Membayangkan Bedah Buku MMKI di PDS H.B. Jassin

Nurel Javissyarqi *

Saya tak menyangka kalau buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” bakal dibedah di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Jangan-jangan ini lamunan saja, karena kebetulan tengah baca ulang buku susunannya ‘Paus Sastra Indonesia’ yang bertitel “Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi,” Grafiti 1995, tentunya lagi berseberangan. Bayangan ini menjulur pada peristiwa lampau “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta,” karena lupa tanggal bulan tahun kejadiannya, saya telusuri di google, dimulai Jam 20.00 tanggal 28 Mei 2003 di Auditorium IAIN SuKa (UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta. Continue reading “Membayangkan Bedah Buku MMKI di PDS H.B. Jassin”

Cincin untuk Langit: Puisi Eka Budianta untuk Tanah Kelahiran

Anita Dhewy
Jurnalperempuan.org 22/8/2015

Minggu (16/08) bertempat di Galeri Cemara 6, Jakarta, penyair Eka Budianta meluncurkan kumpulan puisinya yang berjudul Cincin untuk Langit. Kumpulan puisi yang dimaksudkan sebagai persembahan pribadi untuk ikut merayakan 70 tahun terbangunnya Republik Indonesia ini banyak bertutur tentang desa kelahirannya, Ngimbang, yang terletak di Lamongan, Jawa Timur. Continue reading “Cincin untuk Langit: Puisi Eka Budianta untuk Tanah Kelahiran”

Tesaurus Kehidupan

Eka Budianta *
Kompas, 28 Mei 2016

Kata benda apa yang paling anda sukai kalau nanti berumur 100 tahun? Herawati Diah yang baru merayakan ulang tahun ke-99 berbisik kepada saya, ”Art.” Baginya tidak ada kata benda yang lebih penting dari seni. Bukan uang, bukan rumah, bukan mobil, melainkan art. Mengapa? Tentu ada penjelasan psiko-analisisnya. Continue reading “Tesaurus Kehidupan”