika, 29 April 2007 SUATU hari, para pemuda dari 31 provinsi di Indonesia berkumpul di atas KRI Sangkurilang. Sambil berlayar mengarungi Laut Jawa, mereka mempertunjukkan berbagai atraksi seni-budaya — dan tentu juga mempelajari masalah-masalah kelautan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 19, 2011
Ahmadun Yosi Herfanda Republika, 10 Juni 2007 ADA yang mengaum, ada yang beteriak, ada yang merintih, ada yang membanting kursi, ada yang berdendang, ada yang membawa jaelangkung, ada yang cool-cool saja. Begitulah aksi panggung para ‘penyair Nusantara’ dalam perhelatan Pesta Penyair Indonesia, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering, di Medan, 25-28 Mei 2007 lalu.
Filed under: Canting