KUDA TROYA CERPEN

Binhad Nurrohmat
Kompas, 1 Jul 2012

Sejak lama diyakini banyak orang, sekurangnya oleh pakar komunikasi Marshall McLuhan, bahwa media merupakan pesan itu sendiri (medium is the message). Keyakinan ini memendam nalar atau dimensi politik tersembunyi atau terang-terangan yang terselenggara juga dalam penciptaan karya seni. Baca selengkapnya “KUDA TROYA CERPEN”

Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!

Mikael Johani *
kububuku.blogspot.co.id

Saya geli sekaligus ngeri membaca Binhad Nurrohmat dalam “Menganiaya Puisi …” (Kompas, 21 Mei 2006) begitu marah pada “kritik gadungan” yang “menyatakan kesimpulan tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa maupun pembuktian yang meyakinkan,” (ini di alinea 2) tapi sampai alinea 6 waktu dia mengulangi lagi pidatonya, Baca selengkapnya “Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!”

Tugas Sastra dari Al Capone…

Binhad Nurrohmat
Kompas, 16 Mei 2010

UANG kertas Rp 100.000 keluaran tahun 2004 berilustrasikan teks Proklamasi serta gambar Soekarno-Hatta dan gedung parlemen. Uang tak cuma alat tukar. Uang juga alat simbolik kekuasaan politik. Nalar modern melantari uang menguasai tata-kehidupan. Edukasi, seni, bahkan agama terjerat kuasa-uang. Tanpa kartu ATM dan kartu kredit kehidupan seakan macet. Baca selengkapnya “Tugas Sastra dari Al Capone…”

Kudeta Kritik Seni

Binhad Nurrohmat
Kompas, 23 Jan 2011

AMATIRISME ritik seni dari khalayak awam yang kian subur konon lantaran hawa segar demokratisasi pembacaan, itu tampaknya lebih bertendensi merebut agenda politis ketimbang meraih agenda estetis. Demokratisasi merupakan ide politik, bukan? Amatirisme kritik seni semacam itu oleh Walter Benjamin disinyalir sebagai oknum peruntuh aura seni. Baca selengkapnya “Kudeta Kritik Seni”

Puisi Mazhab Gapus

Binhad Nurrohmat
http://terpelanting.wordpress.com/

Perpuisian Surabaya pasca-Orba menjadi sejenis gerakan separatis di wilayah perpuisian Indonesia. Dengan buku kumpulan puisi Labirin dari Mata Mayat karya W. Haryanto (2003), Pengantin Lumpur karya Mashuri (2004), dan Ekspedisi Waktu karya Indra Tjahyadi (2004); gerakan itu gamblang memproklamasikan tampangnya yang membelot dari muka pasaran perpuisian Indonesia. Baca selengkapnya “Puisi Mazhab Gapus”