TIWIKROMO, KOMUNITAS SASTRA JAWA

DI KAMPUS UNIVERSITAS AIRLANGGA

Mashuri

Banyak orang yang tidak tahu bahwa pernah ‘berdiri’ sebuah komunitas sastra Jawa di kampus Universitas Airlangga. Namanya keren abis: Paguyuban Tiwikromo. Sebuah nama yang mengambil spirit dari para manusia setengah dewa dalam dunia wayang purwa yang dilanda ‘amuk’ ketika menghadapi angkara murka, sebagaimana Yudhistira, Kresna, dan lainnya. Sebenarnya, maksud sederhananya adalah pengerahan daya pikiran untuk fokus tertentu, yaitu sastra Jawa. Continue reading “TIWIKROMO, KOMUNITAS SASTRA JAWA”

GIBRAN, ATTAR, DAN INGATAN TENTANG CINTA

Mashuri

Saya lebih dulu mengenal Gibran daripada Attar. Saya mengenal Gibran ketika duduk di bangku Aliyah. Mungkin persoalannya sederhana. Buku-buku Gibran tersedia di perpustakaan umum kota, sedangkan buku-buku Attar tidak ada, sehingga saya sering membaca karya Gibran, terutama Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Sayap-sayap Patah yang berderet rapi di perpus kota. Semuanya terbitan Pustaka Jaya. Continue reading “GIBRAN, ATTAR, DAN INGATAN TENTANG CINTA”

BUKU LAMA DAN LAYANG-LAYANG

Sunu Wasono

Saat lagi beres-beres buku, awak menemukan buku lama, buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas III SD. Buku ini dicetak pada tahun 1975 (saat itu awak sudah duduk di bangku SMA kelas 2). Menarik juga mempelajari kembali buku lama. Ada diksi yang kurang awak pahami, misalnya buah peria. Setelah awak cek di kamus, ternyata kata itu ada di KBBI. Malah di kamus dicontohkan peribahasa yang bunyinya begini: “Pucuk diremas dengan santan, urat direndam dengan tengguli, lamun buah peria pahit juga.” Adapun maknanya ‘orang yang tabiatnya jahat, sekalipun diberi kekayaan dan pangkat, sifatnya tak akan berubah’ (KBBI, Edisi Keempat, Tahun 2008, hlm. 1055). Continue reading “BUKU LAMA DAN LAYANG-LAYANG”

AGAMA MESIN

Taufiq Wr. Hidayat *

Seseorang pernah bercerita. Konon mendiang Gus Dur punya kebiasaan bangun dini hari pukul 03.00 WIB, sekitar 45 menit sebelum subuh. Maka pada suatu dini hari, seperti biasa, Gus Dur terbangun. Beliau hanya diam memantapkan pendengarannya, seperti tengah menguping suara yang terdengar lirih. Seseorang itu lalu bertanya kepadanya. Dialog antara Gus Dur dan seseorang itu, dapat saya tuliskan kembali versi saya di sini. Continue reading “AGAMA MESIN”