Posted by PuJa on May 23, 2012
Beni Setia http://www.lampungpost.com/ SASTRINA yang baik, kamu bertanya dan sekali lagi bertanya: Apa makna dari sertifikasi seniman dari Negara bagi aku. Jawabannya sederhana sekali, aku tidak tahu dan tidak ingin ambil pusing. Kenapa? Karena, pertama, dalam hal sertifikasi itu ada subjek yang punya otoritas melakukan sertifikasi, serta ada si objek yang subordinan dan baru eksis [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on May 14, 2012
Beni Setia * Pikiran Rakyat, 31 Mei 2008 SEDULUR Hikmat Gumelar, esaimu di Khazanah “Perihal Kelas Menulis”, (19/4), membuatku bimbang. Itu sebuah model penyampaian gagasan yang amat aneh karena menekankan suasana untuk menjelaskan sesuatu yang sangat sublim subjektif kepada orang yang hidup dengan waktu, yang selalu berpacu supaya punya sedikit waktu untuk sekadar hadir sebagai [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 15, 2012
Beni Setia Jawa Pos, 12 Feb 2012 GAMBIR tinggi di awang-awang. Orang datang dan pergi di antara jalur rel-rel yang bersirentang mendatangkan serta mesilalukan derap, yang sesaat berhenti untuk memuntahkan yang bersigegas turun atau menyedot orang-orang yang menekah naik. Dan di pagi itu: Aku menggeliat dari pegal, memilih kursi serta merokok—tidak peduli akan ancaman si [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on February 26, 2012
Beni Setia http://www.suarakarya-online.com/ KUMPULAN puisi terbaru Tjahjono Widijanto (TW), Janturan (Jakarta, Spirit Management, 2011), terdiri dari tiga bagian: Janturan, Bayang-bayang, serta Lurung. Terma janturan itu sendiri diterangkan TW, di dalam prolog yang ditulisnya sendiri, sebagai bagian dari dramaturgi pementasan wayang (Jawa), sesuatu yang diterimanya sebagai nina bobo pengantar tidur dari sang bapak yang kebetulan guru [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on February 20, 2012
Judul : TANHA, Kekasih yang Terlupa Penulis : S. Jai Penerbit : Jogja Mediautama Cetakan : Pertama, Juni 2011 Tebal : 321 + vi halaman ; 14.8 x 21 cm ISBN : 978-602-99092-1 Peresensi : Beni Setia http://www.balipost.co.id/
Filed under: Resensi
Posted by PuJa on January 31, 2012
Beni Setia Lampung Post, 22 Jan 2012 LEGENDA Sangkuriang terkadang hanya dirujukkan pada fakta ruang (gunung) Tangkuban Parahu—selain Burangrang dan Patuha—, lantas (Sungai) Citarum, danau purba Bandung yang surut, dan Sanghyang Tikoro. Titik di Rajamandala, di mana air mengabrasi lapisan lahar dingin pembendung Citarum, dan jadi terowongan liar yang mengeringkan danau purba Bandung.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 17, 2011
Sebuah novel perjalanan hidup yang penuh intrik emosional dan mimpi Beni Setia KONSTRUKSI pementasan wayang kulit bertumpu pada kelir–layar–, di mana si penonton ada di sebelah luar dan menikmati serta mengapresiasi tampakan dari bayangan wayang yang dimainkan dalang dan diproyeksikan oleh terang blencong–lampu minyak. Bila dirinci, di zona batas: hadir wayang yang aktualistik dimainkan dalang, [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 10, 2011
Beni Setia * http://www.suarakarya-online.com/ Romantisme Hardho Sayoko (HS) cq sajak-sajaknya yang terkumpul dalam buku puisi, Penyair Negeri Rembulan (Teras Budaya, Agustus 2011), membuat saya teringat pada etos kreatif dari seorang Martopangrawit, seperti dirumuskan Sindunata pada esei “Martopangrawit, Empu Gending: Perasaan adalah Pangkal Utama dalam Menggubah”, Cikar Bobrok (Kanisius dan Bentara Budaya, cet. 6/2002), hlm.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 14, 2011
Beni Setia Suara Karya, 17 Mei 2008 MESKI tampak sarkastik, sesungguhnya Anton De Sumartana [ADS], dalam kumpulan puisi Republik Satu Rakyat [Radya Juara dan Swawedar69, 2007] – seharusnya ditulis RI-1: Rakyat – sebenarnya sedang mengingatkan kita tentang bahaya dari demokrasi yang berlebihan, karena tanpa kontrol Nasionalisme.
Filed under: Esai