Tag Archives: Anjrah Lelono Broto

Sastrawan Penghamba Media Massa Bukanlah Cita-Cita **

Anjrah Lelono Broto *
kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Sebagai homo socius, manusia membutuhkan manusia lain guna membangun eksistensinya sebagai manusia itu sendiri. Komunikasi di antara sesama manusia menjadi elemen mendasar dalam menciptakan relasi dan eksistensi tersebut. Ketika sebuah puisi dan atau cerpen telah dimuat dalam rubrikasi sastra sebuah media massa, dengan sendirinya puisi dan atau cerpen maupun pengarangnya tersebut mendulang apresiasi publik hingga bermuara pada identitas “karya sastra” dan “sastrawan”. Di sinilah, komunikasi antara sastrawan dan penikmat karyanya terjalin dengan media massa sebagai kanal penyambungnya.

Kesuksesan UN dan Pengangguran

Anjrah Lelono Broto
Surabaya Pagi, 31 Mei 2013

1.573.036 siswa dari 1.581.286 siswapeserta Ujian Nasional (UN) 2013 tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dansederajat telah dinyatakan lulus. Sementara yang tidak lulus berjumlah 8.250siswa. “Berarti persentase kelulusan tahun 2013 ini turun 0,02 persen daritahun sebelumnya yang mencapai 99,5 persen,” kata Menteri Pendidikan danKebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh saat mengumumkan hasil akhir Ujian Nasional2013 untuk tingkat SMA dan sederajat (KoranSindo, 24/5/2013).

Petanda Kata Pentas Sastra 2012 Dari PP Al Anwar Paculgowang

Santri Primitif Telah Mati
Anjrah Lelono Broto *)
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Memang tak sesakti yang dibuat pujangga asli / Mohon dimaklumi / Sekaligus dinikmati / Baris kata yang tak tahu diri / Yang digubah di warung kopi // Mereka yang terlupa masa lalu / Dan tak peduli masa depan / Mereka yang mengadu nasib dengan sebatang rokok / Dan secangkir kopi / Mereka yang mencurahkan perasaan di ujung / Pena dan secarik kertas / Mereka yang berkelana di antara maya dan nyata // Sang pujangga pinggiran // Aku tak pandai berkarya / Aku tak terlalu mengarti tentang sastra / Namun hari ini / Ku beranikan diri / Untuk memanggungkannya // Di antara para pujangga //

Inong Tanpa Sekat; Membaca Karya Tulisan dan Akting Bengkel Sastra UNJ

Anjrah Lelono Broto *)
__Radar Mojokerto, 4 Des 2011

“Seharusnya kesadaran akan seni dan berkesenian dapat menempat pada ruang dan waktu yang terus musti ditanamkan.”(Agus Riadi).
Tanpa iringan musik Gambang Kromong khas Betawi atau pun ceceran riang senandung Lagu Kicir-Kicir, Teater Kopi Hitam Indonesia (TKHI) menapakkan kaki di tanah Si Pitung yang sekarang menjadi ibukota tanah air tercinta. Di bawah bimbingan inginan sederhana untuk men’silahturakhim’kan repertoar “Inong; Dongeng Rumah Jalang”, awak TKHI mengucap salam kekerabatan berkesenian dan berkebudayaan kepada kawan-kawan komunitas Bengkel Sastra Universitas Negeri Jakarta (Bengsas UNJ) di jantung ladang kerja kreasinya, Rawamangun.

Sejarah Sastra Indonesia: Menemukan Titik Mula

Anjrah Lelono Broto*
http://inioke.com/

Membaca sejarah perkembangan sastra Indonesia (periodisasi, menurut HB Jassin), ada tanda tanya besar yang berputar-putar di dalam benak kita. Benarkah sastra Indonesia diawali dari Angkatan Balai Pustaka?

Paus sastra Indonesia, HB Jassin, juga menetapkan bahwa sastra Indonesia diawali dari sastrawan-sastrawan yang bernaung di Balai Pustaka seperti Marah Rusli, Tulis Sutan Sati, Ama Datuk Mojoindo, Suman Hasibuan, dll. Bukankah mereka adalah sederet sastrawan berlatar belakang budaya Melayu?