SERATUS TAHUN KESUNYIAN: TRAGEDI DAN IRONI YANG DIULANG-ULANG

A.S. Laksana
aslaksana.com

“Dengan cara membesar-besarkan setiap kejadian, hingga mencapai tingkat takhyul,
kita bisa menikmati tragedi dengan rileks dan menertawainya sekaligus.”

“Bertahun-tahun nanti, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía akan teringat senja yang samar ketika ayahnya membawanya menemukan es.” ) Kalimat pembuka ini melontarkan kita ke masa depan yang jauh, yang akan kita temui nanti di bagian tengah novel. Dan kalimat kedua setelah itu langsung membawa kita masuk ke awal mula Macondo, di masa ketika “dunia seperti baru saja dibentuk”. Dan seterusnya, cerita akan berjalan maju, seperti sebuah kronologi, dengan sesekali jeda ke masa lalu atau ke masa depan.
Ini adalah cerita tentang keluarga Buendia, pendiri kota fiksional Macondo, atau mungkin sejarah “versi Marquez” tentang Amerika Latin. Baca selengkapnya “SERATUS TAHUN KESUNYIAN: TRAGEDI DAN IRONI YANG DIULANG-ULANG”

Borges dan Cerita yang Meragukan

A.S. Laksana
Jawa Pos, 26 Jun 2016

ADA banyak penulis bagus di muka bumi, tapi bagi saya Jorge Luis Borges (1899–1986), penulis Argentina, adalah yang paling menjengkelkan.

Kita sudah sering mendengar atau membaca tuturan orang mengenai fiksi dan realitas. ”Masalah mendasar pada fiksi adalah ia harus bisa dipercaya. Realitas boleh saja tidak masuk akal,” kata Tom Wolfe, penulis dan wartawan sekaligus salah seorang pelopor New Journalism. Satu Tom lagi, yakni Tom Clancy, menyatakan hal yang kurang lebih sama. Baca selengkapnya “Borges dan Cerita yang Meragukan”

Para Penulis di Balik Bongkahan Koral

A.S. Laksana *
Jawa Pos 6/04/2015

TANPA memperhitungkan faktor kemalasan diri sendiri, pada suatu siang, tiba-tiba terlintas dalam benak bahwa tampaknya lebih baik saya menjadi penulis kritik sastra saja. Saya pikir, ini urusan yang besar manfaatnya. Kita tidak lagi memiliki orang seperti H.B. Jassin dan A. Teeuw yang tekun mengikuti perkembangan kesastraan dan rajin menyampaikan pemikiran mereka tentang karya-karya para penulis. Baca selengkapnya “Para Penulis di Balik Bongkahan Koral”

MEMBACA ULANG HEMINGWAY: HILLS LIKE WHITE ELEPHANTS

A.S. Laksana
aslaksana.com

Cerpen “Hills Like White Elephants” terbit pertama kali tahun 1927 dan membingungkan orang-orang pada saat itu. Ia seperti ditulis tanpa plot, dengan narator yang fungsinya sangat minimum, tanpa berupaya memberi sedikit pun penjelasan tentang latar belakang si lelaki dan si gadis, atau seperti apa pakaian mereka, atau bagaimana intonasi mereka saat bicara, atau dengan bahasa tubuh seperti apa mereka menyampaikan kata-kata, dan sebagainya. Si lelaki hanya diperkenalkan sebagai “seorang lelaki Amerika” dan si gadis disebut begitu saja sebagai “seorang gadis”. Namun dari koper-koper mereka, yang masih dilekati label hotel-hotel tempat mereka pernah menginap, kita tahu bahwa mereka dua orang pendatang. Dan, tanpa penjelasan narator, kita juga tahu bahwa si gadis tidak memahami bahasa setempat. Baca selengkapnya “MEMBACA ULANG HEMINGWAY: HILLS LIKE WHITE ELEPHANTS”

Teror dan Polusi Pikiran

A.S. Laksana
Jawa Pos, 19 Mar 2017

“LIFE is very short and there’s no time for fussing and fighting, my friend.” – The Beatles
Saya memutar berulang-ulang lagu dari kelompok musik Inggris tersebut beberapa hari belakangan, mungkin karena dirasuki perasaan sentimentil berada di tengah keributan dan pertengkaran yang sepertinya tak sudah-sudah. Setiap hari ada berita buruk, dan jumlahnya banyak. Itu adalah polusi bagi pikiran. Baca selengkapnya “Teror dan Polusi Pikiran”

Masalah Sastra Indonesia? Para Politikus

A.S. Laksana *
Jawa Pos 8/02/2015

“APA masalah sastra Indonesia menurut Anda?’’ Itu pertanyaan yang sesungguhnya tidak tepat ditujukan kepada saya. Saya bukan orang yang tekun mengamati sastra Indonesia. Namun, saya menjawab juga pertanyaan itu karena dia bertanya. Saya menjawab: Sama dengan masalah persepakbolaan di negara ini, sama dengan masalah pendidikan, sama dengan masalah kemacetan di Jakarta, sama dengan masalah pemberantasan korupsi, sama dengan masalah-masalah lain yang tidak kunjung bisa dibereskan. Baca selengkapnya “Masalah Sastra Indonesia? Para Politikus”

Dunia Sastra dan Keriuhan yang Menyenangkan

A.S. Laksana
https://www.jawapos.com

LIMA minggu belakangan saya berkutat dengan kritik sastra, dan masih akan membicarakannya sampai minggu kedelapan bersama Martin Suryajaya, di kelas yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ini kali pertama DKJ menyelenggarakan kelas kritik sastra; para pengurus Komite Sastra DKJ menganggap kritik sastra adalah urusan yang penting dan kelas semacam ini perlu diadakan. Baca selengkapnya “Dunia Sastra dan Keriuhan yang Menyenangkan”