Sandiwara itu Propaganda!

(Resensi Buku Sandiwara dan Perang Anggitan Fandy Hutari)
Bandung Mawardi
Lampung Post, 14 Juni 2009

Fragmen sejarah sandiwara pada masa Jepang terkuak dan memiliki arti dalam buku ini. Studi Fandy Hutari seperti menggenapi kerja H.B. Jassin dalam studi Kesusastraan di Masa Jepang (1969). Masa pendudukan Jepang (1942-1945) kerap diklaim sebagai masa menentukan untuk perubahan nasib kesusastraan dan sandiwara. A. Teeuw, Ajip Rosidi, Jakob Sumardjo, dan H.B. Jassin mengakui bahwa masa pendek itu telah memberi ruh lain dalam pembentukan sastra Indonesia modern. Bagaimana dengan nasib sandiwara? Baca selengkapnya “Sandiwara itu Propaganda!”

Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam

Bandung Mawardi
Suara Merdeka, 25 Jan 2oo8

Bahasa adalah hantu untuk memberi ancaman hidup dan mati atas kelahiran puisi. Afrizal terus mengurusi bahasa sebagai dalil dan risiko. Eksplorasi dan eksplanasi tentang bahasa bertebaran dalam tubuh puisi.. Afrizal dalam puisi-puisi lama tampak mengimani dan mengamini bahasa melawan rezim. Puisi-puisi lama Afrizal kerap mengandung “dendam di setiap akhir kalimat”. Dendam itu perlahan menyusut dalam puisi-puisi mutakhir. Baca selengkapnya “Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam”

Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 25 Mei 2015

Bermula dari percakapan, terpilihlah nama untuk perkumpulan modern di Hindia Belanda. Soetomo menanggapi penjelasan Wahidin Soedirohoesodo: “Punika satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utami.” Petikan kalimat berbahasa Jawa ini dimuat di buku berjudul Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (1951) garapan Imam Supardi. Baca selengkapnya “Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa”

Negeri Mitos

Bandung Mawardi
Seputar Indonesia, 18 Okt 2oo9

Peradaban dunia selalu lahir dan tumbuh dengan dilema antara mitos, sastra, dan sejarah. Tiga perkara ini memiliki ciri berbeda tapi kerap hadir bebarengan sehingga memunculkan kerancuan. Ketidakmafhuman atas tiga perkara itu memungkinkan publik tersesat atau mengalami sesat pikir alias termasuk “kaum rancu.” Bagaimana korespodensi dalam mitos, sejarah, dan sastra sanggup memberi terang untuk memeriksa ulang arus peradaban manusia? Baca selengkapnya “Negeri Mitos”

Bahasa Melajoe

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 18 Jan 2016

Pada 1920-an, buku-buku mengenai bahasa dan sastra sering menggunakan sebutan Melajoe. Buku digunakan dalam pelajaran di sekolah atau bacaan umum. Buku-buku itu agak memicu penasaran mengenai keseringan sebutan Melajoe ketimbang Indonesia. Para tokoh politik kebangsaan, sastrawan, dan wartawan mulai berikhtiar mengenalkan Indonesia sebagai gagasan dan imajinasi. Ikhtiar serius belum memberi pengaruh besar dalam penentuan kurikulum pendidikan kolonial atau penerbitan buku. Sebutan bahasa Indonesia memang ada dalam Sumpah Pemuda (1928) meski tak gampang menular ke penerbitan buku atau penentuan pelajaran di sekolah. Baca selengkapnya “Bahasa Melajoe”

Madong Lubis: Lagu dan Buku

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 24 Okt 2016

TIGA tahun sebelum peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda, Madong Lubis (1890-1959) mempersembahkan lagu-lagu bocah. Lirik lagu berbahasa Indonesia. Kita menganggap sebutan bahasa Indonesia sudah berlaku sebelum 1928. Sebuah lagu mungkin bukti kecil untuk melacak geliat bahasa Indonesia. Madong Lubis memajukan bahasa Indonesia melalui lagu-lagu merdu, sebelum rajin menulis buku pelajaran bahasa Indonesia. Baca selengkapnya “Madong Lubis: Lagu dan Buku”

Roman NU dan Muhammadiyah

Bandung Mawardi *
solopos.com

Di toko buku berslogan diskon di Kota Solo, ada tatanan buku-buku baru. Saya melihat buku berwarna hijau! Buku itu roman berjudul Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan dan diterbitkan oleh Bentang.

Di atas judul dan gambar kambing ada keterangan: Pemenang I Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta. Wah, roman ini tentu patut diduga keren! Di bawah judul ada komentar pendek dari Ahmad Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah: Novel yang sangat menarik dan mengalir, enak dibaca. Baca selengkapnya “Roman NU dan Muhammadiyah”