Sumpah Menulis!

: Aku telah, tetap, dan akan terus menjadi pengarang! (Pramoedya Ananta Toer)
Arif Saifudin Yudistira *
lampungpost.com

Sumpah adalah pernyataan dan hakikat pergumulan tekad, perwujudan hasrat hingga pada kebulatan niat untuk melakukan sesuatu. Sumpah adalah konsekuensi dan menuntut tanggung jawab para pengucap sumpah. Dalam kehidupan kita sumpah erat dan intim dengan persoalan religiositas manusia yang berhadapan dengan Tuhannya. Sumpah sebagai tanda perwujudan kepasrahan sekaligus tantangan manusia menjadi manusia tangguh. Dengan sumpah itu pula manusia menghilangkan dirinya dan meleburkan dirinya kepada tekad, usaha hingga keputusan Tuhan. Continue reading “Sumpah Menulis!”

Pengakuan Terlarang; Catatan Curhat Penulis Sastra

Review LintaSastra #2

Arif Saifudin Yudistira
pawonsastra.blogspot.com

Obrolan singkat, ringan, dan sedikit banyak ditemani dengan canda tawa membicarakan sastra dan penulis idola. Tak dirasa, peserta pun mulai berbicara satu demi satu mengisahkan para idolanya. Idola begitu penting untuk dihadirkan dalam konteks penulis, karya kepenulisan dan iman menjadi penulis, itu menurut salah satu peserta. Begitupun, ada yang menganggap idola tak begitu penting dan mengganggu. Continue reading “Pengakuan Terlarang; Catatan Curhat Penulis Sastra”

Kelatahan Kita dalam Berbahasa dan Mempelajari Sastra

Arif Saifudin Yudistira *

”Kita dibaca bahasa atau kita membaca bahasa???”
[Afrizal Malna dalam sebuah diskusi]

Sejarah bahasa indonesia melampui proses yang panjang dalam menentukan format bernama “bahasa indonesia” yang saat ini berubah menjadi kecenderungan yang kaku, tersistem dan baku. Kebakuan dan kekakuan ini cenderung membuat bahasa menjadi sesuatu yang sukar difahami atau justru sebaliknya menjadi seakan-akan begitu mudah dipelajari. Continue reading “Kelatahan Kita dalam Berbahasa dan Mempelajari Sastra”