Tag Archives: Arief Junianto

Doa dan Solidaritas untuk WS Rendra

Arief Junianto, Ary Nugraheni
http://www.surabayapost.co.id/

Layar hitam dibentang menutupi enam meter selasar Galery Surabaya di Jl. Yos Sudarso, Selasa tadi malam (14/7).
Enam gong besar digantung dengan tali dan kawat. Dua buah lampu besar dihadapkan kepanggung untuk penerangan.

Sound system 500 watt dan satu mikrofon diletakkan persis di tengah panggung setinggi satu meter. Puluhan tikar panjang digelar di pelataran beraspal.

Menata Ulang Festival

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Puluhan festival seni di Surabaya terjadi hampir setiap tahun. Namun tahun ini terjadi kekosongan penyelenggaraan. Sebaiknya penyelenggaraan festival perlu ditata ulang.
Dalam setahun, bisa dipastikan Surabaya digelontor oleh berbagai festival. Yang terpenting bisa disebut, Festival Seni Surabaya, Festival Cak Durasim, Surabaya Full Music, Festival Teater Pelajar, Bienalle Seni Rupa Jawa Timur (dua tahunan). Selain itu ada berbagai festival yang bersekala kecil dan berorientasi pada produk budaya tertentu, seperti festival ludruk, festival remo, festival teater remaja, festival puisi, dll. Festival yang disebut terakhir hadir secara fluktuatif (baca : tidak tentu).

Aku Berkarya Maka Aku Ada

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri.

Media berbahasa Jawa boleh dikatakan sangat minim. Di Surabaya media yang ada hanya dua, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Itupun terbit hanya untuk kalangan tertentu yang berminat dengan bahasa Jawa. Di dua media ini, bisa dikatakan budaya Jawa, secara libih luas mampu disiarkan. Selain itu bila dibandingkan dengan sastra daerah lain, sastra Jawa masih memiliki tempat yang cukup menguntungkan. Hal ini disebabkan penutur bahasa Jawa memang masih terbilang cukup banyak.

Sastrawan yang Kontroversi

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Tanggal 1-7 Februari 2008 di Blora, berlangsung peringatan 1000 hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer. Periode 60-an Pram dikenal pengikut Lekra. Inilah yang menyebabkan terjadi kontroversi antara kepengarangannya dan ideologi politik yang dianutnya.