Tag Archives: Budhi Setyawan

Puisi Budhi Setyawan di Buletin Embun (Lombok Timur)

Budhi Setyawan

Maka demikianlah indahnya persahabatan. Berawal perkenalan dengan Fatih Kudus Jaelani dkk dari Lombok Timur, ketika saya bertemu dengan Kiki Sulistyo, Paox Iben, DG Kumarsana di Mataram pertengahan tahun 2010. Pada saat itu saya ada tugas dinas beberapa hari di Mataram, NTB.

Sajak Budhi Setyawan di Majalah GONG

http://budhisetyawan.wordpress.com/
Majalah GONG yang terbit di Yogyakarta pada edisi 118/XI/2010 memuat 4 sajak saya yang berjudul: Ruang Tunggu, Masih Ada Lolong di Lorong, Sesuatunya dan Pelukan Asing Buru. Dalam blog saya ini tampilkan 2 sajak saya yaitu yang berjudul: Ruang Tunggu dan Sesuatunya. Silakan kepada para pembaca untuk memberikan komentar kritik, demi pembelajaran saya dalam bersastra. Terima kasih sebelumnya. (diperbolehkan mengunduh tulisan karya saya, dengan menyertakan nama saya sebagai pengarangnya)

Sajak Budhi Setyawan di joernal sastra boemipoetra

http://budhisetyawan.wordpress.com/
Ada 3 sajak saya yang termuat di media alternatif yang terbit di Tangerang yaitu joernal sastra boemipoetra edisi Juli-September 2010. Ketiga sajak tersebut berjudul: Mengantuk Negeriku, Kembalikan Zaman Kami, dan Kisah sebuah Negeri yang Suka Dijajah. Alamat email joernal sastra boemipoetra adalah: boemiputra@yahoo.com

Sajak-sajak yang dimuat boemipoetra saya tulis dengan diksi sederhana dan lugas. Sajak-sajak ini saya anggap semacam sajak protes atas kondisi rusaknya bangsa ini.

Puisi-Puisi Budhi Setyawan

http://www.jurnalnasional.com/
Saat Kauukir Jarak Sajak

di sketsa hujan
kutemani cadasmu menari berlari
tanpa payung
tanpa kata

kau tertawa dan lincah dalam gemulai menggelar jarak
aku terlunta tersedak menggapai irama tarian detak retak

Sajak-Sajak Budhi Setyawan

http://www.suarakarya-online.com/
Siluet Silam

tahukah kemana sembunyi serpih mozaik masa yang memuat aneka warna kata. aku perlu tak seberapa banyak, hanya semangkuk serbuknya untuk menelisik silsilah jejak debu yang kian berpinak. karena wajahku telah geronggang diterkam tanya yang mengangkut muatan tafsiran, gamang dan keremangan, radang dan kepengapan. apakah ada yang pergi melintas di halaman sajakmu?