Posted by PuJa on January 31, 2012
Beni Setia Lampung Post, 22 Jan 2012 LEGENDA Sangkuriang terkadang hanya dirujukkan pada fakta ruang (gunung) Tangkuban Parahu—selain Burangrang dan Patuha—, lantas (Sungai) Citarum, danau purba Bandung yang surut, dan Sanghyang Tikoro. Titik di Rajamandala, di mana air mengabrasi lapisan lahar dingin pembendung Citarum, dan jadi terowongan liar yang mengeringkan danau purba Bandung.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 17, 2011
Sebuah novel perjalanan hidup yang penuh intrik emosional dan mimpi Beni Setia KONSTRUKSI pementasan wayang kulit bertumpu pada kelir–layar–, di mana si penonton ada di sebelah luar dan menikmati serta mengapresiasi tampakan dari bayangan wayang yang dimainkan dalang dan diproyeksikan oleh terang blencong–lampu minyak. Bila dirinci, di zona batas: hadir wayang yang aktualistik dimainkan dalang, [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 10, 2011
Beni Setia * http://www.suarakarya-online.com/ Romantisme Hardho Sayoko (HS) cq sajak-sajaknya yang terkumpul dalam buku puisi, Penyair Negeri Rembulan (Teras Budaya, Agustus 2011), membuat saya teringat pada etos kreatif dari seorang Martopangrawit, seperti dirumuskan Sindunata pada esei “Martopangrawit, Empu Gending: Perasaan adalah Pangkal Utama dalam Menggubah”, Cikar Bobrok (Kanisius dan Bentara Budaya, cet. 6/2002), hlm.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 14, 2011
Beni Setia Suara Karya, 17 Mei 2008 MESKI tampak sarkastik, sesungguhnya Anton De Sumartana [ADS], dalam kumpulan puisi Republik Satu Rakyat [Radya Juara dan Swawedar69, 2007] – seharusnya ditulis RI-1: Rakyat – sebenarnya sedang mengingatkan kita tentang bahaya dari demokrasi yang berlebihan, karena tanpa kontrol Nasionalisme.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 21, 2011
Beni Setia Pikiran Rakyat, 12 Des 2010 SECARA sederhana, apa yang diributkan sebagai politik sastra itu (barangkali) cuma merujuk ke semacam manipulasi kuasa nonsastra untuk menegakkan otonomi sastra. Baik dengan memanfaatkan modal, dominasi, maupun pemaksaan kriteria sastrawi dengan ditunjang referensi yang luas untuk sekadar melakukan pengangkangan selera keredaksian media massa. Yang menyebabkan hadir sebuah model [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 3, 2011
Beni Setia http://www.suarakarya-online.com/ TERMIN realisme ini merujuk ke konteks sastra, secara naif diartikan sebagai narasi deskripsif yang mengungkap aspek kehidupan riil/nyata secara langsung, lugas dan cermat. Meski sesungguhnya kenyataan obyektif tidak bisa utuh ditampilkan dan dikenali lagi seperti apa adanya, karena yang ditampilkan di dalam teks itu kenyataan yang telah diseleksi serta digarisbawahi kepentingan subyektif [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 25, 2011
Beni Setia http://www.lampungpost.com/ Dua tahunan yang lalu, seorang teman dari temannya temanku meneruskan SMS dari seorang kawan dari kawannya temanku itu, bunyinya sederhana sekali: “Akhirnya saya memutuskan menolak tawaran ikut UK Intl. Literary Biennale 2009″. TIDAK ada yang istimewa dari SMS yang diterima pertengahan Maret ini, selain seseorang tak nyaman atau tak bisa hadir pada [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on August 22, 2011
Beni Setia Lampung Post, 21 Agus 2011 SEORANG teman yang gemar mengumpulkan dan mendalami bacaan tentang sufisme mengirim sebuah SMS selepas tengah malam. Pendek isinya: “Di alam kubur Rabi’ah al-Adawiyah didatangi dua malaikat, ditanya ‘Man Rabbik?—siapa Tuhanmu?’. Rabi’ah menangis dan balik berkata, ‘Masya Allah … tanya Tuhan, siapakah Rabi’ah.’” Saya tersenyum. Teringat akan dua anekdot [...]
Filed under: Esai