Tag Archives: Arif Hidayat

Teks yang Partikular

Arif Hidayat
http://www.lampungpost.com/

Foucault (dalam Sarup, 2003: 102) “menghargai sastra transgresi—sastra yang berusaha merong-rong pembatasan yang diberikan oleh bentuk wacana karena kelainannya.” Ia melihat teks-teks sastra dapat memberikan ruang bicara bagi sisi yang lain: dunia yang selama ini terabaikan.

Sastra di Bawah Pemosisian Wacana

Arif Hidayat *
http://www.lampungpost.com/

Sastra adalah wacana yang menampilkan realitas—sekaligus realitas itu sendiri—, tapi sastra juga berada di bawah pemosisian wacana, sebagaimana yang pernah dibicarakan Pierre Bourdieu dalam membaca sastra secara sosiologis, yang dilakukan di Prancis, untuk melihat relasi sastra dan posisinya dalam arena kultural.

Esensi dan Orientasi “Sastra Adiluhung”

Arif Hidayat*
Suara Karya, 2 Mei 2009

DERASNYA arus modernisasi di Indonesia tidak hanya berdampak pada tatanan ekonomi dan politik saja. Modernisasi juga telah mengikis sendi-sendi sastra. Hal ini tampak dengan adanya gagasan mengenai “sastra adiluhung” dalam ranah kesuastraan Indonesia. Memang, pernyataan mengenai sastra adiluhung tidaklah se-populer istilah sastra sufi dan sastra profetik.

Puisi yang Terus Ditulis

Arif Hidayat *
http://www.lampungpost.com/

Mengapa puisi terus ditulis dalam zaman yang penuh dengan media digital, yang lebih menawarkan imaji sensasional yang mengasyikkan? Kenapa para penyair harus repot-repot menulis puisi dengan kadar menyampaikan makna secara tidak langsung, yang justru membuat banyak orang merasa bingung untuk menemukan maknanya dengan susunan kata-kata yang rumit?

Teks yang Meniru dan yang Berubah

Arif Hidayat
Lampung Post, 23 Juli 2011

KETIKA kau menjumpai sebuah teks, maka sesungguhnya kau sedang membaca pengalaman: ide yang diabstraksikan melalui bahasa. Seorang pakar hermeneutika ilmu sosial, Paul Ricoeur, memandang “teks sebagai diskursus yang dibakukan”. Diskursus itu sendiri memuat peristiwa bahasa melalui proses objektivikasi. Jelasnya—ini seperti juga kata Derrida—semuanya dapat menjadi teks: cara memilih baju, sepatu, dan makan adalah teks, terlebih lagi cara bertutur atau cara menulis puisi, juga teks. Apa yang akan kau pikirkan kemudian setelah tahu bahwa praktek sosial adalah juga teks?