KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (5)

Djoko Saryono *

/1/
Sesudah keterpesonaan Jawa, saya ingin mendedah atau menggali lebih dalam keterhanyutan ala Jawa dalam sastra. Hal ini sangat penting karena nilai keterpesonaan Jawa tidak dapat dipisahkan dengan nilai keterhanyutan. Bahkan dapat dikatakan, nilai keterhanyutan merupakan dimensi yang lebih subtil, sublim, dan spiritual daripada nilai keterpesonaan. Malah ia biasa disebut tahap estetis yang lebih tinggi. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (5)”

KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (4)

Djoko Saryono *

/1/
Saya ingin mengeksplorasi lebih jauh perihal keterpesonaan sebagai koordinat nilai normatif estetika Jawa yang notabene merupakan estetika keselarasan-keseimbangan. Nilai keterpesonaan manusia Jawa di sini berkenaan ketertarikan, keterpikatan, dan bahkan keterpanaan rasa manusia Jawa tatkala berhubungan dan bertemu dengan sesuatu yang distilisasi dan diidealisasi yang disebut kesenian Jawa sehingga dirinya mengalami keadaan luluh atau lebur ke dalam keindahan dan keelokan. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (4)”

KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (3)

Djoko Saryono *

/1/
Sebagai estetika kemapanan, keselarasan, dan kebersamaan, estetika Jawa kurang atau malah tidak mengedepankan jarak estetis. Yang diutamakan dalam keindahan dan keelokan menurut rasa manusia Jawa bukanlah tegangan estetis, melainkan keleburan atau keluluhan yang menimbulkan kenikmatan tanpa pamrih. Dari sini jelaslah bahwa keluluhan atau keleburan menjadi dasar estetika Jawa. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (3)”

KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (2)

Djoko Saryono *

Dalam pandangan manusia Jawa, keindahan dan keelokan bukan hanya sesuatu yang sudah jadi, melainkan juga sesuatu yang mengada dan men­jadi. Me­minjam istilah Erich Fromm, keindahan dan keelokan itu bukan hanya sesuatu yang being, tetapi juga sesuatu yang to be dan to become. Keindah­an dan keelokan mengada dan menjadi jika – menurut seorang ahli sastra Jawa Tanojo – ter­jadi jumbuh­ing rasa lan kang dirasakake dan atau – menurut seorang penulis sastra Dwidjosu­marto – terjadi manunggaling suraos lan wangun. Continue reading “KEINDAHAN-KEELOKAN JAWA DALAM SASTRA (2)”