Menerabas dengan Belenggu

Beni Setia
Riau Pos, 7 Agu 2016

PADA ”Mencari dan Menemukan Diri” (Kata Pengantar di Ladang Pembantaian, Lamongan: Pagan Press, 2015), Eko Darmoko mencatat: Samuel Beckett, penulis puisi, cerpen, novel, dan esai bosan dengan eksistensi kebebasan menulis, ketiadaan acuan yang menyebabkan leluasa menulis apa saja di dalam genre yang disukai. Ia sedang kehilangan gairah menulis, karena itu mencari tantangan dengan menulis naskah drama–tulisan yang dibatasi kepastian karakter, dialog tajam, fokus serta kuat menghadirkan inti konflik dari cerita, dan situasi pembatas dari kemungkinan pementasan. Continue reading “Menerabas dengan Belenggu”

Teks Suroboyoan

Beni Setia
Kompas, 9 Nov 2012

Catatan Rainy MP Hutabarat, ”Koaya Roaya” (Kompas, 7/9/2012), jernih menandai dua gejala berbahasa. Pertama, masuknya sisipan u di suku kata awal satu kata, yang secara lisan menandakan ada peningkatan level kuantitas serta kualitas makna (kata) awal. Continue reading “Teks Suroboyoan”

Tiga Cerpenis Jawa Timur

Beni Setia
horisononline.or.id

YANG dimaksudkan dengan tiga cerpenis Jawa Timur dalam tulisan ini adalah: Fahrudin Nasrulloh, yang termanifestasikan dengan kumpulan cerpen, Syekh Bajirun dan Rajah Anjing, (Pustaka Pujangga, Lamongan Februari 2011); dan Mardi Luhung dengan kumpulan cerpen, Saya Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (komodo books, Depok Februari 2011); serta R. Giryadi dengan kumpulan cerpennya, Dongeng Negeri Lumut (Satukata, Sidoarjo Januari 2011). Dua bulan di awal 2011, tiga kumpulan cerpen dari tiga cerpenis yang mempunyai latar belakang berbeda, dan bagaimana perbedaan latar belakang itu menentukan corak ekspresi ber-“cerpen” mereka. Continue reading “Tiga Cerpenis Jawa Timur”

Membaurkan Gradasi Sejarah

Beni Setia
Lampung Post, 25 Nov 2012

BANYAK mata acara di Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2012, meskipun fokus utamanya mengarah pada? Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara?, yang diselenggarakan di Awadana Manohara Hotel, Borobudur, Magelang, 28?31 Oktober. Acara di mana para penulis bertemu. Kreator–menurut Yoke Darmawan–tak habis-habisnya mengeksplor berbagai kenyataan dengan mengaktifkan imajinasi. Continue reading “Membaurkan Gradasi Sejarah”