Posted by PuJa on May 8, 2013
Nafi’ah Al-Ma’rab Riau Pos, 28 April 2013 BUDAYA menjadi identitas suatu bangsa. Ibarat kartu tanda pengenal, budaya akan membuat suatu bangsa dipandang oleh bangsa lainnya. Pengakuan terhadap eksistensi suatu bangsa pun bisa diukur dari sejauh mana nilai warisan budaya yang dimiliki.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 30, 2012
Nirwan Ahmad Arsuka Bentara-KOMPAS, Maret 2002 Canons, which negate the distinction between knowledge and opinion, which are instruments of survival built to be time-proof, not reason-proof, are of course deconstructable; if people think there should not be such things, they may very well find the means to destroy them. (Sir Frank Kermode)
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 3, 2012
Happy Ied Mubarak Radar Banjarmasin, 26 Agu 201 Banjarbaru semakin digadang-gadang menjadi kota kebudayaan dan kesustraan. Saya percaya benar bahwa meski publik sastra Banjarbaru mungkin tidak lebih baik daripada di kota dan kabupaten lain di Kalimantan selatan tetapi setidaknya kota ini punya inisiatif dan dukungan infrastruktur yang relatif lebih siap dibanding kota dan kabupaten lainnya, [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Agus Sulton Dusun Payak Santren adalah bagian dari desa Rejoagung kecamatan Ngoro kabupaten Jombang. Payak Santren merupakan dusun perbatasan antara wilayah kabupaten Jombang dengan kabupaten Kediri. Tetapi dalam sejarahnya dusun Payak Santren dulu masuk kabupaten Kediri. Setelah Jombang dibentuk sebagai kabupaten 20 Maret 1881, baru setelah tahun berikutnya sekitar tahun 1900, dusun Payak Santren ditetapkan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on October 1, 2012
Sabrank Suparno * Besut dan folklor di belantara nusantara adalah seikat kembang bertangkai dua: satu berwajah polos nan lugu berperingai bocah ingusan sebuah desa terpelosok, yakni kampung Jombang, dua sebagai kawan sepermainan dengan anak-cucu folklor senusantara lainnya. Keduanya berbeda julukan dan tanah kelahiran, namun berperilaku sepadan, yakni khusuk bersila merenungi jati diri, dari rahim siapa [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 29, 2012
Andry Deblenk _Ponorogo Pos Apabila berbicara tentang Ponorogo, kita tidak dapat melepaskan diri dari nilai-nilai budaya. Seperti kita ketahui bersama, ada dua hal yang dapat kita tengarai. Pertama, adalah substansi dari kesenian reyog itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya kesenian adiluhung ini made in asli dari daerah Ponorogo. yang sejak dulu menjadi ikon bagi masyarakat [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Doddy Hidayatullah Suara Karya, 22 Sep 2012 Derasnya arus modernisasi di Indonesia tidak hanya berdampak pada tatanan ekonomi dan politik saja. Modernisasi juga telah mengikis sendi-sendi sastra. Hal ini tampak dengan adanya gagasan mengenai “sastra adiluhung” dalam ranah kesuastraan Indonesia. Memang, pernyataan mengenai sastra adiluhung tidaklah se-populer istilah sastra sufi dan sastra profetik.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 7, 2012
Hawe Setiawan www.beritaseni.com 2 Feb 2009 PERTAMA-TAMA, saya ingin menanggapi makalah Soni Farid Maulana untuk forum ini, “Bandung dan Puisi Indonesia” [Pikiran Rakyat, 24 Januari 2009]. Pada hemat saya, makalah tersebut merupakan upaya tersendiri untuk memenuhi undangan panitia forum ini untuk “menggali tradisi sastra di Jawa Barat”.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 1, 2012
Tjahjono Widarmanto _Majalah Bende No: 87 Jan 2011 Sastra bisa dibayangkan sebagai sebuah organisme yang lahir, tumbuh, berkembang, mencapai puncak pertumbuhan hingga (bisa) mencapai kepunahan. Oleh karena itu, mustahil sebuah tradisi sastra tiba-tiba muncul begitu saja sebagai causa prima, namun sastra tumbuh dan dimulai dari sebuah tradisi yang sudah ada dan terbentuk bertahun-tahun lamanya.
Filed under: Esai