PECAHAN

Taufiq Wr. Hidayat *

(1)
Pada senja yang hujan, seseorang seharusnya merapatkan jaketnya yang hitam. Sebuah stasiun. Dan waktu. Leo Tolstoy kedinginan di stasiun penghabisan itu. Tubuh penulis “War and Peace” ini lelah dan tua. Tubuhnya selesai dalam sejarah. Namun teks dari ketekunannya, tak terkubur. Sejarah patut berterima kasih pada Sophia Andreyevna, sang istri yang menyalin tulisan-tulisan tangannya yang rumit. Tolstoy cuma orang biasa. Tapi apa yang diusungnya; keabadian yang tak sekadar biasa. Continue reading “PECAHAN”

JALAN HUJAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Melewati jalanmu. Menurun. Tikungan yang tajam. Pohon-pohon jati dan mahoni tumbuh dalam dadamu. Proyek jalan terus memadatkan jalanmu sampai membatu. Tapi mereka menambal jalanmu dengan bahan yang tidak kokoh. Seperti memoleskan mentega di atas sepotong roti.

Melewati jalanmu. Menanjak. Merekam suara dalam mesin penyimpanan. Tarian perempuan sintal di cakrawala televisi. Daging pipinya jatuh ke lantai. Kedua matanya menembak jantungmu, seperti kenangan samar pada rumah tua yang dihuni hantu. Hantu-hantu yang melayang membawa desah dan keluh dari masa lalu. Continue reading “JALAN HUJAN”

Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (VII)

Nurel Javissyarqi

VII
Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta 28 Oktober 1963. (Rudi Hartono, “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda,” berdikarionline.com 20 Mei 2011).
*** Continue reading “Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (VII)”

Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (V)

Nurel Javissyarqi

V
Nurel: “Pak Yamin, Bapak Ki Hadjar Dewantara pengen nimbrung.”

Yamin: “O… Mas Dewantara, dipersilahkan masuk, Nurel.”

Nurel: “Ya Bapak” (Selanjutnya mereka berdua ngobrol dan saya membuka Laptop).

Dewantara: “Assalamualaikum”

Yamin: “Waalaikumsalam” Continue reading “Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (V)”