Tag Archives: Binhad Nurrohmat

Menerawang Kotak Hitam Nusantara

Binhad Nurrohmat *
Kompas, 12 Nov 2012

Pena sejarawan menyisakan banyak lembaran kosong sejarah Nusantara. Banyak tokoh dan peristiwa pada masa lampau di Nusantara mengemuka saat ini dan tak sedikit yang antre panjang untuk dituliskan atau telanjur terpendam di balik ingatan.

Tugas Sastra dari Al Capone…

Binhad Nurrohmat
Kompas, 16 Mei 2010

UANG kertas Rp 100.000 keluaran tahun 2004 berilustrasikan teks Proklamasi serta gambar Soekarno-Hatta dan gedung parlemen. Uang tak cuma alat tukar. Uang juga alat simbolik kekuasaan politik. Nalar modern melantari uang menguasai tata-kehidupan. Edukasi, seni, bahkan agama terjerat kuasa-uang. Tanpa kartu ATM dan kartu kredit kehidupan seakan macet.

Nasihat untuk Kritik Sastra

Binhad Nurrohmat
Pikiran Rakyat, 14 Nov 2010

KETIKA kritik sastra mangkir, dunia kreasi sastra tak pailit karenanya, tetapi kritik sastra patut tertunduk malu atas kemangkirannya. Kesusastraan telah menyambut baik eksistensi kritik sastra, bahkan terlampau berlebihan kadang.

Kudeta Kritik Seni

Binhad Nurrohmat
Kompas, 23 Jan 2011

AMATIRISME ritik seni dari khalayak awam yang kian subur konon lantaran hawa segar demokratisasi pembacaan, itu tampaknya lebih bertendensi merebut agenda politis ketimbang meraih agenda estetis. Demokratisasi merupakan ide politik, bukan? Amatirisme kritik seni semacam itu oleh Walter Benjamin disinyalir sebagai oknum peruntuh aura seni.

Puisi Mazhab Gapus

Binhad Nurrohmat
http://terpelanting.wordpress.com/

Perpuisian Surabaya pasca-Orba menjadi sejenis gerakan separatis di wilayah perpuisian Indonesia. Dengan buku kumpulan puisi Labirin dari Mata Mayat karya W. Haryanto (2003), Pengantin Lumpur karya Mashuri (2004), dan Ekspedisi Waktu karya Indra Tjahyadi (2004); gerakan itu gamblang memproklamasikan tampangnya yang membelot dari muka pasaran perpuisian Indonesia.