Mengenang Balai Pustaka (BP)

Bandung Mawardi *
Koran Tempo, 30 Mar 2013

Di ujung tahun 1971, Nur Sutan Iskandar mengenang Balai Pustaka. Pengarang tua ini memiliki memori panjang tentang Balai Pustaka, sejak 1919. Semula, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru di Palembang dan Padang. Lakon hidup berubah oleh sepucuk surat Sutan Mohamad Zein dari Jakarta. Isi surat menganjurkan Nur Sutan Iskandar berhenti jadi guru, berpindah ke Jakarta untuk bekerja di Balai Pustaka (Intisari, Nomor 98, September 1971). Continue reading “Mengenang Balai Pustaka (BP)”

Penelantaran Warisan Jassin

Bandung Mawardi *
Koran Tempo, 02 Juni 2017

Hari-hari menjelang peringatan 100 tahun H.B. Jassin (3 Juli 1917–3 Juli 2017), kita masih bersedih atas nasib sial warisan sang kritikus sastra berupa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Warisan itu telantar saat pemerintah, perusahaan, dan komunitas sedang gencar mengadakan aksi literasi dengan mendirikan taman baca atau perpustakaan. Continue reading “Penelantaran Warisan Jassin”

Lebaran: Kota dan Puisi

Bandung Mawardi *
Suara Merdeka 10 Juni 2018

Lebaran berarti orang-orang merasa menang, girang, dan baru. Segala arti lebaran terbentuk dari pemahaman ajaran agama sampai ke perkara dunia mutakhir. Lebaran itu suci dalam pengertian agama. Lebaran pun setumpuk lara saat kita mengikuti segala berita dan cerita, dari mudik sampai kematian. Continue reading “Lebaran: Kota dan Puisi”

Puisi Terlalu Tragedi

Bandung Mawardi *

Di Kompas, ia sering tampil dengan opini. Cerpen turut disajikan ke pembaca. Puisi? Para pembaca Kompas mungkin jarang mengenali keampuhan lelaki asal Jogjakarta itu melalui halaman puisi. Opini-opini di Kompas memang bermaksud “menasihati” atau mengingatkan pembaca mengenai hal-hal darurat atau rawan prihatin. Aku kadang membaca serius, kadang merasa sudah mengerti sejak di judul dan alinea awal-akhir. Di halaman 6 atau 7, Indra Tranggono itu esais besar di Kompas. Ia pun muncul di Kedaulatan Rakyat dan Solopos. Aku menganggap halaman di Kompas mengesahkan Indra Tranggono itu budayawan, sebutan sulit mendapat arti terang di Indonesia. Rajin beresai menjadikan orang bergelar budayawan? Continue reading “Puisi Terlalu Tragedi”