MERDEKA BERTUALANG

Aprinus Salam *

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan hal apapun untuk belajar apapun.

Termasuk hal belajar di sini tentu saja merdeka untuk tahu, merdeka berpikir, merdeka memilih, merdeka berpendapat, merdeka berkeyakinan, merdeka melakukan berbagai aktifitas sebagai implikasi merdeka belajar. Continue reading “MERDEKA BERTUALANG”

(BER-)KELAKAR

Aprinus Salam *

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih kurang sama maksudnya. Dalam pengertian-pengertian yang inheren tersebut, ada pengertian yang mengarah pada substansi, ada pula pengertian yang mengarah pada kategori. Continue reading “(BER-)KELAKAR”

MODAL ORANG AWAM

Aprinus Salam *

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal budaya, modal ekonomi, dan modal simbolik. Persoalannya, tidak semua orang sukses menabung modal-modal tersebut. Banyak sebab mengapa seseorang gagal mengakumulasi modal-modal dalam hidupnya. Continue reading “MODAL ORANG AWAM”

PENGKHIANAT SEBELUM INDONESIA

Aprinus Salam *

Anggaplah keberadaan Indonesia mulai disepakati pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bisa juga lebih awal sedikit pada masa kebangkitan nasional 20 Mei 1908, walau baru bersifat kesepakatan beberapa organisasi baik atas nama agama atau sosial-ekonomi.

Pada masa sebelumnya, belum ada kesepatakan yang secara eksplisit mengatasnamakan bangsa Indonesia. Bahkan sebagian masih menyebutnya sebagai wilayah atau kerajaan di Jawa, Sumatra, dan sebagainya. Continue reading “PENGKHIANAT SEBELUM INDONESIA”

CERITA-CERITA SILAT KHO PING HOO

Aprinus Salam *

Cerita silat itu salah satu genre sastra (prosa). Setiap genre sastra selalu ada pengikutnya/pembacanya. Dalam genre silat itu, masih terdapat sub-sub genre lagi. Ada cerita silat sub-genre roman, detektif, sejarah, dan sebagainya, dengan selingan humor, percintaan, seks, teknologi persenjataan dan silat itu sendiri, politik, filsafat, dan etika.

Kadar budaya cerita silat cukup kental, karena cerita silat selalu berbasis budaya lokal tempat cerita silat itu diceritakan. Continue reading “CERITA-CERITA SILAT KHO PING HOO”