Selewat Senja di Kutha

Satyagraha Hoerip *
id.klipingsastra.com

MEREKA MENYUSURI PANTAI, bergandengan. Di upuk barat matahari siap tenggelam, dan muncul kembali baru esok hari. Separo langit di sana seperti disepuh warna emas campur lembayung. Menyilaukan.

Dalam hati Pramu tersenyum. Bagaimana jadinya, andaikata tiba-tiba muncul kenalan, atau bahkan seseorang dari gerejanya di Jakarta? Dan melihat dia bergandeng tangan dengan cewek bule, mana cuma mengenakan baju pantai? Ooh, disgusting! Macam pria muda 40-45 tahunan saja, remaja kedua. Baca selengkapnya “Selewat Senja di Kutha”

RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”

Kuntowijoyo
cerpenkompas.wordpress.com

Ada tragic sense of life, ada comic sense of life. Mereka yang menganggap hidup sebagai tragedi, memandang dunia serba suram, diwakili oleh teman saya Nurhasan. Dia yang tinggi akan melonjok sedikit dan mencapai langit-langit kamar tamu rumah bertingkat yang kami banggakan, “Lha betul to, Perumnas itu ya begini. Tinggi setidaknya empat meter supaya ruangan sejuk.” Mengenai genteng dikatakannya, “Kok dari asbes. Baca selengkapnya “RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana””

MEMBACA ULANG HEMINGWAY: HILLS LIKE WHITE ELEPHANTS

A.S. Laksana
aslaksana.com

Cerpen “Hills Like White Elephants” terbit pertama kali tahun 1927 dan membingungkan orang-orang pada saat itu. Ia seperti ditulis tanpa plot, dengan narator yang fungsinya sangat minimum, tanpa berupaya memberi sedikit pun penjelasan tentang latar belakang si lelaki dan si gadis, atau seperti apa pakaian mereka, atau bagaimana intonasi mereka saat bicara, atau dengan bahasa tubuh seperti apa mereka menyampaikan kata-kata, dan sebagainya. Si lelaki hanya diperkenalkan sebagai “seorang lelaki Amerika” dan si gadis disebut begitu saja sebagai “seorang gadis”. Namun dari koper-koper mereka, yang masih dilekati label hotel-hotel tempat mereka pernah menginap, kita tahu bahwa mereka dua orang pendatang. Dan, tanpa penjelasan narator, kita juga tahu bahwa si gadis tidak memahami bahasa setempat. Baca selengkapnya “MEMBACA ULANG HEMINGWAY: HILLS LIKE WHITE ELEPHANTS”

Matinya Sang Penulis

Anggi Nugraha *
Media Indonesia, 26 Nov 2017

KISAH ini bermula di penghujung musim dingin. Saat bunga-bunga violet mulai kembali bermekaran di kota Tavuliaprovinsi Presaro, Italia. Di satu hari yang cerah di dermaga Venesia, Armanno Arrigo kehilangan cintanya.

”Berjanjilah untuk kembali!” teriaknya pada sang kekasih, tak lama setelah perempuannya itu menginjakkan kakinya di sebuah kapal yang hendak berlayar menuju Cina. Baca selengkapnya “Matinya Sang Penulis”

Kami Antar Barang sampai Kampung Terujung

Raudal Tanjung Banua *
Jawa Pos, 27 Agu 2017

ZEN menyampirkan handuk kecil di leher, dan sambil bersiul ia turun ke air. Takjub, ia terpaku sebentar, memandang arus memutih seolah baru menemukan sungai susu yang disebut dalam kitab suci. Tapi ketika membuka pakaian, ia sadar bukan orang pertama di tempat itu: ia lihat bungkus sabun dan sampo berserakan di celah batu. Dan, saat ia mulai berendam, sesuatu nyangkut di kakinya, ia angkat: o, bungkus mi instan hanyut terseret arus! Baca selengkapnya “Kami Antar Barang sampai Kampung Terujung”

Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep

Mardi Luhung *
Koran Tempo

Halo Kawan, apa kabarmu? Aku sih baik-baik saja. Semoga kau juga begitu. Berapa tahun kita tak jumpa. Barangkali sebelas atau tiga belas tahun. Tak pasti. Yang jelas, sejak perpisahan itu, kita seperti mencari jalan sendiri-sendiri. Kau ke utara. Aku ke selatan. Kau ingin mendalami ilmu masak-memasak. Aku menekuni ilmu ramal-meramal. Dan kabarnya, kau kini telah berhasil jadi juru masak yang top. Sekaliber master ya? Hmm, betapa hebatnya dirimu. Ingin sekali aku mencicipi masakanmu itu. Yang kabarnya juga, penuh aroma rempah dan rasa yang menggigit. Baca selengkapnya “Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep”