Tag Archives: Chavchay Syaifullah

KEPERCAYAAN RAKYAT MASIH PINGSAN *

Chavchay Syaifullah
http://www.leadership-park.com/

Apakah setiap kita menjadi naif, bila sebentar-sebentar bertanya: di mana peran negara ketika masyarakat kita saat ini masih saja jumpalitan seperti cacing tanah tersulut api mengatasi kesulitan hidupnya sendiri-sendiri?

Dalam perjalanan 65 tahun kemerdekaan RI ini, siapa pun akan mudah menemukan potret kemiskinan.

Sastra Menyimpang di Taman Eden

Chavchay Syaifullah
_Media Indonesia, 6 Nov 2005

Muhidin M Dahlan kembali menunjukkan jalur kepengarangannya dengan novel Adam Hawa. Stamina menulisnya masih tetap terjaga, seperti cara berbahasanya yang tetap lugas dan mencekau bahasa prosa-puitis. Saya menduga novel ini kelak impresif bagi pembacanya karena sanggup ‘menuntaskan’cerita-cerita yang indah terbayangkan.

Pelajar SMP Luncurkan Novel Setebal 660 Halaman

Chavchay Syaifullah
Media Indonesia, 20 Feb 2007

MENULIS adalah perang. Membaca adalah senjatanya. Begitulah moto yang terpatri dalam proses kreatif Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, 14, saat membuat novel setebal 660 halaman dengan judul Misteri Pedang Skinheald II: Awal Petualangan Besar, yang diluncurkan di Bataviase Nouvellese Cafe Galeri, Jakarta, Sabtu (17/2).

Sebagai penulis muda, Ataka mampu menciptakan fantasi-fantasi luar biasa. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa yang dimunculkan dalam kisah petualangannya itu.

Seni Dongeng: Menghibur Sambil Tanamkan Akhlak Luhur

Chavchay Syaifullah
http://cabiklunik.blogspot.com/

SENI dongeng masih hidup di tengah masyarakat. Namun, gaungnya mulai memudar. Segenap kalangan seniman pun mulai kurang berminat. Barangkali, seni bertutur ini dianggap hanya berkaitan dengan dunia anak-anak. Seni warisan nenek moyang itu dinilai tak begitu menjanjikan secara finansial.

Sendiri Memutari Tanah Air Mata

: Selamat Ulang Tahun, Presiden Penyair
Chavchay Syaifullah
Media Indonesia, 24 Juni 2007

PADA 1974, beberapa hari sebelun berangkat ke Iowa City, Amerika Serikat, penyair Sutardji Calzoum Bachri tampil membacakan puisi-puisinya di Gedung Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Di situlah, ketika botol-botol bir bersatu dengan aksi deklamasi puisi, saat Sutardji berguling-gulingan tanpa baju, ia berteriak pertama kalinya: