PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (3)

: Kontribusi Pendidikan Humaniora

Djoko Saryono *

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, kepribadian insan cendekia (sekaligus rasional, spiritual, dan imajinatif) berpihak kepada kemanusiaan; kebebasan dan kelangsungan hidup manusia. Untuk bisa membela dan menjaga kemanusiaan atau kelangsungan hidup manusia secara berke-lanjutan diperlukan – pertama-tama – ketajaman pikiran, kejernihan akal-budi, kecermatan nalar, kedalaman hati nurani, kepekaan rasa, dan keindahan angan-angan manusia; dan kemudian – kedua – pengetahuan (ilmu) yang mampu mengasah rasa kemanusiaan dan pemikiran kita. Continue reading “PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (3)”

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (1)

Djoko Saryono *

Prolog:

Sekarang kita sedang memperingati Hari Pendidikan Nasional (2 Mei 2021) pada tahun kedua pandemi Covid-19. Selama dua tahun pandemi kita dihadapkan pada kelebatan-kelebatan perubahan wajah pendidikan kita baik karena kebijakan-kebijakan pemerintah maupun tekanan-tekanan atau tantangan-tantangan tak terelakkan dari berbagai penjuru. Tak ayal, dalam dua tahun terakhir kita berhadapan dengan kelebat pelbagai jargon, terminologi atau linguistik, bahkan gelagat gerak-gerik atau gimik (gimmick) yang “dipahami atau dikesankan” sebagai adanya transformasi substansial pendidikan Indonesia kita. Continue reading “PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TERCERAHKAN MELALUI PENDIDIKAN HUMANIORA (1)”

PENGARANG PEREMPUAN INDONESIA (2)

: Keberadaan Cerpenis dalam Sistem Pengarang
Djoko Saryono *

Berdasarkan genre (bentuk) sastra yang pada zaman sekarang umumnya dipilah atau diklasifikasikan menjadi genre puisi, fiksi dan lakon drama (sastra dramatik), maka pengarang sastra pun dapat dipilah atau diklasifikasikan men-jadi pengarang puisi (atau penyair), pengarang fiksi dan pengarang lakon dra-ma (sastra dramatik). Pengarang puisi atau penyair adalah orang yang menulis puisi atau berprofesi sebagai penulis puisi; pengarang fiksi adalah orang yang menulis fiksi atau berprofesi sebagai penulis fiksi; dan pengarang lakon drama adalah orang yang menulis lakon drama atau berprofesi sebagai penulis lakon drama. Continue reading “PENGARANG PEREMPUAN INDONESIA (2)”

PENGARANG PEREMPUAN INDONESIA (1)

Djoko Saryono *

Embrio sastra Indonesia sudah tampak jelas pada paruh kedua Abad XIX. Bisa dikatakan bahwa pada akhir Abad XIX sudah publikasi karya sastra berupa cerpen, roman [novel], dan puisi yang bercitra dan bersemangat Indonesia atau minimal bisa diidentifikasi telah membayangkan keindonesiaan. Sebagai contoh, semenjak 1870-an sudah dipublikasikan cerpen Indonesia di beberapa media massa sebagaimana dapat diperiksa dalam buku Nona Koelit Koetjing: Antologi Cerita Pendek Periode Awal [1870-an–1910-an] yang dihimpun dan diterbitkan oleh Pusat Bahasa (2005). Continue reading “PENGARANG PEREMPUAN INDONESIA (1)”