Tag Archives: Damhuri Muhammad

Bila Politik Bertopeng, Sastra Menyingkapkannya

Damhuri Muhammad
Kompas, 31/08/14

Akibat sebuah kecerobohan, seorang ahli kimia molekuler mengalami kecelakaan di laboratoriumnya. Dalam sebuah eksperimen, wajahnya terbakar. Ia mengalami luka-luka keloid, hingga seluruh jaringan kulit mukanya rusak, bopeng, remuk tak berbentuk. Sejak itu, ia menjadi anonim, tak bisa dikenali lagi, terkucil, bahkan dikhianati oleh orang yang dicintainya–istrinya berselingkuh, tak bisa lagi bersetia pada suami tak bermuka.

Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

Damhuri Muhammad
Kompas, 30 Maret 2014

Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagi EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia.

Di Ladang Kekalahan, Kekalahan Itu Ditambatkan

Damhuri Muhammad *
Suara Karya, 13 Juni 2009

“IA MALU karena sudah menjadi orang ladang,” begitu dalil yang saya dengar setelah saya bersusah-payah mencari musabab dari tabiat ganjil sahabat saya semasa bersekolah di kampung dulu. Ia selalu beralibi untuk menghindar dari saya. Padahal, setelah sekian lama kami tak berjumpa, setelah saya beranak-pinak di tanah rantau, saya sangat merindukan pertemuan itu.

Agar Pram Tak Jadi Berhala

Damhuri Muhammad
Media Indonesia, 20 Nov 2006

Sudah jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu.

Dari Luka, Prosa Bermula…

Rinai Kabut Singgalang Karya Muhammad Subhan
Damhuri Muhammad
Harian Haluan, 16 Jan 2011

Bagi saya, penyebab mula-mula dari terciptanya sebuah prosa adalah luka. Meskipun jarang dibincang, di dunia kepengarangan, luka telah menjadi semacam “rukun setengah-wajib” yang mesti dipenuhi oleh setiap pengarang sebelum mendedahkan sebuah karya.