Puisi Kontemporer, Antara Amir dan Chairil

Tjahjono Widijanto *
Republika, 13 Apr 2008

Seperti halnya sejarah, sastra juga mengenal mitos. Mitos dalam sastra ibaratnya perambah jalan sekaligus memberikan ruang kosong bagi generasi selanjutnya. Sebaliknya, seorang kreator, apapun genre yang dimasukinya tidak dapat melepaskan dirinya sebebas-bebasnya dari jejak-jejak pendahulunya yang ikut menyediakan jalan untuk dilaluinya. Continue reading “Puisi Kontemporer, Antara Amir dan Chairil”

Di Manakah Rumah Chairil Anwar di Medan

Damiri Mahmud *
Kompas, 26 Juli 2009

Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Masa kecilnya sehingga dia dewasa dihabiskannya di Medan. Baru pada tahun 1941, atau menurut Keith Foulcher malah tahun 1942, dia pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, seorang pamong praja Belanda. Ini berarti sebagian besar masa hidupnya dihabiskan Chairil di Medan. Continue reading “Di Manakah Rumah Chairil Anwar di Medan”

Hari Puisi Indonesia, Mengenang Binatang Jalang

Musa Ismail *
Riau Pos, 4 Agu 2013

PADA suatu ketika, Chairil Anwar pernah berkata kepada isterinya, mengenai cita-citanya. ‘’Gajah, kalau umurku panjang aku akan jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,’’ katanya. (Panggilan kesayangan terhadap isterinya (Hapsah Wiriaredja) adalah Gajah karena badannya gemuk).
‘’Ah, kalau umurmu panjang, kamu bakal masuk penjara,’’ gurau isterinya. Kemudian, Chairil melanjutkan lagi. Continue reading “Hari Puisi Indonesia, Mengenang Binatang Jalang”