Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus

Yohanes Sehandi *
yohanessehandi.blogspot.co.id

Tanggal 10 November 2017 ini kita mengenang 11 tahun kepergian kritikus sastra Indonesia modern Dami N. Toda. Nama lengkapnya Damianus Ndandu Toda. Dami N. Toda meninggal dunia pada 10 November 2006 di Leezen, Hamburg, Jerman pada usia 64 tahun. Lahir pada 29 September 1942 di Cewang, Todo-Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Abu jenazahnya dibawa ke Indonesia pada Oktober 2007, dengan rute perjalanan Jerman-Jakarta-Kupang-Manggarai terus ke Todo-Pongkor tempat peristirahatannya yang abadi. Continue reading “Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus”

W. S. Rendra dan Dami N. Toda dalam Kenangan

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende) 5-7 Agus 2010

W. S. Rendra dan Dami N. Toda adalah tokoh besar dalam sastra Indonesia modern. Rendra adalah sastrawan besar dengan spesifikasi menonjol sebagai penyair dan dramawan, sedangkan Dami N. Toda adalah sastrawan besar dengan spesifikasi menonjol sebagai kritikus sastra. Selain dikenal luas sebagai sastrawan Indonesia, Dami N. Toda adalah juga sastrawan NTT, kelahiran Desa Todo-Pongkor, Kabupaten Manggarai, Flore, NTT pada 29 September 1942. Continue reading “W. S. Rendra dan Dami N. Toda dalam Kenangan”

HAMBA KEBUDAYAAN DAMI N. TODA *

Yohanes Sehandi **
Majalah Mutiara (Jakarta) edisi Nomor 347, 22 Mei–4 Juni 1985

DALAM dunia kritik sastra Indonesia modern, nama Dami N. Toda termasuk kritikus sastra Indonesia yang diperhitungkan setelah nama kritikus besar Indonesia, H.B. Jassin, mulai meredup pengaruhnya. Di samping nama Dami N. Toda, ada kritikus sastra Indonesia lain yang juga berbobot, antara lain Umar Junus, Hary Aveling, A. Teeuw, dan Jakob Sumardjo. Continue reading “HAMBA KEBUDAYAAN DAMI N. TODA *”

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi

Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, “pasti pidatonya mbeneh, bukan awut-awutan,” nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak mendapati penghargaan, cuntel keilmuan? Continue reading “Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*”