Sajak-sajak Taubat Chairul Anwar dan Damiri Mahmud

Nedvatuhella *
Harian Analisadaily 27/7/2014/

PADA 26 Juli merupakan ha­ri lahir penyair Chairul Anwar. Chairul lahir tahun 1922, di Medan dan meninggal dunia di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia sangat muda, 27 tahun. Chairul me­rupakan tokoh pelopor sastra­wan Angkatan ‘45.

Sajak-sajak Chairul banyak yang dihafal oleh siswa-siswa di tahun ‘70-80-an. Sajak-sajak yang terkenal antara lain: Kara­wang Bekasi, Senja di Pelabuhan Kecil, Diponegoro, Aku, dan Doa (Sajak-sajak cintanya banyak di­hafal dan dipuji oleh kalangan sas­trawan sebagai sajak yang me­nyentuh perasaan terdalam pa­ra sastrawan). Continue reading “Sajak-sajak Taubat Chairul Anwar dan Damiri Mahmud”

Si Binatang Jalang dan Sang Maestro

Wahyudin*
Kompas, 13 Mei 2007

PADA Jumat siang, 18 April 1949, ketika Chairil Anwar dikebumikan di pekuburan Karet, Affandi tengah meradang dan menerjang di hadapan sosok Si Binatang Jalang yang belum rampung tergurat di sepotong terpal becak yang meranggas di bekas sebuah garasi di kompleks Taman Siswa, Jalan Garuda 25, Jakarta. Itu sebabnya, pelukis itu absen di pemakaman penyair yang meninggal pada usia 27 tahun itu. Continue reading “Si Binatang Jalang dan Sang Maestro”

Chairil Anwar, Sang Pelopor Antara Biografis dan Ruang Estetis

Raudal Tanjung Banua
harianhaluan.com

Chairil Anwar, seorang penyair yang mati muda, tapi toh menyandang prediket yang amat prestesius: Sang Pelopor. Setidaknya, ini sedikit meng­obati klangenan kita akan sosok dan pokok yang lahir dan dibesarkan oleh proses krea­tifnya sendiri, bukan dari ranah politik yang lebih meng­andal­kan intuisi dan publisitas ala selebritis sebagaimana terlihat dalam kecenderungan kehidup­an berbangsa kita saat ini. Continue reading “Chairil Anwar, Sang Pelopor Antara Biografis dan Ruang Estetis”

Kahlil Gibran dan Chairil Anwar di Mata Saya: Perjumpaan dan Pembayangan *

Abdul Aziz Rasjid

Satu

Setiap pagi juga senjahari, dengan menghisap rokok yang asapnya berbaur dengan aroma kopi Yamani, Gibran Kahlil Gibran —mungkin mengenakan jubah panjang yang lebar dengan noda-noda tinta berbagai warna— melamun seorang diri di dalam kamar yang sudah diubahnya menjadi semacam kubu dimana objek-objek yang dirindukannya dan direnunginya hadir dalam bentuk pembayangan-pembayangan. Nantinya, Gibran akan mengekspresikan pembayangan-pembayangan itu dalam kata dengan menulis surat pada orang-orang yang dikasihinya. Continue reading “Kahlil Gibran dan Chairil Anwar di Mata Saya: Perjumpaan dan Pembayangan *”

“Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil

Berthy B Rahawarin
umum.kompasiana.com

Apakah Chairil Anwar dan WS Rendra dapat dipandang sebagai pria jenis “play-boy” pada masanya? Dalam rangka mengenang 40 hari meninggalnya sastrawan Wahyu Surendra Rendra atau Mas Willy, figur tokoh sastrawan muda nan ajaib Chairil Anwar disanding bersama, tidak untuk membahas dan membandingkan karakteristik syair dan sajak mereka, tapi malahan sekedar menghantar masyarakat penulis dan pembaca Public Blog Kompasiana untuk memotivasi dan mengilhamkan masyarakat kita untuk tetap perduli pada kehidupan meditatif-refleksif-heroik lewat sajak-sajak penuh makna yang pernah kita miliki di Nusantara. Continue reading ““Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil”