Tag Archives: Delvi Yandra

Mengurai Kusut Masai Gairah Membaca

Delvi Yandra
http://padangekspres.co.id/

”Seseorang yang tidak mau membaca tidak akan mempunyai peluang mengatasi seseorang yang tidak mampu membaca” (Mark Twain – Pengarang Amerika)

Pendidikan, kata Nelson Mandela adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Dengan kata lain, pendidikan dapat menjadi alat yang sangat berdaya sehingga mampu mengubah nasib kita yang kusut masai. Masalahnya minat baca dan lebih naasnya lagi, minat menulis kita sangat rendah.

Tembakan

Aleksandr Pushkin (1799 – 1837)
diterjemahkan: Delvi Yandra
http://www.riaupos.co/

Ketika muda, aku adalah seorang tentara di angkatan darat. Kami tinggal di sebuah kota kecil. Hidup sungguh terasa membosankan. Tidak ada gadis-gadis. Hanya tentara yang saling bertemu setiap hari. Kami makan malam bersama, mabuk bersama dan bermain kartu bersama.

Tolstoy dan Refleksi Ketuhanan

Delvi Yandra
Riau Pos, 23 Okt 2011

“Ketika sastra memiliki seorang Tolstoy, menjadi penulis itu mudah dan menyenangkan; bahkan bila kita tahu bahwa kita sendiri tidak mencapai hasil apa-apa, itu tidak menjadi masalah karena Tolstoy yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam sastra.” (Anton Chekhov)

Citraan Realisme Magis

Delvi Yandra
Riau Pos, 11 Des 2011

Pada suatu masa, di kota Kahani, di negeri Alifbay, ada seorang anak lelaki bernama Luka yang memiliki dua hewan piaraan… (hal. 9)

SEPERTI laiknya dongeng, pada permulaan novel Luka dan Api Kehidupan ceritanya kerap dimulai dengan “pada suatu hari”, “pada suatu ketika” atau “pada suatu masa”. Tetapi esensi dari novel ini bagi Salman Rushdie lebih dari sekadar perayaan terhadap dongeng. Dia sungguh piawai meracik peristiwa beserta unsur-unsur fantasi, mitologi, permainan kata dan simbolisme ke dalam rajutan kisah yang menarik, cerdas, seru dan jenaka.

Santiago Bertarung dengan Ikan

Delvi Yandra
Riau Pos, 7 Agus 2011

“Ikan,” katanya, “aku mencintaimu dan sangat menghormatimu. Tapi aku akan membunuhmu sebelum hari ini berakhir.” (Lelaki Tua dan Laut :60)

Demikian yang dikatakan Santiago, si lelaki tua yang mengarungi laut lepas untuk menangkap ikan marlin raksasa. Nelayan tua Kuba tersebut berlayar seorang diri setelah sebelumnya ditawari oleh seorang anak yang sangat ingin ikut berlayar bersamanya.