Posted by PuJa on November 15, 2011
Binhad Nurrohmat Kompas, 16 Mei 2010 UANG kertas Rp 100.000 keluaran tahun 2004 berilustrasikan teks Proklamasi serta gambar Soekarno-Hatta dan gedung parlemen. Uang tak cuma alat tukar. Uang juga alat simbolik kekuasaan politik. Nalar modern melantari uang menguasai tata-kehidupan. Edukasi, seni, bahkan agama terjerat kuasa-uang. Tanpa kartu ATM dan kartu kredit kehidupan seakan macet.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 14, 2011
Binhad Nurrohmat Pikiran Rakyat, 14 Nov 2010 KETIKA kritik sastra mangkir, dunia kreasi sastra tak pailit karenanya, tetapi kritik sastra patut tertunduk malu atas kemangkirannya. Kesusastraan telah menyambut baik eksistensi kritik sastra, bahkan terlampau berlebihan kadang.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 6, 2011
Binhad Nurrohmat Kompas, 23 Jan 2011 AMATIRISME ritik seni dari khalayak awam yang kian subur konon lantaran hawa segar demokratisasi pembacaan, itu tampaknya lebih bertendensi merebut agenda politis ketimbang meraih agenda estetis. Demokratisasi merupakan ide politik, bukan? Amatirisme kritik seni semacam itu oleh Walter Benjamin disinyalir sebagai oknum peruntuh aura seni.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 8, 2011
Binhad Nurrohmat http://terpelanting.wordpress.com/ Perpuisian Surabaya pasca-Orba menjadi sejenis gerakan separatis di wilayah perpuisian Indonesia. Dengan buku kumpulan puisi Labirin dari Mata Mayat karya W. Haryanto (2003), Pengantin Lumpur karya Mashuri (2004), dan Ekspedisi Waktu karya Indra Tjahyadi (2004); gerakan itu gamblang memproklamasikan tampangnya yang membelot dari muka pasaran perpuisian Indonesia.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 15, 2011
Binhad Nurrohmat* Media Indonesia, 12 Agu 2007 SAYA dan Taufiq Ismail adalah dua penyair yang memiliki pandangan dan sikap yang berbeda mengenai tubuh dan seksualitas dalam karya-karya sastra pengarang mutakhir kita. Taufiq gencar menistanya dan saya menolak penistaannya dan menghendaki apresiasi yang proporsional-signifikan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 9, 2011
(Bagian pertama dari dua tulisan) Binhad Nurrohmat* Republika, Minggu, 26 Agustus 2007 SEKURANGNYA, pada masa Balai Pustaka (1920-an) sastra modern kita mulai menggeliat. Berdirinya Balai Pustaka merupakan pengaruh perubahan politik di negeri Belanda yang menghembuskan Politik Etis ke negeri jajahannya.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan) Binhad Nurrohmat* Republika, 02 Sep 2007 HUBUNGAN sastra dengan masyarakatnya memang rumit dan potensial menyembulkan perbedaan pendapat. Sastra bisa dinilai lantaran ada perangkat-perangkat aturan, konvensi, atau kode; dan antara perangkat yang satu dengan perangkat yang lain tak sama.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 4, 2011
Binhad Nurrohmat * Pikiran Rakyat, 20 Okt 2007 SIANG itu telepon genggam saya menerima sebuah pesan pendek dari penyair Bandung, Ahda Imran, yang mengabarkan kematian penyair Toto Sudarto Bachtiar. Sekian menit kemudian telepon genggam saya beruntun menerima pesan pendek serupa dari penyair Cirebon, Ahmad Syubbanuddin Alwy dan dari penyair “hujan” Sapardi Djoko Damono. Diam-diam, saya [...]
Filed under: Esai