Tag Archives: Desi Sommalia Gustina

Membincangkan Cinta dalam Karya Sastra

Desi Sommalia Gustina *
Riau Pos, 25 Agu 2013

CINTA merupakan sebuah persoalan yang acap mengisi takdir kehidupan manusia. Karena itulah barangkali pembicaraan mengenai cinta menjadi topik yang kerap menggoda. Begitupun dalam karya sastra, membincangkan masalah cinta laksana tema yang tak pernah usang. Baik ketika membaca karya yang ditulis di masa lalu, maupun yang terbaru. Hal ini tentu tidaklah mengherankan, karena persoalan cinta merupakan hal yang sangat universal. Di mana setiap makhluk hidup dapat merasakannya.

Menyulam Luka Jadi Cerita: ‘Tunggu Aku di Sungai Duku’ Karya Hary B Kori’un

Desi Sommalia Gustina *
Riau Pos, 14 Juli 2013

DANARTO bilang sastra sebenarnya alat untuk menerima dan memberikan pencerahan. Pernyataan ini tidaklah mengada, karena pada hakekatnya karya sastra merupakan cermin dari realitas kehidupan masyarakat. Banyak pengarang menulis karya sastra beranjak dari realitas yang ada di sekitarnya.

Membincangkan Kritik Puisi Apresiatif

Desi Sommalia Gustina *
Riau Pos, 28 April 2013

TAK sedikit kalangan beranggapan bahwa memahami puisi merupakan suatu hal yang sulit, terlebihlagi jika harus bertindak sebagai ‘kritikus’. Namun, Maman S Mahayana bilang, setiap pembaca karya sastra, pada dasarnya dapat bertindak sebagai ‘kritikus’ jika ia menuliskan tanggapan terhadapnya.

MELAWAN AROGANSI MEDIA DAN AKSI PLAGIASI

KRITIK ATAS RALAT STORY TERHADAP CERPEN KASIH IBU
Desi Sommalia Gustina *
harianhaluan.com, 27 Maret 2011

Pemberitahuan: Setelah melakukan penelusuran berdasar­kan informasi yang masuk, cerpen Kasih Ibu yang ditulis Prisa Adinda dan dimuat dalam rubrik Cerpen Seleb Story edisi 17, 25 Desember 2010, ternyata memiliki banyak kesamaan dengan cerpen Hati Ibu milik sdri Desi Sommalia.

Berbincang Licentia Poetica dalam Tempurung Tengkurap

Desi Sommalia Gustina
Riau Pos, 5 Feb 2012

KITA tahu, setiap penyair memiliki lecentia poetica dalam penulisan puisi yaitu kebebasan memilih cara dan daya ungkap puisi. Untuk totalitas ekspresi terkadang penyair melakukan pelanggaran kaidah bahasa dengan tujuan mengungkapkan secara memikat dan dapat menghasilkan totalitas pengungkapan. Licentia poetica oleh Shaw (1972:291) dikatakan sebagai kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki.