Lelaki yang Selalu Memancing di Atas Batu

Cucuk Espe *
Radar Surabaya, 14/10/2012

Aku temukan dia. Lelaki itu. Dia masih tetap duduk di atas batu besar yang menjorok ke sungai. Gagang pancing warna hitam terjepit di sela retakan bebatu. Tepat di depannya. Keduanya tidak bergerak meski terik terasa membelah ubun-ubun. Arus sungai yang tenang memang menjadi kesukaan ikan air tawar. Namun, sejak aku mengetahui lelaki itu memancing, belum satu pun ikan yang di dapat. Entah mengapa, dia tetap setia memancing, duduk bersila di atas batu. Ini adalah pemandangan yang ganjil. Ya, menurut kebanyakan orang –termasuk aku– lelaki itu menyuguhkan keganjilan yang sulit dimengerti. Continue reading “Lelaki yang Selalu Memancing di Atas Batu”

JENGGOT KYAI MADENUN

Cucuk Espe
Harian SURYA Juni 2009 (ketika masih memiliki Rubrik Budaya)

Udara masih terasa basah. Semalam hujan turun tanpa ampun. Di luar matahari masih bermalas-malasan sembunyi di balik awan. Ketika itu, Kyai Madenun sedang berpikir keras di depan cermin dalam kamar. Berulang kali dia mengernyitkan dahi. Ada setumpuk persoalan berat yang hinggap di pikiran. Kopyahnya agak miring menutupi separo kening. Continue reading “JENGGOT KYAI MADENUN”

Teater (Kita) Miskin

Cucuk Espe
Lampung Post, 6 Agus 2011

SEBENARNYA gagasan teater “miskin” bukan hal baru dan pernah melanda Indonesia di tahun 1980-an. Kemiskinan dalam teater pun mengalami ragam makna sehingga menimbulkan implikasi yang berbeda dalam kerja kreatif. Kini wacana teater miskin kembali muncul, apa sebenarnya makna “miskin” di era modern ini? Continue reading “Teater (Kita) Miskin”