Tag Archives: Cerpen

Seorang Hujan

Afrizal Malna

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh.

Tiga Sekutu Setan

Muhidin M Dahlan

KAU orang muda Jawa-Arab yang pergi ke tanah haram. Mungkin mengikuti jejak spiritualitas para nabi. Atau berharap mendapatkan barakah kesempurnaan hidup dan kecemerlangan pandangan jiwa dalam menangkap lenggak-lenggok kehidupan. Seperti para nabi. Seperti orang-orang suci yang pernah lahir dan tertempa di sana. Kau ingin mengikuti jalan mereka.

Wabah

A. Mustofa Bisri

Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, “Bau apa ini?” Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar “kelompok” dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. “Kau mencium sesuatu, nek?”

Perempuan Berjangkat Utem *

In Memoriam: Ine, Hj. Inen Hafisah Meriah
Salman Yoga S

Ia terbaring lemah. Tubuhnya kian renta dan tak berdaya. Matanya sayu lurus menatap dinding tembok bercat putih. Rabun dan kosong. Sesekali ia meminta untuk didudukkan di atas tempat tidur dengan bertopang pangkuan, mendesah pelan seperti melepaskan beban berat yang tertimbun dipundaknya selama puluhan tahun, atau entah menikmati indah dan syahdunya perasaan seorang ibu dilayani sepenuh cinta oleh anak-anaknya.

Sita

Usman Arrumy *

Dengan menyebut nama cinta, yang dengannya Manusia dapat merasakan Tuhan hadir dalam setiap desir. Aku berlindung dari kebencian dan dendam yang menjerumuskan.

Alif laam miim. Cinta itu, tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi mereka yang setia melaksanakan perintah kekasihnya. Yaitu mereka yang mempercayai kenangan, menegakkan rindu, dan menyerahkan hatinya.

Kota Rawa

Raudal Tanjung Banua
Jawa Pos, 25 Mei 2014

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.