Membaca Gugusan Mata Ibu (Sekumpulan Sajak Raudal Tanjung Banua)

Andhika Dinata *
Harian Haluan, 15 May 2011

/i/
Membaca sajak-sajak Raudal Tanjung Banua (disingkat RTB) dalam antologi sajak Gugusan Mata Ibu seperti membaca di kolam yang te­nang. Itu kesan yang pertama hadir. Ber”rasa” dan bermakna. Pengandaian situasi semacam itu bukan dengan maksud melebih-lebihkan, membe­sarkan atau pula mengkerdilkan kadar penyair yang dimaksud. Continue reading “Membaca Gugusan Mata Ibu (Sekumpulan Sajak Raudal Tanjung Banua)”

Sastrawan yang Baik sama dengan Kritikus yang Baik

RESPONS TERHADAP TULISAN DARMAN MOENIR DAN HERU JONI PUTRA
Andhika Dinata
http://www.harianhaluan.com/

Ada yang bertanya. Ada yang menjawab. Ada yang mengkritik. Ada yang mengulas. Tanya-jawab, kritikan, ulasan menjadi buah pena yang lazim dari suatu kritik sastra. Seorang kritikus tidak disebut “kritikus” apabila ia tidak mampu mengkritik. Begitu juga sebaliknya, seorang kritikus tidak akan dapat pula disebut “kritikus” apabila ia tidak “berbesar hati” untuk dikritik. Budaya kritik-mengkritik dalam konteks -kritik sastra- memang harus terus berkembang menjadi siklus eksistensi yang tidak boleh padam. Continue reading “Sastrawan yang Baik sama dengan Kritikus yang Baik”