Tag Archives: Daisy Priyanti

25 Tahun FFB Sejumlah Penyair Membacakan Puisi Film

Daisy Priyanti
http://www.suarakarya-online.com/

Sebuah panggung sepi mengumandangkan puisi “Masih Bayangan” karya sutradara senior Nobertus Riantiarno di Gedung Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung, pekan lalu. Sekitar seratus penonton langsung hening menyimak suara lantang Ketua STSI Bandung Endang Caturwati yang berdiri sendirian di atas pentas untuk memperingati 25 tahun Festival Film Bandung (FFB) itu.

Bidadariku

Daisy Priyanti
http://www.suarakarya-online.com/

Semenjak kematian ibu dan ayah, aku hanya hidup berdua dengan Ri. Dua adik perempuanku yang lain, Lily dan Nan, ikut tewas dalam kecelakaan itu. Kalau saja Senin pagi itu aku tidak menghadiri pemakaman kakek, tentu tubuhku akan hancur terbakar pula seperti mereka.

Mengenang Lan Fang Lewat Festival Lan Fang

Daisy Priyanti
http://www.suarakarya-online.com/

Ternyata banyak pecinta sastra di negeri ini mengaku sangat kehalangan dengan meningalnya Lan Fang. Hal itu sedkitnya tergambar di wajah dr Ananto Sidohutomo, yang setelah Lan Fang meninggal 25 Desember 2011 lalu ia terus mengaku sangat kehilangan.

Bibir Merah

Daisy Priyanti
http://www.suarakarya-online.com/

Bibir yang merah basah dan setengah terbuka memintaku menciumnya. “Ciumlah aku sepuasmu. Pagut aku semaumu. Jangan lepaskan!”

Aku tidak mengenalnya. Aku tidak mengetahuinya dari mana ia datang atau apa sebabnya dia menghampiriku tiba-tiba begitu dan langsung saja meminta aku memagutnya, menciumnya, dan tidak melepaskannya.