Arswendo “Si Istimewa” Sastra

Bandung Mawardi *
detikNews, 20 Jul 2019

Dulu, bocah-bocah di Indonesia diajari keranjingan membaca majalah (Si Kuntjung, Kawanku, Bobo, Ananda) dan buku-buku dari pelbagai penerbit. Masa lalu bergelimang cerita. Pada masa 1980-an, bocah-bocah yang membaca Majalah Kawanku biasa “bersantap” cerita-cerita dari para pengarang tenar. Cerita dianggap pilihan untuk dinikmati bocah. Di Kawanku edisi 13-19 Mei 1983 tersaji alinea: “Dia memang istimewa. Biar diejek, diledek, dibuat tertawaan, ia tetap si Dul. Seperti juga traktor, ia terus jalan, terus melindas, tidak peduli apa yang ada di depannya.” Alinea dalam cerita berjudul Si Dul Istimewa gubahan Arswendo Atmowiloto. Tokoh di cerita adalah Dul, menjadikan diri tokoh panutan bagi anak-anak. Continue reading “Arswendo “Si Istimewa” Sastra”

Puisi, Kota, Urbanisasi

Bandung Mawardi *
Kompas, 3 Feb 2013

Urbanisasi adalah dilema tanpa akhir dalam kompleksitas perkara politik, ekonomi, sosial, identitas, dan kultural. Urbanisasi menjadi risiko modernitas. Dilema urbanisasi selalu memberi pesimisme tanpa solusi. Utopia-utopia dari laku urbanisasi selalu menutupi pesimisme dan mimpi buruk. Taruhan nasib untuk hidup mungkin janji sepele dari mitos urbanisasi. Continue reading “Puisi, Kota, Urbanisasi”

Sandiwara itu Propaganda!

(Resensi Buku Sandiwara dan Perang Anggitan Fandy Hutari)
Bandung Mawardi
Lampung Post, 14 Juni 2009

Fragmen sejarah sandiwara pada masa Jepang terkuak dan memiliki arti dalam buku ini. Studi Fandy Hutari seperti menggenapi kerja H.B. Jassin dalam studi Kesusastraan di Masa Jepang (1969). Masa pendudukan Jepang (1942-1945) kerap diklaim sebagai masa menentukan untuk perubahan nasib kesusastraan dan sandiwara. A. Teeuw, Ajip Rosidi, Jakob Sumardjo, dan H.B. Jassin mengakui bahwa masa pendek itu telah memberi ruh lain dalam pembentukan sastra Indonesia modern. Bagaimana dengan nasib sandiwara? Continue reading “Sandiwara itu Propaganda!”

Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam

Bandung Mawardi
Suara Merdeka, 25 Jan 2oo8

Bahasa adalah hantu untuk memberi ancaman hidup dan mati atas kelahiran puisi. Afrizal terus mengurusi bahasa sebagai dalil dan risiko. Eksplorasi dan eksplanasi tentang bahasa bertebaran dalam tubuh puisi.. Afrizal dalam puisi-puisi lama tampak mengimani dan mengamini bahasa melawan rezim. Puisi-puisi lama Afrizal kerap mengandung “dendam di setiap akhir kalimat”. Dendam itu perlahan menyusut dalam puisi-puisi mutakhir. Continue reading “Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam”