Tag Archives: Bandung Mawardi

Roman NU dan Muhammadiyah

Bandung Mawardi *
solopos.com

Di toko buku berslogan diskon di Kota Solo, ada tatanan buku-buku baru. Saya melihat buku berwarna hijau! Buku itu roman berjudul Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan dan diterbitkan oleh Bentang.

Di atas judul dan gambar kambing ada keterangan: Pemenang I Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta. Wah, roman ini tentu patut diduga keren! Di bawah judul ada komentar pendek dari Ahmad Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah: Novel yang sangat menarik dan mengalir, enak dibaca.

Mozaik Kritik Sastra (Esai-esai Bandung Mawardi)

Judul Buku: Sastra Bergelimang Makna
Penulis: Bandung Mawardi
Penerbit: Jagat Abjad Solo
Cetakan: I, 2010
Tebal: 176 halaman
Harga: Rp. 30.000,-
Peresensi: Munawir Aziz *
nusabuku.blogspot.co.id

Lima Penulis Memikat: dari Bandung Mawardi hingga Acep Iwan Saidi

Darwin
thephinisipress.blogspot.co.id

Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan
lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana,
komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar

(Samsudin Berlian, Kompas, 18/6/2010)

Menuliskan Biografi Pahlawan

Bandung Mawardi
Jawa Pos, 8 Nov 2oo9

Buku adalah kunci untuk publikasi sosok dan nilai pahlawan. Rezim Orde Lama menjalankan operasionalisasi untuk publikasi pahlawan dengan membentuk Lembaga Sejarah dan Antropologi (1958). Lembaga itu memilki misi membuat buku biografi para pahlawan.

Buku dan Pengisahan Proklamasi

Bandung Mawardi *
www.solopos.com, 16 Agu 2012

Sejarah bertaburan kisah. Sejarah memerlukan pengisahan. Indonesia bergerak di arus sejarah. Para pengisah memberi rujukan untuk pembukaan kembali halaman-halaman masa silam.

Kompetensi dan penggunaan bahasa dari para pengisah menentukan keberterimaan atau curiga. Kita justru bisa ada di persimpangan jalan saat para pengisah menyuguhkan perbedaan dan pertentangan.

Novel dan Nostalgia Asmara

Bandung Mawardi *
Lampung Post, 1 Sep 2013

KESUSASTRAAN modern di Indonesia bertumbuh bersama novel moncer, Sitti Nurbaya (1922). Marah Rusli (1889?1968) menulis novel itu merujuk ke biografi, nasib sebagai lelaki dalam belitan asmara dan adat istiadat. Marah Rusli hidup di zaman modern, menghirup modernitas dan memiliki jejak adat Minangkabau. Persoalan-persoalan pelik sulit ditanggulangi secara lugas, rawan menimbulkan polemik dan pertikaian.