Posted by PuJa on December 14, 2011
Andi Nur Aminah Republika, 9 Des 2011 Sebagai ensiklopedia, naskah dalam Centhini berisi berbagai pengetahuan dan kehidupan masyakat Jawa yang disajikan dalam bentuk macapat. SEBUAH tempat makan sederhana menyajikan menu yang unik. Tongseng bajing mlumpat atau tongseng bajing melompat. Biasanya, jenis masakan ini, umumnya menggunakan daging kambing yang dimasak menggunakan kuah berwarna kuning kecokelatan. Rasanya [...]
Filed under: Esai, Sejarah
Posted by PuJa on November 15, 2011
Jaya Suprana Kompas, 22 Mei 2010 Mata airmu dari Solo terkurung gunung seribu air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut AKHIRNYA Pak Gesang meninggalkan dunia fana ini. Di samping tentu berbelasungkawa, saya juga gigih menyarankan agar Pak Gesang diangkat menjadi Pahlawan Nasional.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 3, 2011
Katrin Bandel * Kompas Cyber Media SEKILAS pandang, sastra tampaknya tidak ada hubungannya dengan pengobatan atau dengan penyakit, dan bidang kedokteran (medicine) dan sastra (literature) jarang dihubungkan satu sama lain. Tetapi, paling tidak, dalam tradisi Barat, hubungan antarkedua bidang itu sebetulnya cukup erat. Beragam ide dan spekulasi seputar hubungan seni dengan penyakit dan pengobatan dapat [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 5, 2011
Hasnan Bachtiar* Terorisme itu bukanlah hal yang jelas dengan sendirinya. Karena itu, perlu diperjelas. (Sindhunata, 2005) Merespon pendapat Sindhunata di atas, nampaknya paradigma deradikalisasi paham keagamaan sebagai salah satu agenda perlawanan terhadap terorisme, harus diapresiasi dengan baik. Pasalnya, deradikalisasi bermakna jalan alternatif yang mengusung kesadaran kritis untuk memperjelas hakikat terorisme itu sendiri. Membongkar akar terorisme [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 30, 2011
Kornelis Kewa Ama, Arbain Rambey kompas.com Benteng itu sudah lama hancur. Yang masih tersisa hanya fondasi yang tertutup lumut, dengan beberapa bongkah batu di atasnya. Sebuah meriam tua tergeletak di tanah, tertimbun dedaunan kering. Inilah fortaleza (benteng pertahanan), salah satu jejak kedatangan Portugis di Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur, hampir 500 tahun lalu.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on September 27, 2011
Agus Sulton Membicarakan barang rongsokan, yaitu manuskrip atau orang pedesaan menyebutnya sebagai buku kuno pastinya setiap orang mempunyai statemen, setidaknya argumen tekstual tersendiri dalam memperlakukannya. Pihak lain ada substansi otoritas koheren dengan menjadikan manuskrip layaknya benda keramat, seolah-olah terselip teks mantra—yang bahkan bisa juga menjadikan orang impulsifitas; mempraktekkan dan memenuhi sebuah struktur ideal. Discourse masyarakat [...]
Filed under: Esai, Sejarah
Posted by PuJa on September 20, 2011
Hepi Andi Bastoni http://www.republika.co.id/ Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul).
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Febrie Hastiyanto * http://www.lampungpost.com/ ESAI Sekala, Siger, Borobudur yang ditulis Henry Susanto berturut-turut di Lampung Post, 7 dan 14 Agustus 2011, menarik untuk didiskusikan. Dalam esainya, Henry Susanto memperkenalkan teori baru terkait banyak hal dalam arus utama (mainstream) kepenulisan sejarah yang selama ini dikenal publik.
Filed under: Esai