Tag Archives: Angela

Mencecap Oase Timur Tengah

Qaris Tajudin, Angela
http://www.ruangbaca.com/

Novel-novel dari Timur Tengah mulai banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sayang, pemilihannya masih lemah dan kuno.

Angin padang pasir tampaknya sedang berhembus ke sini. Novel dan karya fiksi para sastrawan Timur Tengah mampir sudah. Sejumlah pengarang yang sebelumnya tak dikenal di sini, kini buku mereka dapat dengan mudah kita jumpai di rak-rak toko buku.

Kesaksian dari Medan Perang

Angela
http://www.ruangbaca.com/

Dalam perjalanan sastra Amerika, Perang Saudara menjadi salah satu seting dan inspirasi cerita yang tidak habis digali. Banyak karya besar lahir dari peristiwa yang terjadi pada 1816-1865 itu. Tidak kurang satu juta warga, dari total 35 juta warga Amerika saat itu, tewas dan luka-luka dalam peperangan antarnegara bagian itu.

Novel Remaja Minus Cinta

Nur Aini, Angela
http://www.ruangbaca.com/

Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati adalah contoh bagaimana sebuah novel remaja selayaknya dihidangkan. Novel tersebut memenangi penghargaan pertama dalam Sayembara Menulis Novel Remaja. Ini perhelatan pertama yang digelar Radio Nederland Seksi Indonesia dan Penerbit Grasindo.

Rumah Tumbuh memang tidak seperti kebanyakan novel remaja yang banyak menyuguhkan cerita cinta monyet anak remaja. Ia berkisah tentang Alysa, anak bungsu yang merasa terasing di tengah keluarganya karena merasa dia “tidak dianggap”.

Yang Terbaring Lemah Menjelang Pesta

Olivia K Sinaga, Angela
http://www.ruangbaca.com/

Seharusnya ini menjadi perhelatan yang meriah. Dua pekan lagi, Taman Ismail Marzuki menjadi tuan rumah perhelatan kecil untuk sebuah peringatan. Ulang tahun seorang tokoh sastra Tanah Air, Pramoedya Ananta Toer. Namun, sejak beberapa pekan belakangan, tokoh yang berkali-kali masuk nominasi penerima Hadiah Nobel Sastra ini tengah terbaring sakit di rumahnya di kawasan Bojong Gede, Bogor.

John Banville, Masuk Booker dengan Gaya

Angela
http://www.ruangbaca.com/

“Kemajemukan hidup ini harus kita hadapi dengan sesuatu yang gaya, berkelas.” Kalimat itu pernah diucapkan novelis asal Irlandia, John Banville. Ia tidak sekadar mengucapkan tapi menerjemahkannya ke dalam lebih dari 14 novel yang sudah dihasilkannya dalam 25 tahun belakangan.

Banville menciptakan sebuah gaya dalam novelnya. Setiap karya yang ia hasilkan dipadati kalimat yang berirama, bermakna liris. “Gaya” itulah yang mengantarnya meraih Man Booker Prize, penghargaan buku bergengsi Inggris Raya, ajang tahunan yang berlangsung awal pekan silam.