Tag Archives: Arie MP Tamba

PMK

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 24 Nov 2013

BEBERAPA waktu berselang, penyair Solo, Sosiawan Leak ”mengajak” saya ikut serta dalam kumpulan puisi yang sedang dirancangnya. Beberapa kumpulan puisi (lebih dari satu jilid) yang ditegaskan sebagai reaksi (atau bahkan perlawanan) penyair atas hiruk-pikuknya korupsi di Indonesia saat ini. Maka, buku puisi itu pun dinamakan Puisi Menolak Korupsi, PMK (September, 2013).

Arus Balik Nusantara: Pram, Pengagum Kemanusiaan

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 3 Nov 2013

‘Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.‘ (Pramudya Ananta Toer, Tempo, 1999)

KETIKA Alice Munro, cerpenis Kanada yang piawai mengolah dan mengurai “jiwa perempuan” sampai ke sela-sela terdalamnya, dan menampilkannya ke permukaan dalam untaian cerita bergaya realis yang memukau menyabet Nobel Sastra 2013, seorang penulis di dunia maya menulis, “Saya suka, tapi saya tetap menjagokan Pramudya Ananta Toer.” Suatu pernyataan yang bagi saya “membangunkan” pertanyaan dan mengingatkan saya pada sebuah tulisan tentang karya Pram, Arus Balik.

STA

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 13 Okt 2013

PADA Jumat lalu (4/10), di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta dilangsungkan kuliah umum tentang Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang disampaikan oleh Karlina Supelli, seorang pengajar Program Pascasarjana di Sekolah Tinggi Driyarkara Jakarta. Acara diadakan untuk mengenang STA, sastrawan, pemikir pendidikan, pendiri kampus dan pengajar filsafat yang pernah jadi ketua pertama Akademi Jakarta.

Dari Pernikahan Darah sampai Atlantik Utara

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 7 Juli 2013

Catatan untuk Festival Teater ke-11 LSPR Jakarta. (Barangkali karena mengacu pada minimalisme kosmos panggung teater Butoh dan teater Absurd, arah tulisan jadi begini).

UNTUK ke-11 kalinya, pada 26 Juni ‘“ 3 Juli 2013, London School of Public Relations (LSPR) Jakarta menyelenggarakan festival teater sebagai bagian dari pemenuhan kelulusan mata kuliah (kali ini)

Menyambut Ribuan Putu

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 16 Juni 2013

MENGHERANKAN bahwa apa saja yang ada di sekelilingnya dapat menjadi pokok ceritanya: seekor coro, majalah TEMPO, sebuah pistol, perayaan lebaran, sepakbola dan PSSI, sekolah, rumah yang digusur, SDSB, PPN, pesta, mesin tik dan komputer, atau Indonesia tahun 3000 dan malam tahun baru.