Merayakan Lirisisme, Merayakan Ke-Mangkutak-an

Deddy Arsya
Riau Pos, 2 Januari 2011

SAYAakan mencoba memasuki buku kumpulan sajak Rusli Marzuki Saria (RMS), Mangkutak di Negeri Prosaliris, melalui lubang dalam diri Mangkutak Alam, tokoh dalam kaba, anak bujang Raja Babandiang. Usaha saya ini tentu hanya melihat dari satu sudut yang sempit saja, dan tak akan bisa merangkul semua sajak yang segerobak itu. Continue reading “Merayakan Lirisisme, Merayakan Ke-Mangkutak-an”

Lagu Jenaka Minangkabau

Deddy Arsya *
Padang Ekspres, 28 Des 2008

WISRAN Hadi dalam sebuah tulisan menyimpulkan, ada beberapa ciri atau karakteristik jenaka yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Minangkabau. Jenaka Minangkabau tidak mengeksploitir atau mengeritik kekurangan yang ada pada tubuh pribadi-pribadi; menekankan pada “permainan” kata dan makna; tidak bertendensi untuk memperbodoh-bodohkan seseorang; kritik terhadap sesuatu keadaan, kondisi, perlakuan dan luahan perasaan dari ketertekanan, ketakutan dan kemualan yang terjadi di sekeliling kehidupannya. Continue reading “Lagu Jenaka Minangkabau”

Korupsi Dalam Novel-novel Indonesia

Deddy Arsya *
padangekspres.co.id

AA Navis pernah ingin jadi menteri. Entah, entah ingin jadi menteri apa. Setidak-tidaknya ia pernah bercita-cita. Andai ia diberi pilihan antara sebagai alat kekuasaan, menulis, dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Kenapa? Katanya, ia mau menyikat semua koruptor. Navis pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi. Continue reading “Korupsi Dalam Novel-novel Indonesia”