Posted by PuJa on May 20, 2012
Damhuri Muhammad * Kompas, 15 Maret 2009 SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah. Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitu pun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 27, 2012
Damhuri Muhammad* Padang Ekspres, 01 Mar 2009 SEPINTAS lalu mungkin sukar memetakan hubungan antara puisi dan pasar. Sebab, pasar yang dimaksud di sini tidak dalam artian tempat puisi bisa diperjualbelikan—seperti toko buku, peristiwa-peristiwa pameran, bazar-bazar dan sejenisnya—melainkan pasar yang sesungguhnya, tempat para pedagang meneriakkan nama dan harga barang dagangan masing-masing, berikut dengan segala bujuk-rayu dan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on February 28, 2012
Damhuri Muhammad Kompas, 19 Feb 2012 SEORANG pengamat sastra menuding warna lokal sebagai perhatian utama prosa yang muncul beberapa tahun belakangan ini, tak lebih dari sekadar kerja ornamentasi dengan memancangkan diktum dan peribahasa khas etnik tertentu dalam teks, hingga sebuah prosa memerlukan sederetan catatan kaki guna menjelaskan maksudnya.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 30, 2011
Damhuri Muhammad* Kompas, 4 April 2009 SEORANG kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab. Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 21, 2011
Damhuri Muhammad* Pikiran Rakyat, 17 Mei 2009 SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair masyhur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A. Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of art for the sake of art is a clever [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 30, 2011
Damhuri Muhammad http://cetak.kompas.com/ Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 16, 2011
Damhuri Muhammad* Pikiran Rakyat, 23 Juni 2007 SEJAK akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu. Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on September 10, 2011
Damhuri Muhammad* Kompas, 16 Feb 2008 FASE awal pertumbuhan tradisi filsafat Islam dilatarbelakangi oleh interaksi dua kebudayaan besar, yaitu tradisi semitik dan tradisi hellenistik. Persinggungan itu dijembatani oleh penerjemahan filsafat Yunani kuno ke dalam bahasa Arab pada masa khalifah Al-Ma’mun (813-823) di Baghdad.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on July 25, 2011
Damhuri Muhammad* Pikiran Rakyat, 24 Juli 2011 Secara fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa di rahim ibu. Ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari dikuburkan? Bila menginginkan watak luhur yang [...]
Filed under: Esai