Belajar dari Komunitas Sastra Dunia

Iwan Gunadi
http://www.lampungpost.com/

JANGAN pernah memastikan bahwa kehadiran komunitas sastra di Indonesia yang marak sejak 1980-an merupakan suatu fenomena yang khas di dunia. Di belahan dunia lain, hal yang sama juga terjadi.

Meski aktivitas kreatif dalam kesenian, termasuk kesusastraan, umumnya masih dilakukan secara individual alias soliter, sebagai makhluk sosial, pelakunya, yakni seniman atau pekerja seni, termasuk sastrawan atau pekerja sastra; tetap butuh bersosialisasi dalam kelompok yang memiliki kesamaan cita-cita. Continue reading “Belajar dari Komunitas Sastra Dunia”

Soeharto dan Fenomena Politik Kebudayaan

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Sastrawan Sobron Aidit bertemu dengan Ramadhan KH – keduanya telah mendiang – dalam peluncuran buku karya Sobron. Keduanya terlihat sempat berpelukan, segala catatan sejarah kebudayaan termasuk sastra seakan telah pupus dengan keakraban keduanya.

Sekalipun sastrawan Martin Aleida yang semasa mudanya sempat ikut sebagai salah satu sastrawan anggota Lekra, mengatakan di kemudian hari bahwa islah bisa terjadi, tapi penegakan HAM tetap harus dilakukan. Banyak juga keluhan atas ketidakadilan termasuk soal eksistensi berkarya pada masa lalu, yang dibocorkan pada masa pra-reformasi. Continue reading “Soeharto dan Fenomena Politik Kebudayaan”

Erotisme Seni untuk Apa?

Maria Magdalena Bhoenomo
http://www.suarakarya-online.com/

Pertanyaan bernada gugatan seperti judul tulisan ini, mungkin bisa digeneralisasikan. Misalnya, erotisme sastra untuk apa? Dan jika pertanyaan ini disederhanakan lagi, mungkin terkesan tolol: untuk apa erotisme? Dan, ada pertanyaan yang lebih tolol lagi: untuk apa meributkan erotisme?

Demikianlah, masalah erotisme selalu mengemuka dalam karya sastra dan karya seni lainnya (seni rupa, tari, lagu, teater) sehingga memancing tanda tanya dan perdebatan yang biasanya berujung pada terbentuknya sikap ‘demokratis’ manakala semua pihak harus menghormati selera dan pendapat masing-masing. Continue reading “Erotisme Seni untuk Apa?”

Catatan Temu Sastra MPU V Siasat Sastra di Pusar Arus Global

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejalan de?ngan Maria Vargas Llosa, penulis kelahiran Peru yang menggondol Hadiah Nobel Sastra 2010, bagaimanapun, sastrawan membutuhkan kiat khusus untuk karyanya di tengah arus global.

Eksplorasi mulai dari tema adat istiadat, fenomena ?keluarga? hingga teknik bercerita yang unik, sangat dibutuhkan. Selain itu, kendati sudah merancang teknik canggih, dari berbahasa, struktur hingga alur sekali pun, karya sastra tetap membutuhkan energi sosio-politik lokal. Continue reading “Catatan Temu Sastra MPU V Siasat Sastra di Pusar Arus Global”

VISI DAN MISI KESUSASTRAAN INDONESIA MEMASUKI ABAD XXI*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pembicaraan mengenai visi dan misi kesusastraan Indonesia, tentu saja kaitannya menyangkut prospek kesusastraan kita dan tugas yang diembannya di masa mendatang. Bagaimanakah kehidupan kesusastraan Indonesia abad ke-21? Apakah ia kembali akan terperangkap pada isu-isu kontemporer atau klise? Apakah persoalannya berskala lokal, regional atau global? Masihkah kesusastraan Indonesia berkutat, berjalan di tempat atau mengalami lompatan yang mengagumkan? Continue reading “VISI DAN MISI KESUSASTRAAN INDONESIA MEMASUKI ABAD XXI*”