Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya

Yusri Fajar
jiwasusastra.wordpress.com

Suatu hari ada seorang politisi yang dinilai ‘melecehkan’ etnis tertentu. Politisi yang mulai dikenal dengan gaya santun ini, tiba-tiba tampak sedikit emosional ketika berdebat di Televisi. Kesantunan yang oleh beberapa pengamat dinilai sebagai upaya untuk melakukan ‘penetrasi’ ke lingkaran hegemoni politik Jawa dalam partai dimana dia berada, tiba-tiba berubah menjadi ungkapan kemarahan yang bersifat menyerang, mirip ‘preman’. Baca selengkapnya “Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya”

Upacara bersih desa di Desa Banjarsari

Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun
Tulus S

Tidak berbeda jauh dengan desa-desa di sekitarnya bahwa Desa Banjarsari sampai sekarang masih melaksanakn tradisi upacara bersih desa. Walau pelaku tradisi tersebut semakin berkurang. Di sisi lain beberapa tahun terakhir ini pihak masjid juga mengadakan peringatan tersebut, yaitu mengadakan pengajian pada malam Jum’at Legi yang dilaksanakan di dalam masjid. Baca selengkapnya “Upacara bersih desa di Desa Banjarsari”

Dewi Sri dalam kaitannya dengan Upacara Bersih Desa

Tulus S

Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang merupakan lambang”kebahagiaan dan kesuburan”tertulis dalam serat Ila-ila. Mitos Dewi Sri sangat erat dengan kehidupan masyarakat agraris yang sangat mendambakan “kesuburan”. Masyarakat Jawa memanisfestasikan mitos Dewi Sri dengan ritual dalam bersih desa. Bersih desa yang dilaksanakan setelah usai panen mempagelarkan wayang purwa lakon Sri Sadana atau Sri Mulih tidak lain sebagai lambang dan harapan akan kesuburan.(Kumala;2010;116). Baca selengkapnya “Dewi Sri dalam kaitannya dengan Upacara Bersih Desa”

PENDIDIKAN RESPONSIF BUDAYA [Sebuah Refleksi Ringkas]

Djoko Saryono *
pelangisastramalang.org

Sejak dahulu hingga sekarang, para pemikir, pakar, dan awam sudah menyatakan adanya hubungan simbiosis mutualisme antara pendidikan dan kebudayaan. Demikian pula para ahli (ilmu filsafat, ilmu sosial, dan ilmu kemanusiaan) dan peneliti sudah menelaah dan mengaji jalin-kelindan pendidikan dan kebudayaan. Bahkan kemudian berkembang pemikiran di lingkungan filsafat atau filsuf bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan di samping pemerdekaan dan pemanusiaan. Baca selengkapnya “PENDIDIKAN RESPONSIF BUDAYA [Sebuah Refleksi Ringkas]”

Upacara Bersih Desa

Tulus S *

Adat adalah salah satu unsur kebudayaan yang terdapat di dalam tiap-tiap masyarakat. Menurut Ki Hadjar Dewantara, adat tidak lain merupakan sifat kepatuhan, laras atau harmoni, yang terdapat dalam hubungannya laku, keadaan, atau benda yang satu dengan yang lain. Karena kepatuhan itu, maka dengan sendiri perhubungan atau pertimbangan antara yang satu dengan yang lain selalu tampak sebagai keindahan, yang kemudian menimbulkan rasa senang. Baca selengkapnya “Upacara Bersih Desa”

Upacara Boyongan

Tulus S *

Upacara boyongan adalah upacara pindah rumah. Hal ini masih banyak terlihat dalam masyarakat Jawa. Tidak terkecuali di sekitar wilayah Madiun. Tradisi ini diawali dengan mencari hari yang baik sesuai dengan pathokan (pedoman yang dianut) oleh masyarakat Jawa. Biasanya terkait dengan keberadaan naga tahun, naga sasi dan hari naas. Proses upacara boyongan dilihat sepentas seperti arak-arakan atau pawai. Di mana yang berjalan di depan sendiri adalah pini sepuh (biasanya seorang nenek) yang bertugas membawa sapu lidi untuk menyapu sepanjang perjalanan. Baca selengkapnya “Upacara Boyongan”

Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian I)

Tulus S *

Anenggih pundi ta nagri ingkang pinurweng carita samangke, ingkang kaeka adi dasa purwa, eka marang sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh, purwa wiwitan. Adi-adining garba gupita datan wonten kadi nagri ing Dwarawati, nagri ingkang panjang punjung pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja. Panjang marang adawa, punjung iku luhur, basa pasir ngarepake samudra, wukir ngungkurake gunung. Baca selengkapnya “Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian I)”

Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian II)

II. Mitos Dewi Sri
Tulus S *

Budaya tradisi bercocok tanam padi di atas adalah sebuah simbol kebudayaan masyarakat Jawa yang memuliakan Dewi Sri sebagai dewanya padi. Mitos Dewi Sri ataupun budaya tanam padi seperti di atas termasuk budaya lisan yang patut dihargai dan dilestarikan. Pada hakikatnya nenek moyang kita telah mengenal dan mempunyai bentuk penghargaan terhadap “pangan”. Kearifan lokal nenek moyang itu salah satunya tertuang dalam mitos tentang Dewi Sri. Baca selengkapnya “Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian II)”