Tag Archives: Asarpin

Manusia dan Dunia

Asarpin

Kita adalah manusia-manusia yang belum selesai.
–Carlos Fuentes.

Secarik kalimat Carlos Fuentes itu menyempil dalam esainya yang telah diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Rizadini dan diterbitkan jurnal Prosa No. 2/2002, dalam sutu paragrap yang menyinggung Octavio Paz….”Kepiatuan masa hidup kita dilihat dalam puisi dan pemikiran Paz sebagai suatu tantangan yang mesti diatasi lewat perubahan terus-menerus dalam pengetahuan manusia, dari semua pengetahuan manusia.

Sajak sebagai Pertaruhan Berbahasa

Asarpin
Lampung Post, 15 Jan 2012

SAYA ingin berbicara sajak sebagai pertaruhan berbahasa dengan mengambil contoh sejumlah sajak Sitok Srengenge. Sebagai penyair, Sitok termasuk penyair Indonesia yang telah menghasilkan beberapa buku sajak yang memiliki kekhasan di bidang penggunaan bahasa Indonesia modern. Dia menulis cukup banyak sajak dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali itulah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa Nukila Amal.

Melampaui Teologi Multikultural

Asarpin

Kajian tentang teologi multikultur selama ini tak memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan kehidupan umat beragama. Basis berteologi dengan acuan pada nilai-nilai kultural lokal tidak relevan dan hanya berpotensi mengaburkan analisis relasi kuasa yang ada. Kehendak untuk membangun struktur-struktur lokal dalam bingkai pluralitas dalam masyarakat multikultural secara tidak langsung melanjutkan bentuk-bentuk kajian yang kurang membumi.

Indonesianisasi Istilah

Asarpin

Dulu jadi dahulu ketika bahasa Indonesia berkembang tanpa pendahulu. Tanpa referen. Tanpa preseden. Ia ada dan diakui sebagaimana nama Indonesia ada dan diakui, sekalipun nama itu tidak lazim dan tidak berasal dari bumi sendiri.

Bahasa Indonesia lahir dari kaum pergerakan. Sejak lama ia jadi angan-angan untuk diwujudkan, tapi baru pada 28 Oktober 1928 ia diakui sebagai bahasa persatuan.

Menodai Agama

Asarpin

Orang yang setuju dengan undang-undang untuk melindungi agama, itu pendapat mereka. Orang yang tidak setuju dengan itu juga pendapat. Wilayah hukum dan hukum tak bisa mengadili perbedaan pendapat. Musyawarah sebagai esensi berdemokrasi yang mesti dikedepankan. Tak bisa main hakim sendiri, apalagi main tangkap.