Catatan Temu Sastra MPU V Siasat Sastra di Pusar Arus Global

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejalan de?ngan Maria Vargas Llosa, penulis kelahiran Peru yang menggondol Hadiah Nobel Sastra 2010, bagaimanapun, sastrawan membutuhkan kiat khusus untuk karyanya di tengah arus global.

Eksplorasi mulai dari tema adat istiadat, fenomena ?keluarga? hingga teknik bercerita yang unik, sangat dibutuhkan. Selain itu, kendati sudah merancang teknik canggih, dari berbahasa, struktur hingga alur sekali pun, karya sastra tetap membutuhkan energi sosio-politik lokal. Continue reading “Catatan Temu Sastra MPU V Siasat Sastra di Pusar Arus Global”

VISI DAN MISI KESUSASTRAAN INDONESIA MEMASUKI ABAD XXI*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pembicaraan mengenai visi dan misi kesusastraan Indonesia, tentu saja kaitannya menyangkut prospek kesusastraan kita dan tugas yang diembannya di masa mendatang. Bagaimanakah kehidupan kesusastraan Indonesia abad ke-21? Apakah ia kembali akan terperangkap pada isu-isu kontemporer atau klise? Apakah persoalannya berskala lokal, regional atau global? Masihkah kesusastraan Indonesia berkutat, berjalan di tempat atau mengalami lompatan yang mengagumkan? Continue reading “VISI DAN MISI KESUSASTRAAN INDONESIA MEMASUKI ABAD XXI*”

Mengabadikan yang Tak Ada di Jawa

Sjifa Amori
http://www.jurnalnasional.com/

Keseniannya terpelihara kalau ada pengakuan. Tapi yang utama adalah eksistensi daerah terlebih dulu.

Karena perjalanan sejarah yang panjang, Madura sudah terlanjur tidak dilihat sebagai entitas yang berdiri sendiri. Dilihat hanya sebagai distrik kecil dari suatu daerah di Jawa yang jadi pusat pemerintahan. Padahal, seperti yang dikemukakan sastrawan Jamal D Rahman, Madura adalah sebuah pulau sendiri yang memiliki selatnya sendiri, kebudayaan sendiri, bahasa sendiri, dan keseniannya sendiri. Continue reading “Mengabadikan yang Tak Ada di Jawa”

Pembelajaran Sastra Butuh Mak Erot

Anjrah Lelono Broto*)
http://edukasi.kompasiana.com/

Apabila pelajar SMA di Amerika Serikat telah membaca 32 judul buku selama tiga tahun masa pendidikannya, di Jepang dan Swiss 15 buku, sedangkan pelajar SMA di Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam telah membaca 5 ? 7 judul buku sastra, bagaimana dengan pelajar SMA di Indonesia? Survey sederhana yang dilakukan Taufiq Ismail menunjukkan bahwa pasca era Algemeene Middelbare School (AMS), pendidikan lanjutan tingkat atas di masa penjajahan Belanda, pelajar SMA di Indonesia telah membaca 0 ? 2 judul buku sastra saja. Padahal, pada era AMS tersebut, selama menempuh pendidikan pelajar diwajibkan untuk membaca 15 ? 25 judul buku sastra. Continue reading “Pembelajaran Sastra Butuh Mak Erot”

Fenomena Sastra Indonesia Mutakhir: Komunitas dan Media

karya Nanang Suryadi
diposting oleh Meli Indie pada:
http://media.kompasiana.com/

Komunitas Sastra

Meneropong sastra Indonesia mutakhir, tidak cukup hanya berbicara perkembangan satu dua tahun terakhir. Walaupun mungkin selama setahun dua tahun terakhir ada suatu perkembangan hebat yang terjadi. Fenomena komunitas sastra, misalnya, sebenarnya bukan merupakan hal yang baru di jagad sastra Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun lalu Komunitas Sastra Indonesia sudah mengidentifikasi berbagai komunitas sastra (seni dan budaya) yang ada di tanah air. Komunitas Sastra Indonesia memberikan definisi komunitas sastra sebagai: Continue reading “Fenomena Sastra Indonesia Mutakhir: Komunitas dan Media”