Tag Archives: Anton Kurnia

Penerjemah

Anton Kurnia *
Majalah Tempo, 17 Nov 2014

Dalam penutup tulisannya, “Terjemahan” (Tempo, 11-17 Agustus 2014), Goenawan Mohamad mengutip Sapardi Djoko Damono: “Tak ada penerjemahan yang salah; yang ada adalah karya (yang disebut ’terjemahan’) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita.”

Merah yang Bukan Kirmizi

Anton Kurnia *
Majalah Tempo, 10 Feb 2014

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Sastra Indonesia di Pentas Dunia

Anton Kurnia *
http://www.dw.com

Tahun ini kita memperingati 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, masih banyak hal yang harus kita benahi. Dalam bidang sastra, misalnya, sejujurnya karya sastra Indonesia masih menjadi terra incognita—negeri tak dikenal—dalam pentas sastra dunia. Salah satu sebabnya, meski kita cukup banyak menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Indonesia, adalah tak banyak karya sastra kita yang diterjemahkan ke bahasa asing, terutama bahasa utama dunia seperti Inggris, Jerman, dan Prancis.

Copet

Horacio Castellanos Moya *
Koran Tempo, 22 April 2012

AKU mulai sering mengun jungi Café Imperial sejak aku pindah ke apartemen temanku Hernando Salcido, sebuah apartemen yang luas berperabot lengkap di Jalan Jesús y María yang akan menjadi milikku selama sebulan penuh karena temanku, istrinya, dan anak perempuannya sedang menikmati liburan musim panas di rumah pantai keluarga mereka di Fuengirola.

Sepasang Mata Kelabu

Anton Kurnia
Koran Tempo 02/02/03

Aku hanya memiliki ingatan samar-samar tentang kabut yang menyelimuti minggu itu. Saat itu aku baru saja genap enam tahun. Telepon berdering. Ayahku bergegas mengangkatnya. Ia tak berbicara sepatah pun, tapi tampak begitu tegang, darah seolah membeku di wajahnya. Ayahku masuk ke dalam kamar dan segera kudengar ibuku mulai menjerit-jerit. Telepon itu mulai berdering dan terus berdering. Rumah kami terus dipenuhi oleh para karip kerabat dan ibuku terus menerus menjerit. Orang-orang bergerak tanpa arah, wajah mereka tampak sedih.